Anak yang sering menyela percakapan mungkin sedang bersemangat, takut idenya terlupa, belum memahami giliran bicara, atau membutuhkan perhatian. Respons yang membantu mengajarkan keterampilan komunikasi tanpa membuat anak merasa suaranya tidak penting.
Cari tahu alasan anak menyela
Amati situasinya: apakah anak menyela ketika orang tua sedang berbicara di telepon, saat ada tamu, atau ketika ia merasa ceritanya mendesak? Anak yang masih kecil mungkin belum mampu menilai kapan percakapan dapat ditunda. Anak yang lebih besar mungkin perlu cara menyampaikan kebutuhan tanpa memotong.
Jangan langsung menyimpulkan anak tidak sopan. Tanyakan apa yang ingin ia sampaikan setelah percakapan selesai. Jika ia sedang membutuhkan bantuan segera atau ada masalah keselamatan, tentu orang tua perlu merespons saat itu juga.
Ajarkan tanda dan cara menunggu giliran
Buat kode sederhana, misalnya anak menyentuh lengan orang tua dengan lembut lalu menunggu orang tua menoleh. Orang tua dapat memberi isyarat bahwa ia mendengar dan akan kembali setelah menyelesaikan satu kalimat. Untuk anak yang lebih besar, sepakati cara menyela ketika sesuatu benar-benar mendesak.
Latih bergiliran bicara saat makan atau bermain. Beri kesempatan anak menyelesaikan cerita tanpa dipotong, sehingga ia mengalami bagaimana rasanya didengarkan. Anak lebih mudah belajar aturan percakapan ketika orang dewasa juga menerapkannya. Sebagai rujukan lanjutan, baca penjelasan Harvard tentang interaksi timbal balik dengan anak.
Jangan mengabaikan kebutuhan anak
Jika anak terus menyela, mungkin ia merasa tidak pernah mendapat waktu khusus untuk berbicara. Sediakan waktu singkat untuk mendengarkan tanpa gawai atau pekerjaan lain. Ketika anak tahu akan mendapat perhatian, ia lebih mudah menerima bahwa tidak semua percakapan dapat dihentikan saat itu juga.
Hindari mempermalukan anak di depan orang lain atau menyebutnya pengganggu. Koreksi perilaku dengan tenang dan tunjukkan kalimat pengganti: “Maaf, aku ingin bertanya setelah Bunda selesai.” Topik ini juga berkaitan dengan mendengarkan anak agar berani bercerita dan mendengarkan cerita anak sebagai bagian penting peran ayah.
Perhatikan usia dan konteks sosial
Keterampilan menunggu giliran berkembang bertahap. Anak usia prasekolah membutuhkan pengingat lebih sering daripada anak yang lebih besar. Jika anak memiliki kebutuhan komunikasi atau perhatian tertentu, strategi dapat disesuaikan bersama guru atau tenaga profesional.
Fokus pada kemajuan kecil: anak mulai menggunakan kode, menunggu beberapa saat, atau mengingat kembali ceritanya setelah percakapan selesai. Tidak perlu menuntut perubahan sempurna dalam satu hari. Pembahasan terkait juga tersedia dalam materi komunikasi dalam pengasuhan UNICEF.
Contoh dalam keseharian
Saat orang tua berbicara dengan tamu, anak menyentuh lengan. Orang tua dapat menatap anak, memberi isyarat “sebentar”, lalu benar-benar kembali kepadanya setelah menyelesaikan percakapan. Konsistensi ini mengajarkan bahwa menunggu bukan berarti diabaikan.
Hal yang perlu diingat
Mengajarkan giliran bicara adalah latihan komunikasi dua arah. Berikan aturan sederhana, dengarkan anak dengan sungguh-sungguh, dan sesuaikan harapan dengan tahap perkembangannya.









