Seorang anak mungkin melihat temannya diejek, didorong, atau sengaja dikucilkan. Setelah pulang, ia bercerita bahwa ia ingin membantu tetapi takut ikut menjadi sasaran. Respons seperti itu perlu diterima dengan serius. Anak yang menyaksikan perundungan bukan hanya penonton; ia dapat merasa takut, bingung, bersalah, atau tidak tahu kepada siapa harus melapor.
Orang tua dapat mengajarkan bahwa membantu teman tidak selalu berarti menghadapi pelaku secara langsung. Ada cara yang lebih aman: mendekati orang dewasa tepercaya, mengajak teman menjauh, menemani korban, atau melaporkan kejadian dengan informasi yang jelas. Keselamatan anak tetap menjadi prioritas.
Jelaskan perbedaan saksi dan penolong
Saksi adalah orang yang melihat atau mengetahui perundungan. Anak dapat mengambil peran sebagai penolong ketika ia melakukan tindakan yang mendukung korban atau meminta bantuan agar perilaku berhenti. Namun, kita tidak boleh membebankan seluruh tanggung jawab menghentikan perundungan kepada anak. Sekolah dan orang dewasa tetap bertanggung jawab menciptakan lingkungan aman.
StopBullying.gov menjelaskan peran bystander dan upstander, termasuk pentingnya dukungan teman sebaya serta pilihan tindakan yang aman. UNICEF juga mengingatkan bahwa anak dapat mendukung teman, tetapi perlu berbicara dengan orang dewasa dan tidak menghadapi situasi berbahaya sendirian.
Ajarkan langkah yang aman dan realistis
- Jangan ikut menertawakan atau menyebarkan kejadian. Anak dapat memilih tidak memberi dukungan sosial kepada perilaku yang menyakiti.
- Cari bantuan orang dewasa. Beri tahu guru, wali kelas, petugas sekolah, orang tua, atau orang dewasa tepercaya yang bertanggung jawab.
- Temani teman setelah kejadian. Kalimat sederhana seperti “Kamu mau ikut denganku?” dapat membantu korban tidak merasa sendirian.
- Laporkan fakta yang diketahui. Ceritakan apa yang dilihat, kapan, di mana, dan siapa yang terlibat tanpa menambahkan dugaan.
Jika situasi berlangsung secara fisik atau ada ancaman, anak sebaiknya tidak mencoba memisahkan pelaku sendirian. Ia dapat segera memanggil orang dewasa atau petugas yang mampu menangani situasi.
Latih kalimat yang dapat dipakai anak
Anak dapat berlatih mengatakan, “Itu tidak lucu,” “Ayo kita pergi,” atau “Aku akan panggil guru.” Namun, ajarkan bahwa kalimat tersebut hanya digunakan jika aman. Dalam keadaan berisiko, menjauh dan melapor jauh lebih tepat daripada berdebat dengan kelompok yang agresif.
Orang tua dapat bermain peran dengan beberapa skenario. Misalnya, anak melihat seorang teman ditertawakan di grup, melihat dorongan di lapangan, atau mendengar ancaman. Setelah setiap skenario, tanyakan: “Apa tindakan paling aman?” dan “Siapa orang dewasa yang bisa kamu cari?”
Dengarkan alasan anak takut ikut campur
Jangan langsung mengatakan, “Kamu harus berani membela teman.” Anak mungkin takut akan keselamatan dirinya atau mengalami tekanan dari kelompok. Akui kekhawatiran itu dan tekankan bahwa mencari bantuan juga merupakan tindakan berani. Satu dukungan kecil, seperti menemani korban atau memberi tahu guru, dapat berarti besar.
Bagaimana bila anak hanya merekam atau membagikan video?
Jelaskan bahwa merekam, menertawakan, atau meneruskan video perundungan dapat memperluas rasa malu dan menyakiti korban kembali. Anak sebaiknya tidak menyebarkan materi tersebut. Jika bukti digital diperlukan untuk melapor, simpan secara terbatas dan tunjukkan kepada orang dewasa yang menangani kasus, bukan membagikannya ke grup lain.
Laporkan melalui jalur sekolah yang berlaku saat ini
Di Indonesia, Kemendikdasmen kini menggunakan kerangka Budaya Sekolah Aman dan Nyaman berdasarkan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026. Kerangka ini menekankan perlindungan fisik dan psikologis, keamanan sosiokultural dan digital, serta keterlibatan warga sekolah dan keluarga. Mekanisme pelaporan dan penanganan perlu mengikuti informasi resmi sekolah serta ketentuan yang berlaku, bukan mengandalkan struktur aturan lama.
Ketika melapor, orang tua dapat menyampaikan informasi faktual dan meminta penjelasan tentang langkah perlindungan, pemantauan, serta tindak lanjut. Jangan menyebarkan identitas anak yang terlibat secara terbuka.
Setelah kejadian: bantu anak memproses perasaannya
Anak yang menjadi saksi mungkin merasa bersalah karena tidak bertindak atau takut kejadian terulang. Yakinkan bahwa ia sudah benar dengan bercerita dan orang dewasa akan membantu. Tanyakan apakah ia masih merasa aman di sekolah dan siapa yang bisa ia hubungi bila melihat kejadian serupa.
Inti yang perlu diingat
Anak yang menyaksikan perundungan perlu tahu bahwa ia dapat membantu tanpa membahayakan dirinya. Ajarkan untuk tidak ikut menyakiti, mencari orang dewasa, menemani korban, dan melaporkan fakta. Pencegahan perundungan merupakan tanggung jawab bersama, bukan beban anak yang kebetulan menyaksikan kejadian.
Orang tua dapat mempelajari langkah pendampingan lain melalui cara membantu anak menghadapi bullying dengan aman. Jelajahi juga panduan di kategori Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Bystanders to Bullying — StopBullying.gov.
- Cara Membicarakan Bullying dengan Anak Anda — UNICEF Indonesia.
- Budaya Sekolah Aman dan Nyaman — Kemendikdasmen.










