Pendamping membantu anak-anak menyelesaikan perselisihan saat bermain balok.
Respons yang tenang dan tegas membantu anak memahami dampak perilakunya serta memperbaikinya.
Sosialisasi & Pertemanan

Anak Melakukan Perundungan terhadap Teman? Cara Orang Tua Memahami dan Membimbing Perubahan

Jika anak melakukan perundungan, hentikan perilakunya tanpa memberi label permanen. Pahami pola, lindungi anak yang menjadi sasaran, ajarkan tanggung jawab, dan koordinasikan tindak lanjut.

Menerima kabar bahwa anak melakukan perundungan terhadap temannya dapat memunculkan rasa malu, marah, atau tidak percaya. Orang tua mungkin ingin segera membela anak atau sebaliknya memberi hukuman keras. Dua respons ekstrem itu berisiko mengaburkan hal yang paling penting: perilaku menyakiti harus dihentikan, anak yang menjadi sasaran perlu dilindungi, dan anak yang melakukan tindakan tersebut perlu dibimbing untuk bertanggung jawab serta mengubah perilakunya.

Jangan menyamakan tindakan anak dengan identitas permanennya. Hindari menyebutnya “anak jahat” atau menganggap satu kejadian sudah membuktikan ia seorang pelaku perundungan. Namun, jangan pula meremehkan tindakan dengan alasan “namanya juga anak-anak”. Orang tua perlu memahami apa yang terjadi, apakah ada pola berulang, dan bagaimana dampaknya terhadap anak lain.

Pastikan fakta sebelum menyimpulkan

Dengarkan laporan dari sekolah dan minta contoh kejadian yang spesifik. Apa yang dikatakan atau dilakukan anak? Kapan dan di mana? Apakah kejadian berlangsung berulang? Siapa yang terlibat dan bagaimana respons anak yang menjadi sasaran? Cari informasi dari pihak yang menyaksikan tanpa menginterogasi atau mempermalukan anak di depan umum.

UNICEF menjelaskan bahwa bullying umumnya melibatkan niat menyakiti, pengulangan, dan perbedaan kekuasaan. Konflik satu kali belum tentu memenuhi gambaran tersebut, tetapi tetap perlu ditanggapi jika ada tindakan yang menyakitkan. Baca panduan UNICEF untuk orang tua tentang bullying, yang juga membahas jika anak diduga melakukan tindakan perundungan.

Hentikan tindakan dengan batas yang jelas

Mulailah dengan menyampaikan bahwa perilaku tertentu tidak dapat diterima. Sebutkan tindakannya, bukan menyerang pribadi: “Menghina teman berulang kali dan mengajak anak lain menjauhinya tidak boleh dilakukan.” Bila ada kekerasan fisik atau ancaman, pastikan anak tidak berada dalam situasi yang memungkinkan tindakan berulang saat langkah penanganan disusun.

Jangan menggunakan kekerasan, mempermalukan anak di depan teman, atau mengancam dengan label. Orang tua tetap dapat menetapkan konsekuensi yang masuk akal, berkaitan dengan tindakan, dan dijelaskan dengan tegas. Misalnya, aktivitas kelompok dihentikan sementara bila digunakan untuk menyakiti teman, sambil orang tua dan sekolah membangun cara interaksi yang aman.

Pahami alasan tanpa menjadikannya pembenaran

Anak mungkin mencari penerimaan kelompok, ingin menguasai permainan, meniru perilaku yang dilihat, sedang kesulitan mengelola emosi, atau belum memahami dampak tindakannya. Tanyakan apa yang terjadi sebelum kejadian dan apa yang ia harapkan. Jika anak kesulitan menjelaskan, gunakan pertanyaan sederhana atau cerita situasional.

Memahami latar belakang tidak berarti menyalahkan korban atau membenarkan perundungan. Tujuannya menemukan dukungan yang diperlukan agar perilaku berhenti. Jika ada pengalaman kekerasan, masalah emosi, atau kesulitan lain, cari bantuan yang kompeten tanpa mengabaikan tanggung jawab anak atas tindakannya.

