Setelah membuat kue bersama, dapur dipenuhi mangkuk, tepung, dan sendok. Anak ingin langsung bermain, sementara orang tua ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Kalimat “Kamu jangan cuma bikin berantakan!” mudah keluar, padahal kegiatan tadi dimulai sebagai waktu bersama. Agar suasana tidak berubah menjadi saling menyalahkan, keluarga bisa mengubah cara melihat pekerjaan rumah: bukan beban satu orang, melainkan sesuatu yang dapat diselesaikan bersama dengan peran yang sesuai.
Membangun kerja sama antara orang tua dan anak tidak sama dengan meminta anak menjadi asisten yang selalu menurut. Kerja sama berarti setiap orang memahami tujuan, mengetahui perannya, dan punya kesempatan berkontribusi sesuai kemampuan. Orang tua tetap memegang tanggung jawab utama, terutama untuk keselamatan, keputusan besar, serta kebutuhan anak.
Mulai dari tujuan yang bisa dipahami semua orang
Anak akan lebih mudah berpartisipasi jika memahami mengapa tugas dilakukan. “Cepat bereskan!” hanya menyampaikan tekanan. “Kita perlu membuat meja kosong supaya bisa makan bersama” menjelaskan hasil yang ingin dicapai.
Tentukan tujuan yang cukup kecil. Misalnya, bukan “rumah harus rapi”, melainkan “sebelum makan malam, balok masuk ke kotak dan buku kembali ke rak”. Tujuan yang jelas membantu semua anggota keluarga melihat kapan pekerjaan selesai.
Gunakan metode tujuan–peran–alat–waktu–evaluasi
Tujuan: Apa yang ingin diselesaikan? Satu tujuan cukup untuk satu kegiatan. Contohnya menyiapkan meja makan atau mengemas perlengkapan piknik.
Peran: Siapa melakukan apa? Orang tua dapat menyiapkan makanan panas, anak menaruh serbet atau sendok yang aman, dan anak yang lebih besar memeriksa botol minum. Peran hendaknya menyesuaikan usia, kemampuan, dan keselamatan.
Alat: Apakah anak memiliki apa yang dibutuhkan? Kotak penyimpanan yang mudah dibuka, bangku pijakan yang aman, atau daftar gambar bisa membuat tugas lebih mungkin dilakukan.
Waktu: Kapan tugas dimulai dan kapan cukup? Anak kecil membutuhkan batas yang pendek dan pengingat. Anak usia sekolah dapat ikut menentukan urutan yang masuk akal.
Evaluasi: Setelah selesai, apa yang berjalan baik dan apa yang perlu diubah? Gunakan pertanyaan, bukan sidang mencari siapa yang salah: “Bagian mana yang mudah? Bagian mana yang perlu kita siapkan lebih baik besok?”
Metode ini bisa dipakai tanpa membuat acara rapat resmi. Lima bagian itu hanyalah cara berpikir agar kerja sama tidak bergantung pada instruksi spontan dan emosi yang sedang naik.
Contoh: menyiapkan makan malam bersama
Bayangkan keluarga ingin makan malam tanpa tergesa-gesa. Orang tua menetapkan tujuan: meja siap sebelum makanan dihidangkan. Anak prasekolah mendapat tugas menaruh serbet dan sendok plastik. Anak usia sekolah menyiapkan gelas dan memastikan kursi tersedia. Orang tua menangani kompor dan pisau, karena itu memerlukan keterampilan serta pengawasan dewasa.
Jika serbet terbalik atau sendok belum lengkap, jangan langsung mengambil alih semuanya. Tunjukkan satu kali, lalu biarkan anak memperbaiki. Jika waktu sangat sempit, orang tua boleh membantu tanpa menjadikannya bukti bahwa anak tidak mampu. Kerja sama berkembang melalui latihan, bukan dengan menuntut hasil sempurna sejak awal.
American Academy of Pediatrics membahas bagaimana tugas rumah yang sesuai usia dapat mengajarkan keterampilan hidup dan kerja sama keluarga. Dalam panduan AAP tentang chores dan tanggung jawab, orang tua juga diingatkan untuk tidak mengharapkan kesempurnaan dan memberikan dukungan ketika anak belajar.
Beri pilihan pada bagian yang memang bisa dipilih
Kerja sama lebih mudah ketika anak memiliki suara. “Kamu ingin membawa buku atau botol minum ke tas?” memberi pilihan pada dua tugas yang sama-sama perlu dilakukan. “Kamu mau membereskan buku dulu atau balok dulu?” memberi kendali pada urutan, bukan pada apakah seluruh tugas dikerjakan.
Pilihannya harus sungguh-sungguh. Jangan menawarkan pilihan lalu marah ketika anak memilih yang sebenarnya tidak diinginkan orang tua. Jika tidak ada pilihan, sampaikan dengan jujur: “Kita harus memakai helm sebelum naik sepeda. Kamu boleh memilih helm merah atau biru.”
Untuk anak yang lebih besar, ajak mereka mengidentifikasi masalah. “Setiap pagi kita terlambat menemukan kaus kaki. Menurutmu, di mana sebaiknya disimpan?” Pertanyaan seperti ini mengundang anak menyumbang solusi sekaligus mengurangi beban orang tua dalam mengingatkan berulang kali.
