Orang dewasa berbicara dengan anak dan memberi dukungan di ruang belajar.
Hentikan tindakan yang menyakiti, lalu bantu anak memilih cara lain untuk mengungkapkan perasaan.
Sosialisasi & Pertemanan

Anak Suka Memukul Teman? Cara Merespons dan Mengajarkan Perilaku Alternatif

Saat anak memukul teman, utamakan keselamatan, hentikan tindakan, pahami pemicu, lalu ajarkan cara menyampaikan marah dan kebutuhan tanpa menyakiti.

Ketika anak memukul temannya saat berebut mainan, orang tua mungkin merasa malu, marah, atau takut kejadian serupa terulang. Reaksi tersebut dapat dimengerti. Namun, respons yang paling membantu perlu dimulai dari keselamatan dan batas yang jelas, bukan bentakan atau hukuman fisik. Anak harus memahami bahwa memukul tidak boleh dilakukan, sekaligus dibantu mempelajari cara lain ketika marah, frustrasi, atau belum mampu menyampaikan keinginannya.

Perilaku memukul adalah tindakan yang perlu dihentikan, tetapi satu kejadian tidak cukup untuk memberi label kepribadian atau diagnosis. Usia, kemampuan bahasa, kondisi saat kejadian, frekuensi, intensitas, dan respons lingkungan perlu dipertimbangkan.

Apa yang dilakukan saat anak memukul?

  1. Hentikan dengan segera. Dekati anak dan pisahkan bila perlu. Gunakan kalimat singkat: “Berhenti. Tangan tidak untuk memukul.”
  2. Periksa anak yang terkena pukulan. Pastikan ia aman dan mendapat pertolongan bila terluka. Tunjukkan bahwa kebutuhan anak yang disakiti juga penting.
  3. Beri jeda untuk menenangkan diri. Ajak anak menjauh dari situasi yang memicu konflik, tetap dengan pengawasan orang dewasa.
  4. Bicarakan setelah lebih tenang. Jelaskan tindakan dan dampaknya, lalu cari cara lain yang dapat dipakai pada kejadian berikutnya.

Jangan memukul balik untuk mengajarkan bahwa memukul itu salah. Cara tersebut justru memberi contoh bahwa kekuatan fisik boleh digunakan ketika seseorang marah. Batas perlu tegas, tetapi tetap aman dan tidak merendahkan anak.

Telusuri apa yang terjadi sebelum anak memukul

Catat situasi pemicu yang berulang. Apakah anak memukul ketika mainannya diambil, ketika permainan berubah, saat lelah atau lapar, ketika tidak dipahami, atau ketika kelompok terlalu ramai? Apakah ia menggunakan kata-kata sebelum memukul? Apakah kejadian lebih sering muncul pada waktu tertentu?

Informasi ini membantu menentukan dukungan. Anak yang kesulitan mengungkapkan keinginan mungkin memerlukan latihan kalimat. Anak yang mudah kewalahan mungkin membutuhkan jeda atau lingkungan bermain yang lebih tenang. Tidak satu pun pemicu dapat diasumsikan tanpa pengamatan.

Ajarkan alternatif yang dapat digunakan saat itu juga

Jangan hanya berkata “Jangan memukul”. Beri anak tindakan pengganti:

  • “Aku masih pakai mainan ini.”
  • “Aku tidak suka kalau didorong.”
  • “Tolong berhenti.”
  • “Aku perlu istirahat.”
  • “Bu Guru, aku butuh bantuan.”

Untuk anak yang masih kecil, gunakan kata dan gerakan yang sederhana. Latih ketika suasana tenang melalui boneka atau permainan peran. Jika anak belum dapat mengucapkan kalimat panjang, satu kata atau isyarat yang dipahami orang dewasa dapat menjadi langkah awal.

Ajarkan perbaikan, bukan sekadar permintaan maaf

Setelah anak tenang, bantu ia memahami dampak: “Temanmu menangis karena dipukul. Tubuhnya sakit.” Jika memungkinkan, ajak anak memperbaiki akibatnya, misalnya mengambilkan es sesuai arahan orang dewasa, membantu membereskan benda yang jatuh, atau menyampaikan permintaan maaf ketika ia siap dan memahami maksudnya. Jangan memaksa anak yang disakiti untuk menerima permintaan maaf atau langsung bermain lagi.

Perbaikan tidak menghapus tanggung jawab. Anak tetap perlu belajar bahwa memukul akan membuat permainan dihentikan sementara demi keselamatan. Konsekuensi harus berkaitan dengan perilaku, proporsional, dan dijelaskan dengan tenang.

Jaga konsistensi antara rumah dan sekolah

Jika pukulan terjadi di sekolah atau kelompok bermain, bicarakan dengan guru. Minta informasi tentang waktu, pemicu, tindakan orang dewasa, dan apa yang membantu anak kembali tenang. Sepakati respons yang konsisten, misalnya menghentikan permainan saat ada pukulan, memberi jeda aman, dan melatih kalimat pengganti.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa anak usia balita dan prasekolah masih belajar mengendalikan dorongan, sehingga orang dewasa perlu memberi aturan yang jelas, mencegah anak saling melukai, dan mengajarkan perilaku pengganti. Baca panduan AAP tentang perilaku agresif pada anak kecil. Untuk konteks perkembangan sosial dan respons saat frustrasi menjadi tindakan fisik, lihat pula penjelasan perkembangan sosial anak prasekolah.

Kapan perlu meminta bantuan profesional?

Pertimbangkan konsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak bila perilaku memukul sering terjadi, semakin intens, menyebabkan cedera, muncul di beberapa lingkungan, atau sulit berkurang meski sudah ada pendekatan yang konsisten. Minta bantuan lebih cepat jika anak menggunakan benda untuk melukai, mengancam, atau orang lain mulai merasa takut. Profesional dapat membantu menilai faktor perkembangan, komunikasi, emosi, lingkungan, dan kebutuhan dukungan yang tepat.

Kesalahan respons yang perlu dihindari

  • Mengancam atau memukul anak sebagai balasan.
  • Mempermalukan anak di depan teman dengan julukan buruk.
  • Membiarkan pukulan karena dianggap “hanya bercanda”.
  • Memaksa anak meminta maaf saat masih sangat marah tanpa memahami tindakannya.
  • Hanya memberi hukuman tanpa mengajarkan perilaku pengganti.

Inti yang perlu diingat

Anak yang memukul membutuhkan batas yang jelas dan latihan keterampilan pengganti. Utamakan keselamatan, pahami pemicu, ajarkan kata-kata yang dapat digunakan, dan koordinasikan dengan sekolah bila kejadian berulang. Tujuannya bukan memberi label kepada anak, melainkan menghentikan perilaku yang menyakiti dan membangun cara berinteraksi yang aman.

Panduan untuk menjaga keselamatan dan membimbing perubahan perilaku tersedia dalam cara membantu anak menghadapi bullying dengan aman. Jelajahi juga panduan di kategori Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.