Perbedaan pendapat antara orang dewasa dalam keluarga tidak selalu dapat dihindari. Namun, anak tidak seharusnya dijadikan penengah, pembawa pesan, tempat curhat tentang konflik pasangan, atau pihak yang diminta memilih kubu. Melindungi anak dari konflik berarti mengelola perbedaan secara bertanggung jawab dan memastikan anak tetap merasa aman.
Jauhkan pertengkaran dan pembicaraan pribadi dari anak
Jika pembicaraan mulai memanas, hentikan atau pindahkan ke ruang dan waktu yang tidak didengar anak. Hindari berdebat melalui pesan suara atau telepon dengan volume yang dapat terdengar di rumah.
Tidak semua perbedaan harus disembunyikan. Anak dapat melihat orang dewasa berbeda pendapat secara sehat ketika mereka berbicara dengan hormat, mencari solusi, dan memperbaiki hubungan setelah konflik.
Jangan jadikan anak sebagai perantara atau sekutu
Sampaikan jadwal, permintaan, dan informasi penting langsung kepada orang dewasa yang bersangkutan. Jangan meminta anak mengantar pesan, melaporkan percakapan, atau menyampaikan komentar tentang anggota keluarga lain.
Hindari membebani anak dengan detail perselingkuhan, keuangan, perkara hukum, atau rasa sakit orang dewasa. Anak boleh mengetahui perubahan yang memengaruhi dirinya, tetapi tidak harus menjadi tempat orang tua menumpahkan konflik. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan AAP agar anak tidak terjebak konflik saat orang tua berpisah.
Akui bila anak telanjur melihat atau mendengar konflik
Jelaskan dengan sederhana bahwa masalah orang dewasa bukan kesalahan anak. Minta maaf bila anak menyaksikan pertengkaran yang menakutkan. Jangan meminta anak merahasiakan kejadian atau berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa.
Tanyakan bagaimana perasaannya dan hal apa yang membuatnya khawatir. Hindari menjanjikan bahwa konflik tidak akan pernah terjadi lagi; lebih baik jelaskan langkah nyata yang akan dilakukan orang dewasa untuk mengelolanya dengan lebih aman. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke kerja sama ayah dan ibu dalam pengasuhan sehari hari.
Utamakan keselamatan ketika konflik mengandung kekerasan
Konflik yang melibatkan ancaman, kekerasan fisik, kontrol, atau rasa takut bukan sekadar perbedaan pendapat biasa. Prioritaskan keselamatan anak dan orang yang terdampak. Jangan meminta anak menjadi saksi, penengah, atau pelindung orang dewasa.
Cari dukungan dari layanan perlindungan, tenaga kesehatan, konselor, atau pihak berwenang sesuai situasi. Pengaturan komunikasi dan kunjungan perlu mempertimbangkan keselamatan; jangan menerapkan saran co-parenting secara otomatis ketika ada kekerasan atau risiko. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan AAP tentang mendukung anak setelah perpisahan orang tua.
Contoh dalam keseharian
Dua orang tua berbeda pendapat tentang jadwal liburan. Ketika suara mulai meninggi, mereka menghentikan percakapan dan melanjutkannya setelah anak tidur. Mereka kemudian memberi anak informasi bersama tentang jadwal yang sudah disepakati, tanpa menyebut siapa yang menang.
Hal yang perlu diingat
Anak membutuhkan ruang untuk menjadi anak, bukan penengah masalah orang dewasa. Kelola konflik secara privat, berkomunikasi langsung, dan jelaskan perubahan yang berdampak pada anak. Jika ada kekerasan atau ancaman, keselamatan harus didahulukan dan bantuan khusus perlu dicari.










