Anak pulang sekolah lalu bercerita bahwa ia dan teman-temannya saling memberi julukan. Bagi anak, itu mungkin terasa lucu. Namun, orang tua kemudian mendengar bahwa salah satu teman menangis atau tidak mau bermain lagi karena julukan tersebut. Situasi seperti ini perlu ditangani tanpa langsung memberi cap bahwa anak adalah pribadi jahat. Yang perlu dihentikan adalah perilaku mengejeknya, sementara anak tetap dibimbing untuk memahami dampak kata-kata dan memilih cara berinteraksi yang lebih baik.
Ejekan dapat bermula dari meniru ucapan teman, mencoba membuat kelompok tertawa, menunjukkan rasa kesal, atau belum memahami bahwa orang lain merasa tersakiti. Apa pun pemicunya, niat bercanda tidak otomatis membuat dampaknya menjadi ringan. Anak perlu belajar memeriksa apakah semua pihak menikmati candaan tersebut.
Bedakan candaan bersama dan ejekan yang menyakitkan
Candaan yang sehat biasanya dinikmati bersama dan berhenti ketika seseorang meminta berhenti. Ejekan menjadi masalah ketika menyasar penampilan, kemampuan, keluarga, kondisi tubuh, cara bicara, atau hal pribadi yang membuat teman malu. Perhatikan juga respons orang yang menjadi sasaran. Jika ia menjauh, diam, terlihat takut, atau meminta berhenti, itu tanda candaan tidak lagi menyenangkan baginya.
Jika perilaku dilakukan dengan sengaja, berulang, dan ada ketimpangan kekuasaan, situasinya dapat mengarah pada perundungan. UNICEF menjelaskan tiga unsur umum bullying—niat menyakiti, pengulangan, dan perbedaan kekuasaan—dalam panduan membicarakan bullying dengan anak. Namun, satu ejekan tetap perlu dikoreksi meskipun belum memenuhi gambaran perundungan.
Respons pertama: hentikan perilaku, bukan mempermalukan anak
Jika mendengar anak mengejek, sampaikan batas secara langsung dan tenang: “Berhenti. Kita tidak memakai julukan yang membuat teman malu.” Hindari membalas dengan ejekan atau menyebut anak “nakal”, “jahat”, atau “pembully” sebagai identitas tetap. Label dapat membuat anak defensif dan mengalihkan perhatian dari tindakan yang perlu diperbaiki.
Setelah situasi aman, bicarakan apa yang terjadi. Tanyakan apa yang ingin dicapai anak dengan ucapannya, bagaimana reaksi temannya, dan apa yang bisa dilakukan berbeda. Jangan menyusun pertanyaan dengan nada menyudutkan. Tujuannya memahami perilaku sekaligus memastikan anak bertanggung jawab.
Ajarkan pengganti yang lebih tepat
Larangan saja tidak cukup jika anak belum memiliki alternatif. Berikan contoh kalimat yang dapat digunakan:
- Jika ingin bercanda: “Mau dengar cerita lucu?” lalu pilih candaan yang tidak menyerang pribadi orang lain.
- Jika kesal: “Aku tidak suka kalau mainanku diambil.”
- Jika ingin mengomentari sesuatu: “Warna gambarmu berbeda dari punyaku,” bukan “Gambarmu jelek.”
- Jika teman meminta berhenti: “Baik, aku berhenti.”
Berlatihlah melalui bermain peran. Orang tua dapat memberi contoh kalimat yang menyakitkan, lalu mengajak anak mengubahnya menjadi kalimat yang menjelaskan perasaan atau kebutuhan tanpa menghina.
Bantu anak memahami dampak tanpa memaksakan rasa bersalah
Tanyakan, “Menurutmu, apa yang mungkin dirasakan teman ketika dipanggil seperti itu?” Anak mungkin belum dapat menjawab. Ajak ia memperhatikan ekspresi atau mendengar penjelasan orang yang tersakiti, tetapi jangan menganggap ia harus langsung menunjukkan penyesalan dengan cara tertentu.
Jika anak bersedia, bantu ia memperbaiki dampak. Permintaan maaf sebaiknya disertai perubahan perilaku. Jangan memaksa korban menerima permintaan maaf atau langsung kembali bermain. Orang yang disakiti berhak memerlukan waktu dan jarak.
Periksa sumber perilaku
Perhatikan apakah anak meniru konten digital, candaan keluarga, percakapan kelompok, atau pola interaksi di sekolah. Periksa juga situasi yang membuatnya menggunakan ejekan: apakah ia ingin diterima kelompok, merasa marah, atau kesulitan menyampaikan keberatan? Memahami pemicu tidak berarti membenarkan perilaku. Informasi tersebut membantu orang tua menentukan latihan yang tepat.
Kapan perlu melibatkan sekolah?
Jika ejekan terjadi berulang di sekolah, menargetkan anak yang sama, melibatkan banyak anak, atau membuat teman merasa tidak aman, hubungi guru dan sampaikan contoh konkret. Mintalah sekolah mengamati konteks dan mendukung perubahan perilaku. Bila pola menyakiti berlanjut meski telah ada batas dan pendampingan, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional yang kompeten untuk memahami kebutuhan anak secara lebih menyeluruh.
Kesepakatan keluarga tentang bercanda
Orang tua dapat membuat tiga aturan sederhana: tidak mengejek tubuh atau kondisi pribadi, berhenti ketika seseorang meminta berhenti, dan memperbaiki perilaku saat candaan menyakiti. Terapkan aturan yang sama kepada orang dewasa. Jika anggota keluarga saling memanggil dengan julukan yang tidak disukai, tunjukkan bahwa semua orang berhak meminta perubahan.
Inti yang perlu diingat
Anak yang suka mengejek perlu dibimbing dengan batas yang tegas sekaligus kesempatan belajar. Hentikan ucapan yang menyakiti, cari tahu pemicunya, ajarkan alternatif, dan dukung perbaikan yang nyata. Jangan meremehkan dampak ejekan, tetapi jangan pula mengunci identitas anak pada satu perilaku yang masih dapat dibimbing.
Untuk membantu anak mengenali ejekan dan melaporkannya dengan aman, baca membantu anak merespons ejekan dan melaporkan perundungan. Jelajahi juga artikel Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Cara Membicarakan Bullying dengan Anak Anda — UNICEF Indonesia.
- What You Can Do: Ways to Help Prevent Bullying — StopBullying.gov.










