Saat seseorang yang dekat meninggal, anak membutuhkan penjelasan dan pendampingan yang mengikuti usia serta pemahamannya. Reaksi duka dapat berubah-ubah: bertanya berulang, marah, takut berpisah, atau bermain seperti biasa. Semua itu perlu dilihat dalam konteks anak dan situasi keluarga.
Sampaikan kabar dengan jelas dan aman
Pilih orang dewasa yang dekat dengan anak dan suasana yang cukup tenang. Gunakan kata “meninggal” atau “mati” dengan penjelasan sederhana, bukan ungkapan yang dapat ditafsirkan sebagai tidur atau pergi sementara. Beri jeda agar anak dapat memproses kabar.
Untuk menemukan bacaan lain yang masih satu tema, kunjungi kategori Emosi & Kesehatan Mental Anak di Parenting BisaBaca.
Tidak semua detail perlu dibagikan sekaligus. Jelaskan apa yang diketahui, dan katakan dengan jujur bila ada hal yang belum diketahui. Hindari janji bahwa anggota keluarga lain tidak akan pernah meninggal; lebih baik jelaskan siapa yang merawat dan menjaga anak saat ini.
Pahami bahwa konsep kematian berkembang bersama usia
Anak kecil mungkin belum memahami bahwa kematian bersifat permanen. Anak usia sekolah dapat bertanya tentang sebab, tubuh, atau pemakaman; anak yang lebih besar mungkin memikirkan dampaknya pada keluarga. Jawab sesuai pertanyaan, bukan memberikan ceramah panjang.
Pertanyaan yang sama bisa muncul berkali-kali karena anak sedang mencoba memahami kenyataan. Ulangi jawaban dengan sabar dan konsisten. Bila jawaban belum diketahui, orang tua dapat mengatakan akan mencari informasi yang tepat daripada mengarang penjelasan. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan NHS tentang berbicara kepada anak mengenai perasaan.
Jaga rasa aman dan rutinitas yang realistis
Anak perlu tahu siapa yang mengantar, menjemput, menemani tidur, dan menjawab pertanyaan. Pertahankan rutinitas yang membantu, tetapi beri kelonggaran jika konsentrasi atau energi anak menurun. Jangan menuntut perilaku “kuat” demi menenangkan orang dewasa.
Berikan pilihan yang dapat dipahami anak, misalnya ikut melayat atau mengirim gambar, bila sesuai tradisi keluarga dan situasi. Jangan memaksa anak melihat jenazah atau mengikuti kegiatan yang membuatnya sangat takut. Jelaskan terlebih dahulu apa yang mungkin ia lihat dan dengar.
Amati dampak duka dan cari dukungan bila diperlukan
Sedih dan perubahan kebiasaan dapat muncul setelah kehilangan. Namun, bila anak mengalami gangguan tidur yang berat, rasa bersalah yang menetap, menarik diri, ketakutan ekstrem, atau kesulitan menjalani aktivitas dalam waktu lama, konsultasikan dengan tenaga profesional.
Sekolah dan pengasuh dapat diberi informasi seperlunya agar memahami perubahan anak. Orang tua tidak harus menceritakan privasi keluarga secara luas. Pilih satu atau dua orang dewasa tepercaya yang dapat menjadi tempat anak mencari dukungan. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan UNICEF tentang kesehatan mental dan kesejahteraan.
Contoh dalam keseharian
Jika anak bertanya, “Apakah Nenek pergi karena aku nakal?” orang tua dapat menjawab, “Tidak. Nenek meninggal bukan karena perilakumu. Orang dewasa sedang mengurus banyak hal, dan kami tetap akan merawatmu.”
Hal yang perlu diingat
Tidak ada satu cara berduka yang berlaku untuk semua anak. Berikan informasi jujur, kedekatan, dan waktu. Orang tua juga boleh menunjukkan kesedihan dengan cara yang dapat dipahami anak, sambil memastikan ada orang dewasa yang tetap mendampingi.










