Seorang ayah berbincang dengan anak di meja makan.
Ketika ditanya tentang sekolah atau harinya, sebagian anak hanya menjawab “tidak tahu”, “biasa saja”, atau mengangkat bahu.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Membuka Percakapan dengan Anak yang Selalu Menjawab “Tidak Tahu”

Ketika ditanya tentang sekolah atau harinya, sebagian anak hanya menjawab “tidak tahu”, “biasa saja”, atau mengangkat bahu. Respons singkat tidak selalu berarti anak menutup diri.

Ketika ditanya tentang sekolah atau harinya, sebagian anak hanya menjawab “tidak tahu”, “biasa saja”, atau mengangkat bahu. Respons singkat tidak selalu berarti anak menutup diri. Ia mungkin belum menemukan kata yang tepat, belum siap bercerita, atau merasa pertanyaan terlalu luas. Orang tua dapat membuka percakapan dengan cara yang lebih ringan tanpa membuat anak merasa harus memberi laporan.

Mengapa anak sulit menjawab pertanyaan terbuka

Pertanyaan seperti “Bagaimana harimu?” meminta anak mengingat banyak kejadian sekaligus, memilih bagian yang penting, lalu menjelaskannya. Keterampilan ini berkembang bertahap. Setelah seharian beraktivitas, anak juga mungkin lelah atau masih memproses pengalaman.

Jawaban “tidak tahu” dapat menjadi cara anak mengatakan bahwa ia belum tahu harus mulai dari mana. Hindari langsung menilai anak tidak mau terbuka. Cobalah pertanyaan yang lebih konkret, misalnya kegiatan apa yang paling lama dilakukan atau siapa yang duduk di dekatnya saat makan.

Mulai dari hal kecil dan spesifik

Pilih satu pertanyaan sederhana, bukan rentetan pertanyaan. Orang tua bisa bertanya, “Tadi kamu menggambar apa?” atau “Saat istirahat kamu duduk di mana?” Berikan waktu untuk berpikir; diam beberapa detik bukan tanda percakapan gagal.

Pilihan jawaban juga dapat membantu anak yang kesulitan memulai. Misalnya, “Hari ini lebih banyak bermain di luar atau di dalam kelas?” Setelah anak menjawab, ikuti bagian yang ia pilih. Jangan mengubah obrolan menjadi interogasi tentang semua hal yang terjadi. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan pengasuhan UNICEF Indonesia.

Bercerita lebih mudah ketika orang tua ikut berbagi

Orang tua dapat memberi contoh cerita singkat tentang harinya, termasuk hal biasa atau sedikit mengecewakan. Cerita yang tidak terlalu panjang menunjukkan bahwa percakapan adalah kegiatan dua arah, bukan pemeriksaan terhadap anak.

Jangan meminta anak membalas cerita dengan kadar keterbukaan yang sama. Ia boleh hanya mendengarkan. Ketika suasana sudah nyaman, mungkin ia akan menambahkan satu detail. Sikap menerima membuat anak belajar bahwa berbagi cerita tidak harus selalu menghasilkan nasihat atau evaluasi. Topik ini juga berkaitan dengan mendengarkan anak agar berani bercerita dan mendengarkan cerita anak sebagai bagian penting peran ayah.

Pilih waktu dan suasana yang tidak menekan

Sebagian anak lebih mudah berbicara saat berjalan, menggambar, menyusun balok, atau menjelang tidur daripada ketika duduk berhadapan. Aktivitas bersama dapat mengurangi tekanan kontak mata dan memberi jeda alami untuk berpikir.

Bila anak tetap tidak ingin bercerita, tutup percakapan dengan tenang: “Tidak apa-apa kalau belum ingin cerita. Ayah/Bunda siap mendengarkan nanti.” Jika keengganan berbicara muncul bersama perubahan perilaku yang menetap atau tanda anak merasa tidak aman, cari tahu dengan lembut dan pertimbangkan berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional. Pembahasan terkait juga tersedia dalam konsep interaksi responsif orang tua dan anak dari Harvard Center on the Developing Child.

Contoh dalam keseharian

Misalnya, Nara menjawab “tidak tahu” ketika ditanya tentang sekolah. Ayah tidak mengulang pertanyaan. Ia bercerita singkat bahwa tadi rapatnya cukup ramai, lalu bertanya apakah Nara lebih suka waktu membaca atau bermain saat istirahat. Nara mulai bercerita tentang buku yang dibaca bersama temannya.

Hal yang perlu diingat

Tujuan percakapan bukan mendapatkan cerita lengkap setiap hari, melainkan membangun pengalaman bahwa anak aman untuk berbagi. Pertanyaan kecil, waktu yang tepat, dan kesediaan mendengarkan dapat membuka jalan. Terima jawaban singkat tanpa mengejar, lalu biarkan hubungan menjadi tempat anak kembali ketika ia siap bercerita.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.