Ajarkan cara memperbaiki dampak

Permintaan maaf dapat menjadi bagian dari proses, tetapi bukan satu-satunya langkah. Perbaikan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan keselamatan anak yang menjadi sasaran. Bentuknya dapat berupa mengembalikan atau mengganti barang yang dirusak, menghentikan penyebaran pesan, menghapus konten yang dibagikan bila aman dan sesuai arahan, atau mematuhi batas agar tidak menghubungi korban sementara waktu.

Jangan memaksa anak yang menjadi sasaran untuk menerima permintaan maaf, bertemu, atau kembali berteman. Pemulihan hubungan tidak boleh dibebankan kepada korban. Sekolah perlu memastikan tindakan berhenti dan tidak terjadi pembalasan setelah laporan dibuat.

Bangun keterampilan pengganti

Jika anak mengejek untuk mendapat tawa kelompok, ajarkan cara bercanda tanpa merendahkan. Jika ia memukul ketika marah, latih kata-kata untuk menyampaikan keberatan dan meminta jeda. Jika ia mengucilkan teman demi mengendalikan kelompok, diskusikan hak setiap anak untuk memilih teman serta dampak mengajak orang lain menjauhi seseorang.

Gunakan role-play dan contoh konkret. Minta anak mencoba merespons saat teman berbeda pendapat, menolak ajakan yang tidak aman, atau meminta sesuatu tanpa ancaman. Beri penguatan spesifik ketika ia menunjukkan perilaku yang lebih menghargai orang lain.

Kerja sama dengan sekolah harus berfokus pada keselamatan

Minta pertemuan dengan guru atau pihak sekolah untuk menyusun langkah yang terukur: bagaimana perilaku dipantau, siapa yang dapat dihubungi, bagaimana anak yang menjadi sasaran dilindungi, dan kapan perkembangan dievaluasi. Sampaikan bahwa keluarga bersedia bekerja sama, tetapi tidak meminta sekolah mengabaikan tindakan demi menjaga nama baik anak.

Kerangka Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kemendikdasmen menempatkan perlindungan, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, dan partisipasi keluarga sebagai bagian dari lingkungan sekolah. Ikuti mekanisme dan penanggung jawab yang berlaku di sekolah sesuai kebijakan terbaru.

Kapan perlu dukungan profesional?

Jika perilaku menyakiti berulang, melibatkan intimidasi, ancaman, kekerasan fisik, atau terus terjadi meski ada intervensi, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau profesional yang kompeten. Dukungan juga perlu dicari bila anak menunjukkan kesulitan emosi atau perilaku lain yang mengganggu keseharian. Penilaian profesional dapat membantu memahami kebutuhan anak dan menyusun strategi yang sesuai.

Hal yang perlu dihindari orang tua

  • Menyalahkan korban karena dianggap terlalu sensitif atau berbeda.
  • Menutupi kejadian demi menjaga reputasi keluarga.
  • Menganggap permintaan maaf otomatis menyelesaikan masalah.
  • Menghukum secara keras tanpa mengajarkan perilaku pengganti.
  • Memaksa anak yang menjadi sasaran untuk langsung berdamai.

Inti yang perlu diingat

Ketika anak melakukan perundungan, orang tua perlu bersikap tegas, terbuka, dan bertanggung jawab. Hentikan perilakunya, pahami pola dan pemicu, pastikan anak yang menjadi sasaran dilindungi, serta ajarkan perbaikan yang nyata. Anak dapat berubah, tetapi perubahan memerlukan batas, bimbingan, dan kerja sama orang dewasa yang konsisten.

Untuk mengenali tanda dan menentukan langkah awal, baca juga tanda anak mengalami bullying di sekolah. Jelajahi juga bacaan lain tentang Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Sumber dan bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.