Ada malam ketika orang tua berteriak karena anak menumpahkan susu untuk kedua kalinya. Anak terdiam, lalu pergi ke kamar. Beberapa menit kemudian, orang tua mulai menyesal. Ia tahu tumpahan itu membuat lantai lengket, tetapi suaranya tadi jauh lebih keras daripada yang diperlukan. Dalam situasi semacam ini, apakah meminta maaf akan membuat anak menganggap orang tua kehilangan wibawa?
Justru menjadi teladan dalam meminta maaf menunjukkan bahwa tanggung jawab berlaku untuk semua orang di rumah. Orang tua tetap boleh menjaga aturan—misalnya meminta anak membantu membersihkan tumpahan—sambil mengakui bahwa membentak bukan cara yang tepat. Anak melihat bahwa kekuasaan bukan alasan untuk tidak bertanggung jawab. Jika emosi sudah telanjur meningkat, lihat teladan ayah dalam mengelola emosi untuk mencari cara mendampingi anak tanpa menghakimi.
Permintaan maaf bukan sekadar berkata “maaf”
Kata maaf yang tulus memiliki beberapa unsur: menyebut tindakan dengan jelas, mengakui dampaknya, tidak menyalahkan orang yang terluka, menawarkan perbaikan, dan berusaha mengubah perilaku. Untuk anak kecil, penjelasan perlu singkat. Anak yang lebih besar dapat diajak bicara lebih mendalam, tetapi inti tanggung jawabnya sama.
Contohnya: “Tadi aku berteriak ketika kamu menumpahkan susu. Suaraku membuatmu kaget dan itu tidak tepat. Aku minta maaf. Kita tetap perlu membersihkan susu bersama, dan lain kali aku akan berhenti sebentar sebelum berbicara.” Kalimat ini tidak menuntut anak menghapus kesalahannya demi menenangkan orang tua. Ia mengakui dua hal sekaligus: tumpahan perlu dibereskan dan orang tua perlu memperbaiki caranya merespons.
Dalam panduan Raising Children Network tentang disiplin positif, hubungan hangat dan sikap mendorong disebut sebagai bagian penting dalam membimbing perilaku anak. Menyebut tindakan yang dilakukan lebih bermakna daripada meminta maaf secara samar lalu berharap masalah hilang.
Lima bagian permintaan maaf yang bisa dipraktikkan
1. Tunggu sampai cukup tenang. Jika masih sangat marah, orang tua dapat menunda pembicaraan sebentar selama anak aman. Tujuannya bukan menghindar, melainkan mencegah ucapan baru yang melukai.
2. Sebut tindakan sendiri. “Aku tadi membentak,” lebih bertanggung jawab daripada “Maaf kalau kamu tersinggung.” Kalimat kedua bisa terdengar seolah masalahnya hanya perasaan anak.
3. Akui dampaknya. Orang tua tidak harus menebak persis perasaan anak. Katakan, “Itu mungkin membuatmu takut atau sedih,” kemudian beri ruang bila anak ingin menjelaskan.
4. Perbaiki yang bisa diperbaiki. Jika orang tua mempermalukan anak di depan saudara, ia bisa mengoreksi ucapannya di hadapan orang yang sama. Jika ia tidak memberi kesempatan anak menjelaskan, ia dapat kembali mendengar.
5. Tunjukkan perubahan. Permintaan maaf akan kehilangan makna bila perilaku yang sama terus berulang tanpa usaha memperbaiki. Orang tua dapat membuat rencana sederhana: mengambil jeda, memakai kalimat yang lebih jelas, atau meminta bantuan pasangan ketika emosi sulit dikendalikan.
Hindari “maaf, tapi kamu juga…”
Kadang kita mengucapkan, “Maaf aku membentak, tapi kamu memang tidak pernah mendengarkan.” Kalimat itu segera memindahkan tanggung jawab kembali ke anak. Perilaku anak boleh dibicarakan, tetapi sebaiknya tidak digunakan untuk membatalkan permintaan maaf orang tua.
Pisahkan dua percakapan. Pertama, orang tua mengakui bahwa ia membentak. Setelah itu, ketika suasana lebih tenang, ia dapat menegaskan masalah yang perlu diselesaikan: “Sekarang kita bicarakan cara menyimpan mainan setelah bermain.” Dengan begitu, anak tidak mendapat pesan bahwa kesalahan satu orang membenarkan kesalahan orang lain.
Apakah orang tua perlu selalu meminta maaf?
Minta maaf ketika memang melakukan sesuatu yang melukai, tidak adil, atau perlu diperbaiki. Tidak perlu meminta maaf hanya karena menetapkan batas yang wajar. Misalnya, anak kecewa karena tidak boleh menyentuh kompor; orang tua tidak perlu meminta maaf karena menjaga keselamatan. Namun, orang tua bisa mengakui perasaan anak: “Kamu kesal karena ingin membantu. Kompor tetap tidak aman untukmu. Kita bisa memilih tugas lain.”
Ini membedakan antara mengakui emosi dan membatalkan aturan. Permintaan maaf tidak membuat semua keinginan harus dituruti. Ia mengajarkan bahwa hubungan dapat diperbaiki tanpa menghilangkan batas.
Bagaimana jika anak belum mau menerima permintaan maaf?
