Seorang ibu berbincang dengan anak sambil bermain balok di rumah.
Saat anak sedih atau marah, orang tua mungkin ingin segera menenangkan dengan berkata “tidak apa-apa” atau “jangan menangis”.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Menggunakan Kalimat Validasi saat Anak Sedih atau Marah

Saat anak sedih atau marah, orang tua mungkin ingin segera menenangkan dengan berkata “tidak apa-apa” atau “jangan menangis”. Kalimat itu kadang justru membuat anak merasa emosinya tidak diterima.

Saat anak sedih atau marah, orang tua mungkin ingin segera menenangkan dengan berkata “tidak apa-apa” atau “jangan menangis”. Kalimat itu kadang justru membuat anak merasa emosinya tidak diterima. Validasi membantu anak mengetahui bahwa perasaannya diperhatikan, sambil tetap memberi batas yang diperlukan terhadap perilaku yang membahayakan.

Validasi bukan berarti menyetujui semua tindakan

Orang tua dapat mengakui perasaan tanpa membenarkan perilaku yang menyakiti. Misalnya, “Kamu marah karena permainan berhenti. Marah boleh, memukul tidak boleh.” Kalimat ini mengakui pengalaman anak dan menjelaskan batas keselamatan.

Hindari melabeli anak sebagai nakal, drama, atau terlalu sensitif. Fokus pada situasi dan tindakan yang dapat diperbaiki. Perasaan tidak harus dihilangkan secepat mungkin; anak perlu belajar mengenali dan melewatinya secara bertahap.

Pilih kata-kata yang sesuai dengan pengalaman anak

Kalimat seperti “Kamu kecewa karena tidak jadi pergi, ya?” atau “Sepertinya kamu takut mencoba hal baru” dapat membantu anak menamai pengalaman. Gunakan nada ingin memahami, bukan menyatakan bahwa orang tua pasti tahu apa yang dirasakan anak.

Berikan kesempatan kepada anak untuk mengoreksi: “Apakah itu yang kamu rasakan, atau ada hal lain?” Cara ini mengajarkan bahwa anak adalah sumber utama tentang pengalaman dirinya. Orang tua membantu memberi kosakata, bukan menentukan emosi anak. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan CDC tentang pengasuhan positif sesuai usia.

Dengarkan dan beri waktu sebelum membahas solusi

Ketika emosi sedang kuat, penjelasan panjang sering tidak mudah diterima. Gunakan kalimat singkat, jaga keselamatan, dan beri waktu. Setelah anak lebih tenang, ajak membahas apa yang dapat dilakukan jika situasi serupa muncul.

Jika anak tidak ingin disentuh, hormati batasnya sambil tetap berada dekat jika ia membutuhkan. Tidak semua anak ditenangkan dengan cara yang sama. Beberapa perlu ruang, sebagian perlu ditemani, dan lainnya memerlukan bantuan untuk menyampaikan kebutuhan. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke perkembangan emosi anak usia dini cara memahami dan mendampingi perasaannya.

Latih respons yang konsisten dalam kejadian sehari-hari

Orang tua dapat menyiapkan beberapa kalimat pendek dan menggunakannya secara natural. Contohnya: “Aku dengar kamu kecewa,” “Kita cari cara setelah lebih tenang,” atau “Aku akan membantumu tetap aman.” Tidak perlu terdengar seperti menghafal naskah.

Jika orang tua salah merespons, perbaiki setelah situasi reda. Akui bahwa kalimat tadi kurang membantu dan coba lagi. Konsistensi dibangun melalui upaya berulang, bukan kesempurnaan setiap saat. Pembahasan terkait juga tersedia dalam konsep interaksi responsif orang tua-anak dari Harvard.

Contoh dalam keseharian

Ketika Lala menangis karena menara baloknya roboh, ayah tidak berkata bahwa itu hanya permainan. Ia mengatakan, “Kamu kecewa karena sudah menyusunnya lama.” Setelah Lala siap, mereka membahas apakah ingin mencoba membuat dasar yang lebih lebar.

Hal yang perlu diingat

Validasi memberi anak pengalaman bahwa perasaannya boleh hadir, tetapi setiap perilaku tetap memiliki batas. Gunakan kata yang sederhana, tanyakan apakah pemahaman orang tua tepat, dan tunggu waktu yang sesuai untuk membahas solusi. Perbaikan setelah salah merespons juga merupakan bagian dari belajar bersama.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.