Anak dapat mengambil barang teman atau saudara karena penasaran, terburu-buru, atau belum memahami bahwa kepemilikan pribadi perlu dihormati. Kebiasaan meminta izin lebih mudah dipelajari melalui contoh dan latihan, bukan hanya teguran setelah kejadian.
Jelaskan kepemilikan dengan contoh konkret
Gunakan benda sehari-hari untuk membedakan barang pribadi, barang bersama, dan barang yang boleh dipinjam. Sampaikan bahwa melihat mainan menarik tidak otomatis berarti boleh mengambilnya. Anak perlu memahami bahwa pemilik barang berhak menjawab ya, tidak, atau menawarkan waktu lain.
Gunakan kalimat sederhana: “Itu milik Kakak. Tanya dulu sebelum mengambil.” Hindari label seperti “pencuri” atau “nakal” untuk kesalahan yang masih bisa diperbaiki. Label negatif membuat anak fokus pada rasa malu, bukan keterampilan yang perlu dipelajari.
Latih kalimat meminta izin
Berlatihlah saat suasana tenang: “Boleh aku pinjam pensilmu?” atau “Kalau sudah selesai, boleh aku pakai?” Tunjukkan juga cara menerima jawaban tidak. Anak dapat bertanya kapan barang mungkin tersedia, memilih benda lain, atau menunggu giliran tanpa memaksa.
Orang tua perlu menunjukkan perilaku yang sama. Minta izin sebelum menggunakan barang pasangan atau anak, terutama barang yang mereka anggap pribadi. Anak melihat cara orang dewasa memperlakukan kepemilikan lebih sering daripada mengingat ceramah tentang sopan santun. Sebagai rujukan lanjutan, baca materi pengasuhan UNICEF Indonesia.
Ajarkan tanggung jawab saat meminjam
Kesepakatan meminjam mencakup menjaga barang, menggunakan sesuai tujuan, dan mengembalikan ke tempat semula. Untuk anak kecil, buat aturan singkat dan bantu ia mengingat. Jika barang rusak atau hilang, ajak anak terlibat dalam memperbaiki keadaan sesuai kemampuannya.
Tidak semua barang perlu dipinjamkan. Hormati barang pribadi seperti buku harian, alat kebersihan, atau benda yang memiliki nilai emosional bagi pemiliknya. Meminta izin tidak menjamin jawaban ya; itu bagian penting dari belajar menghormati batas orang lain. Topik ini juga berkaitan dengan membangun kerja sama antara orang tua dan anak melalui pola asuh positif dan mengajarkan berbagi tanpa memaksa anak.
Tanggapi kesalahan dengan proses perbaikan
Jika anak sudah terlanjur mengambil barang, hentikan dengan tenang. Kembalikan benda kepada pemilik, bantu anak menyampaikan permintaan maaf atau penjelasan, lalu praktikkan ulang cara meminta izin. Konsekuensi yang relevan adalah mengembalikan, merapikan, atau memperbaiki barang—bukan mempermalukan anak di depan orang lain.
Amati kapan perilaku ini sering terjadi. Apakah saat bermain bersama, ketika harus berbagi ruang, atau ketika anak terburu-buru? Mengetahui situasi pemicu membantu orang tua menyiapkan pengingat sebelum masalah terulang. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan CDC tentang aturan rumah dan disiplin yang sesuai usia.
Contoh dalam keseharian
Ketika anak mengambil spidol kakaknya, orang tua dapat berkata, “Kamu ingin memakai warna itu. Kembalikan dulu, lalu tanyakan apakah boleh dipinjam.” Jika kakak menolak, bantu anak memilih warna lain. Kedua anak belajar bahwa keinginan boleh disampaikan dan batas pribadi tetap dihormati.
Hal yang perlu diingat
Kebiasaan meminta izin tumbuh lewat pengulangan yang konsisten. Hargai usaha anak ketika ia bertanya terlebih dahulu, dan pastikan orang dewasa juga menjadi contoh menghormati barang milik orang lain.