Ketika anak tidak menjalankan perannya
Sebelum menyebutnya tidak mau bekerja sama, cek apakah ia mengerti tugas, punya waktu yang cukup, dan sedang mampu melakukannya. Terkadang instruksi terlalu banyak atau alatnya sulit dijangkau. Anak bisa juga menolak karena sedang kecewa. Orang tua dapat mengakui emosinya tanpa membatalkan tujuan: “Kamu ingin lanjut bermain. Kita selesaikan dua langkah ini dulu, lalu kamu bisa kembali bermain.”
Jika tugas sudah disepakati tetapi tetap tidak dilakukan, gunakan pengingat netral dan tindak lanjut yang masuk akal. Jika mainan tidak disimpan, kegiatan mengambil mainan baru ditunda sampai mainan sebelumnya masuk kotak. Hindari mempermalukan anak atau membandingkannya dengan saudara. Tujuan kita memperbaiki proses, bukan memenangkan pertengkaran.
Raising Children Network juga menyarankan orang tua membicarakan aturan dan memberi dukungan satu sama lain agar anak menerima harapan yang tidak saling bertentangan. Baca panduan tentang saling mendukung dalam pengasuhan. Prinsip ini juga berguna saat pembagian peran di rumah: anak akan lebih mudah memahami harapan jika orang dewasa tidak memberi instruksi yang saling bertentangan.
Kerja sama tidak boleh berubah menjadi beban berlebihan
Anak boleh berkontribusi, tetapi tidak seharusnya bertanggung jawab atas masalah orang dewasa. Mengurus rumah, menjaga adik dalam waktu lama, atau menanggung kebutuhan emosional orang tua bukan beban yang perlu ditaruh pada anak. Pekerjaan harus sesuai kemampuan dan tidak mengganggu waktu belajar, istirahat, bermain, atau kebutuhan dasarnya.
Dalam pola asuh positif, orang tua tetap menjadi penanggung jawab utama. Kita dapat menunjukkan bahwa tugas dibagi, tetapi beban tidak selalu sama. Anak yang lebih besar mungkin mengerjakan lebih banyak daripada adik, namun tidak boleh dianggap sebagai pengganti orang dewasa.
UNICEF menekankan pentingnya pengasuhan bersama dan peran orang dewasa sebagai teladan. Baca panduan UNICEF tentang pola asuh positif untuk prinsip saling menghormati dan berbagi tanggung jawab pengasuhan.
Ajarkan kerja sama sebelum keadaan mendesak
Anak lebih mudah berpartisipasi bila keterampilan yang dibutuhkan telah dilatih saat suasana tenang. Jika keluarga akan pergi berlibur, jangan menunggu lima menit sebelum berangkat untuk meminta anak mengepak semua barangnya. Latih sebelumnya: tunjukkan cara memeriksa daftar, pilih barang yang sesuai, dan jelaskan barang apa yang harus dibawa orang dewasa. Untuk membagi tanggung jawab pengasuhan secara realistis, lihat kerja sama orang tua saat berbeda pendekatan dan bahas langkah yang dapat dipertahankan bersama.
Kerja sama juga perlu memberi ruang untuk menyampaikan kesulitan. Anak boleh berkata bahwa tugas terasa berat atau ia tidak tahu harus mulai dari mana. Orang tua dapat menjawab dengan memecah pekerjaan, bukan langsung menganggapnya mencari alasan. Namun, mendengarkan kendala tidak berarti menghapus seluruh tanggung jawab. Keluarga dapat menyepakati bantuan tambahan dan langkah berikutnya.
Bagi anak yang masih kecil, gunakan kegiatan pendek dan perayaan sederhana ketika selesai. Anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam perencanaan dan evaluasi. Perbedaan ini membuat kerja sama berkembang bersama keterampilan, bukan hanya menjadi daftar perintah yang harus dipatuhi.
Rayakan kontribusi, lalu tinjau ulang cara kerja
Apresiasi yang spesifik membuat kontribusi terlihat: “Kamu menata gelas sebelum makan; itu membantu semua orang duduk bersama lebih cepat.” Tidak perlu memberi hadiah besar untuk setiap tugas. Rasa bahwa dirinya berguna dan dipercaya juga dapat menguatkan partisipasi.
Sesudah kegiatan, tanyakan apakah pembagian tugas terasa masuk akal. Jika seorang anak selalu mendapat pekerjaan yang kurang menyenangkan, rotasikan peran atau cari alternatif. Jika orang tua selalu mengulang instruksi, buat pengingat visual atau pindahkan alat ke tempat yang mudah dijangkau.
Kerja sama keluarga tumbuh dari banyak momen kecil: merapikan setelah bermain, menyiapkan tas, mengatur perlengkapan perjalanan, atau membereskan meja setelah makan. Tidak semuanya akan berjalan mulus. Dengan tujuan yang jelas, peran yang sesuai, dan komunikasi yang saling menghormati, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan belajar hidup bersama. Ketika pendekatan orang tua berbeda, keluarga dapat merujuk pembagian peran orang tua sehari-hari sebelum membuat kesepakatan yang realistis.
Baca juga membangun kedekatan melalui perhatian sederhana dan kunjungi Parenting BisaBaca untuk inspirasi pengasuhan lainnya.










