Seorang ibu mendampingi anak yang tampak malu setelah melakukan kesalahan.
Anak dapat merasa sangat malu setelah salah menjawab, menjatuhkan barang, atau melakukan sesuatu yang ditertawakan teman.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Membantu Anak Menghadapi Rasa Malu setelah Melakukan Kesalahan

Anak dapat merasa sangat malu setelah salah menjawab, menjatuhkan barang, atau melakukan sesuatu yang ditertawakan teman. Rasa malu sering membuat anak ingin bersembunyi atau menyangkal kejadian.

Anak dapat merasa sangat malu setelah salah menjawab, menjatuhkan barang, atau melakukan sesuatu yang ditertawakan teman. Rasa malu sering membuat anak ingin bersembunyi atau menyangkal kejadian. Orang tua dapat membantu memisahkan kesalahan dari nilai diri anak.

Hindari memperbesar kejadian di depan orang lain

Bila memungkinkan, ajak anak berbicara di tempat yang lebih privat. Jangan mengulang kesalahan sebagai bahan candaan keluarga atau membandingkannya dengan saudara. Menjaga martabat anak membantu ia lebih mudah membicarakan apa yang terjadi.

Akui perasaan tanpa menuntut anak segera tersenyum. Kalimat seperti, “Kamu malu karena teman melihat kejadian itu,” menunjukkan bahwa orang tua memahami situasi. Hindari memaksa anak menceritakan detail ketika ia belum siap.

Pisahkan tindakan dari identitas anak

Jelaskan bahwa melakukan kesalahan tidak menjadikan anak bodoh, ceroboh, atau buruk. Fokus pada tindakan yang bisa diperbaiki. Anak dapat bertanggung jawab tanpa harus menerima label negatif sebagai identitas dirinya.

Jika ada orang lain yang terdampak, bantu anak memperbaiki keadaan dengan cara yang sesuai. Permintaan maaf, membersihkan tumpahan, atau mengulang tugas mungkin tepat, tetapi jangan menjadikan penghukuman sebagai tontonan. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan CDC tentang dukungan positif pada anak.

Susun langkah kecil untuk menghadapi situasi serupa

Tanyakan apa yang ingin anak lakukan jika kejadian serupa terjadi lagi. Ia mungkin ingin meminta bantuan, mengatakan “aku belum tahu”, atau mencoba kembali. Latih kalimat itu saat suasana sudah tenang dan tidak ada tekanan.

Orang tua juga dapat berbagi cerita tentang kesalahan sendiri tanpa menjadikan pengalaman orang dewasa sebagai perbandingan. Tujuannya menunjukkan bahwa manusia belajar dan memperbaiki, bukan menuntut anak merasa malu itu tidak penting. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke contoh kalimat pola asuh positif saat anak melakukan kesalahan.

Perhatikan bila rasa malu berubah menjadi penghindaran

Jika anak terus menolak sekolah, kegiatan sosial, atau tugas tertentu setelah pengalaman memalukan, cari tahu penyebabnya. Perundungan atau penghinaan berulang membutuhkan penanganan orang dewasa, bukan sekadar nasihat agar anak lebih percaya diri.

Bila rasa malu disertai kecemasan berat atau penurunan fungsi sehari-hari, pertimbangkan konsultasi profesional. Sampaikan contoh konkret dan durasi perubahan agar penilaian tidak hanya bertumpu pada satu kejadian. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan NHS tentang kecemasan pada anak.

Contoh dalam keseharian

Anak salah membaca di depan kelas lalu tidak mau membaca lagi di rumah. Orang tua dapat berkata, “Kejadian tadi terasa tidak enak. Kita tidak perlu mengulang sekarang. Saat kamu siap, kita bisa membaca bersama tanpa penonton.”

Hal yang perlu diingat

Rasa malu tidak perlu ditertawakan atau dihapus paksa. Jaga martabat anak, bantu memperbaiki dampak kesalahan, dan bangun kesempatan mencoba lagi saat ia siap. Dengan begitu, pengalaman memalukan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.