Seorang ibu berbincang dengan anak di sofa setelah pulang sekolah.
Anak yang tampak tenang di sekolah bisa menjadi mudah marah, diam, atau menangis setelah pulang.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Menghadapi Perubahan Emosi Anak setelah Pulang Sekolah

Anak yang tampak tenang di sekolah bisa menjadi mudah marah, diam, atau menangis setelah pulang. Perubahan ini dapat berkaitan dengan lelah, lapar, tuntutan sosial, atau pengalaman yang belum sempat diceritakan.

Anak yang tampak tenang di sekolah bisa menjadi mudah marah, diam, atau menangis setelah pulang. Perubahan ini dapat berkaitan dengan lelah, lapar, tuntutan sosial, atau pengalaman yang belum sempat diceritakan. Orang tua dapat memberi ruang transisi sebelum meminta anak menjelaskan harinya.

Jangan langsung mengajukan banyak pertanyaan

Setelah sekolah, anak mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat dan menurunkan ketegangan. Mulailah dengan menyambut, memberi minum atau makanan sesuai kebutuhan, dan menawarkan kegiatan tenang. Pertanyaan beruntun dapat terasa seperti interogasi.

Untuk menemukan bacaan lain yang masih satu tema, kunjungi kategori Emosi & Kesehatan Mental Anak di Parenting BisaBaca.

Amati kapan perubahan muncul: langsung setelah dijemput, setelah mengerjakan PR, atau menjelang tidur. Pola waktu dapat membantu menemukan pemicu, tetapi satu hari yang sulit belum cukup untuk menyimpulkan ada masalah di sekolah.

Buat rutinitas pulang yang fleksibel

Rutinitas sederhana dapat berupa menyimpan tas, mencuci tangan, makan, lalu beristirahat. Jangan mengisi setiap menit dengan tugas. Anak juga perlu kesempatan bergerak atau diam sesuai kebutuhannya.

Libatkan anak dalam memilih urutan yang realistis. Jika jadwal sekolah panjang, kurangi tuntutan tambahan pada sore hari. Rutinitas bukan alat untuk mengendalikan emosi, tetapi kerangka yang membantu anak tahu apa yang akan terjadi. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan CDC tentang pengasuhan positif.

Buka percakapan ketika anak sudah siap

Gunakan pertanyaan yang tidak hanya menuntut jawaban baik atau buruk, seperti “Bagian mana yang paling melelahkan hari ini?” atau “Ada kejadian yang masih kamu pikirkan?” Anak boleh memilih bercerita nanti.

Jika anak menyampaikan masalah, dengarkan sampai selesai sebelum menyarankan solusi. Tanyakan apakah ia ingin didengarkan, dibantu memikirkan langkah, atau ditemani. Ini mengajarkan anak mengenali kebutuhan dukungannya sendiri.

Kenali tanda yang memerlukan tindak lanjut

Perubahan yang berlangsung lama, ketakutan untuk pergi sekolah, keluhan fisik berulang, atau penurunan fungsi belajar dan sosial perlu diperhatikan. Bicarakan secara faktual dengan guru dan, bila diperlukan, tenaga profesional.

Jangan menyimpulkan bahwa anak hanya lelah atau sedang mencari perhatian bila ada tanda lain yang mengkhawatirkan. Sebaliknya, jangan pula menganggap setiap ledakan emosi sebagai bukti sekolah bermasalah. Kumpulkan pola dan konteks terlebih dahulu. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan UNICEF tentang kesehatan mental anak.

Contoh dalam keseharian

Anak pulang lalu membentak saat ditanya tentang sekolah. Orang tua dapat berkata, “Sepertinya kamu perlu waktu dulu. Kita makan dan istirahat, nanti kalau sudah siap aku ingin mendengarkan.” Setelah itu, tetap jaga batas bahwa membentak orang lain tidak boleh menjadi cara menyelesaikan masalah.

Hal yang perlu diingat

Perubahan emosi setelah sekolah perlu dilihat sebagai informasi, bukan langsung dianggap perilaku buruk. Beri jeda, penuhi kebutuhan dasar, lalu buka percakapan. Jika perubahan menetap atau mengganggu keseharian, cari dukungan bersama sekolah dan tenaga profesional.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.