Anak mungkin membutuhkan waktu atau belum tahu harus menjawab apa. Jangan mendesak, “Sekarang maafkan Mama!” Permintaan maaf bukan transaksi yang mewajibkan anak langsung tersenyum, memeluk, atau mengatakan tidak apa-apa. Sampaikan dengan tulus, beri ruang, lalu buktikan perubahan melalui tindakan.
Anak juga dapat belajar bahwa orang yang terluka berhak memiliki perasaan sendiri. Orang tua tidak perlu mengatur respons anak agar dirinya cepat merasa lega. Jika anak ingin bertanya atau menceritakan dampaknya, dengarkan. Jika ia belum ingin berbicara, tetap tunjukkan sikap yang lebih baik pada interaksi berikutnya.
Menjadi teladan tanpa menempatkan anak sebagai penghibur
Ada orang tua yang tanpa sadar berkata, “Mama sedih sekali, masa kamu tidak mau memaafkan?” Ini membebankan tugas kepada anak untuk menenangkan perasaan orang dewasa. Lebih baik, orang tua bertanggung jawab pada emosinya sendiri: “Aku menyesal sudah berkata seperti itu. Aku akan mencoba cara yang lebih baik.” Anak bebas memproses perasaannya.
Meminta maaf juga tidak harus menjadi pidato panjang. Untuk kesalahan kecil, kalimat singkat yang sesuai usia sudah cukup. Untuk masalah lebih serius—misalnya penghinaan berulang atau tindakan yang membuat anak takut—kata maaf saja tidak cukup. Orang tua perlu menghentikan pola yang merugikan dan mencari dukungan bila dibutuhkan. Memberi kesempatan mencoba kembali juga selaras dengan respons yang mendukung ketika anak membuat kesalahan dan bisa diterapkan bertahap.
AAP menyarankan orang tua belajar dari kesalahan, meminta maaf setelah merespons secara tidak tepat, dan menjelaskan bagaimana mereka akan bertindak berbeda berikutnya. Prinsip itu dibahas dalam panduan disiplin sehat AAP. Perubahan nyata setelah permintaan maaf adalah bagian penting dari pemulihan kepercayaan.
Bila kesalahan orang tua lebih serius daripada bentakan sesaat
Ada perbedaan antara kehilangan kesabaran satu kali dan pola merendahkan, mengancam, atau menakut-nakuti anak yang terjadi berulang. Dalam pola yang berulang, permintaan maaf saja tidak cukup jika anak masih harus menghadapi tindakan yang sama. Orang tua perlu menghentikan perilaku tersebut, membuat rencana keamanan bila diperlukan, dan mencari dukungan yang tepat.
Jika emosi sulit dikendalikan, langkah praktis dapat berupa mengenali situasi pemicu, menyepakati kata untuk meminta jeda dengan pasangan, atau menjauh sebentar setelah memastikan anak berada di tempat aman. Jika ada kekhawatiran akan menyakiti anak, segera cari bantuan dari orang dewasa tepercaya atau layanan profesional setempat. Keselamatan anak harus didahulukan.
Orang tua juga tak perlu menuntut diri memperbaiki semuanya sendirian. Mendapatkan dukungan bukan berarti gagal menjadi orang tua; itu menunjukkan kesediaan bertanggung jawab atas dampak perilaku dan menjaga hubungan agar lebih aman.
Permintaan maaf perlu diikuti perubahan yang bisa dilihat
Jika orang tua berjanji tidak akan berteriak lagi, tetapi tidak mengubah apa pun saat emosi meningkat, anak mungkin sulit mempercayai janji berikutnya. Pilih langkah yang spesifik dan realistis: berhenti berbicara selama beberapa detik, menurunkan suara, meletakkan benda yang sedang dipegang, atau meminta pasangan mengambil alih sementara. Tidak semua respons akan langsung berhasil, tetapi rencana konkret lebih berguna daripada janji “aku akan lebih sabar”.
Bila kesalahan memengaruhi orang lain di rumah, perbaikan sebaiknya disesuaikan dengan dampaknya. Menghina anak di depan saudara mungkin perlu dikoreksi di hadapan saudara juga. Dengan cara itu, anak melihat bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada kata-kata pribadi, tetapi mencakup pemulihan rasa hormat.
Anak belajar meminta maaf dari pengalaman, bukan hanya perintah
Ketika orang tua meminta maaf dengan jujur, anak melihat contoh yang bisa ditiru. Ia belajar bahwa mengakui kesalahan tidak membuat seseorang tidak berharga, dan memperbaiki hubungan membutuhkan tindakan. Kelak, saat anak mendorong saudaranya atau berkata kasar kepada teman, orang tua dapat membimbingnya menggunakan prinsip yang sama: apa yang dilakukan, siapa yang terdampak, dan bagaimana memperbaikinya.
Materi Pengasuhan Positif dari PAUDPedia Kemendikdasmen menekankan komunikasi positif dan keteladanan dalam keluarga. Teladan bukan berarti orang tua tidak pernah salah. Justru anak melihat bagaimana orang dewasa bersikap ketika menyadari kesalahannya.
Jika hari ini Anda merasa telah berbicara terlalu keras, tidak perlu menunggu menjadi orang tua sempurna. Mulailah dari satu permintaan maaf yang jelas dan satu tindakan nyata yang berbeda. Perubahan kecil yang konsisten lebih bermakna daripada janji besar tanpa tindak lanjut.
Baca juga contoh kalimat dalam pola asuh positif saat anak melakukan kesalahan dan temukan topik lainnya di Parenting BisaBaca.










