Saat anak bercerita tentang masalah, naluri orang tua sering ingin segera memberi solusi. Niatnya baik, tetapi nasihat yang datang terlalu cepat dapat membuat anak merasa belum dipahami. Mendengarkan bukan berarti membiarkan masalah tanpa arah. Ini adalah tahap untuk memahami pengalaman anak, mengenali kebutuhannya, dan menentukan apakah ia ingin ditemani, dibantu, atau diberi saran.
Tahan dorongan untuk langsung memperbaiki
Ketika anak berkata temannya tidak mengajaknya bermain, hindari langsung menjawab, “Cari teman lain saja.” Kalimat itu mungkin masuk akal, tetapi belum menjawab rasa kecewa yang sedang dialami anak.
Coba mulai dengan mengakui isi ceritanya: “Kamu berharap bisa bermain bersama, tetapi tadi tidak diajak.” Validasi tidak berarti orang tua harus menyetujui semua kesimpulan anak. Artinya, perasaan dan pengalaman anak diperhatikan sebelum orang tua memberi penilaian.
Gunakan mendengar aktif yang sederhana
Arahkan perhatian pada anak, kurangi gangguan, dan jangan menyela untuk menceritakan pengalaman orang tua sendiri. Ulangi inti cerita dengan kata-kata sendiri agar anak dapat mengoreksi bila ada bagian yang keliru.
Pertanyaan terbuka seperti “Bagian mana yang paling membuatmu kesal?” dapat membantu anak menjelaskan. Hindari menanyakan banyak detail sekaligus, terutama jika anak masih emosional. Beri jeda dan terima bila ia belum siap melanjutkan. Sebagai rujukan lanjutan, baca konsep serve and return dari Harvard Center on the Developing Child.
Tanyakan jenis bantuan yang diinginkan
Setelah anak merasa didengar, tanyakan, “Kamu ingin Ayah/Bunda mendengarkan dulu, menemani memikirkan pilihan, atau membantu bicara dengan seseorang?” Pilihan ini mengajari anak mengenali kebutuhannya dan berpartisipasi dalam pemecahan masalah.
Untuk situasi yang menyangkut keselamatan, kekerasan, perundungan, atau risiko kesehatan, orang tua tetap perlu bertindak meskipun anak hanya ingin didengarkan. Jelaskan langkah yang akan diambil dan libatkan anak sesuai usia, tanpa membebankan tanggung jawab penyelesaian kepadanya. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke mendengarkan anak agar berani bercerita.
Berikan nasihat setelah mendapat izin dan konteks
Jika anak meminta saran, tawarkan beberapa pilihan yang masuk akal beserta kemungkinan akibatnya. Hindari menyampaikan satu jalan sebagai satu-satunya cara. Anak dapat belajar menimbang pilihan dengan bantuan orang dewasa.
Tidak semua percakapan harus berakhir dengan rencana. Kadang anak hanya ingin menceritakan sesuatu lalu kembali bermain. Ketika orang tua konsisten mendengarkan, anak lebih mungkin kembali mencari dukungan saat menghadapi persoalan yang lebih besar. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan pengasuhan UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Alya berkata bahwa hasil gambarnya diejek temannya. Ayah menahan komentar tentang temannya dan lebih dulu bertanya bagaimana perasaan Alya. Setelah Alya selesai bercerita, ayah bertanya apakah ia ingin mendengar beberapa cara menanggapi ejekan atau hanya ingin ditemani sebentar.
Hal yang perlu diingat
Mendengarkan sebelum menasihati membantu orang tua memahami masalah yang sebenarnya dan menjaga kepercayaan anak. Dengarkan dengan penuh perhatian, validasi perasaan, lalu sepakati bentuk bantuan. Ketika keselamatan terancam, ambil tindakan yang diperlukan sambil tetap menjelaskan proses kepada anak.









