Pertemanan di sekolah dapat membawa pengalaman menyenangkan, tetapi anak juga mungkin menghadapi ejekan, pengucilan, atau perilaku yang menyakitkan. Tidak semua konflik sesaat merupakan perundungan, namun setiap anak berhak diperlakukan dengan hormat dan merasa aman. Dalam persiapan masuk SD, orang tua bisa mengenalkan bahwa anak boleh meminta bantuan saat interaksi teman membuatnya takut, terluka, atau terus-menerus merasa direndahkan. Kegiatan sosial yang menyenangkan dapat menjadi pelengkap dari langkah kecil menumbuhkan rasa percaya diri anak sesuai kesiapan anak.
Anak kelas satu belum tentu mampu menjelaskan kejadian secara runtut. Karena itu, orang tua perlu mendengarkan dengan tenang, tidak buru-buru menyalahkan, dan bekerja sama dengan sekolah saat ada kekhawatiran. Tujuannya bukan mengajari anak membalas ejekan, melainkan membangun keterampilan melindungi diri, melapor, serta memperkuat lingkungan yang aman bagi semua murid.
Bedakan konflik, ejekan, dan perundungan
Konflik bisa terjadi saat dua anak memiliki keinginan berbeda dan sama-sama mencoba menyelesaikannya. Ejekan dapat menyakitkan walau hanya sekali, sehingga tetap layak dibicarakan. Perundungan biasanya melibatkan perilaku menyakiti yang berulang dan ketimpangan kuasa, sehingga anak yang menjadi sasaran sulit menghentikannya sendiri. UNICEF menjelaskan ciri niat menyakiti, pengulangan, dan ketimpangan kuasa dalam panduan tentang perundungan.
Jangan menunggu label yang tepat untuk memberi dukungan. Jika anak menangis karena satu ejekan, dengarkan dan bantu ia merespons. Jika perilaku terus berulang, ada ancaman, pemaksaan, kekerasan fisik, atau anak merasa tidak aman, segera libatkan pihak sekolah yang bertanggung jawab.
Ajarkan respons yang aman dan realistis
Anak dapat berlatih kalimat singkat seperti “Aku tidak suka dipanggil begitu”, lalu menjauh ke tempat aman dan mendatangi guru. Namun, tidak semua situasi aman untuk menyuruh anak berbicara langsung. Bila lawan bicara lebih kuat, ada ancaman, atau anak merasa takut, prioritasnya adalah menjauh bila memungkinkan dan mencari bantuan. Jangan menuntut anak menyelesaikan perundungan sendirian.
Ajarkan juga keterampilan sebagai saksi: tidak ikut menertawakan, menemani teman yang terluka, dan memberi tahu guru. Anak tidak harus menghadapi kelompok yang lebih kuat atau melakukan konfrontasi berbahaya. Orang dewasa bertanggung jawab mengambil tindakan untuk menghentikan perilaku dan melindungi murid. Pengamatan kesiapan sosial dan emosi dapat dilengkapi lewat tanda kesiapan sosial dan emosional sebelum SD sambil menghormati ritme setiap anak.
Cara menerima cerita anak
Mulai dengan kalimat yang menunjukkan bahwa anak didengar: “Terima kasih sudah cerita” atau “Kamu tidak harus menyelesaikan ini sendirian.” Tanyakan apa yang terjadi, di mana, kapan, siapa yang ada, dan apakah ada bahaya sekarang. Beri waktu menjawab dan hindari pertanyaan yang menanamkan jawaban. Jika anak belum mampu mengingat detail, jangan memaksanya mengulang cerita berkali-kali.
Jangan langsung berkata “Kamu pasti juga mengganggu dia” atau “Abaikan saja”. Respons seperti itu dapat membuat anak berhenti bercerita. Orang tua boleh mencari informasi dari sekolah, tetapi lakukan dengan menjaga privasi dan tidak mengunggah cerita anak ke grup yang lebih luas.
Melaporkan kepada sekolah secara terarah
Catat contoh konkret: ucapan atau tindakan, waktu dan lokasi, apakah berulang, siapa yang melihat, dan bagaimana dampaknya. Sampaikan kepada guru kelas atau pihak yang ditunjuk sekolah untuk menangani masalah. Tanyakan bagaimana sekolah akan menjaga keamanan anak, memeriksa informasi, berkomunikasi dengan keluarga, dan memantau apakah perilaku berhenti.
UNICEF menyarankan orang tua bekerja sama dengan sekolah saat anak mengalami perundungan. Hindari menuntut penyelesaian di depan umum atau mempermalukan anak lain di media sosial. Penanganan perlu menjaga anak yang terdampak dan menangani perilaku yang menyakiti dengan cara yang tepat. Jika ada bahaya langsung atau dugaan kekerasan serius, prioritaskan keselamatan dan jalur bantuan resmi yang berlaku.
Jangan menjadikan kekuatan fisik sebagai solusi
Menyuruh anak membalas dengan pukulan atau ancaman dapat meningkatkan risiko cedera dan tidak menyelesaikan pola perundungan. Anak boleh mempertahankan batas secara verbal bila aman, tetapi harus tahu bahwa mencari bantuan bukan tindakan pengecut. Beri kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan kalimat, berjalan menuju guru, atau meminta teman menemani.
Jika anak justru ikut mengejek orang lain, tetap perlu bertindak. Dengarkan apa yang terjadi, jelaskan dampak perilaku, tetapkan batas, dan bantu memperbaiki kerugian tanpa mempermalukan. Perundungan perlu ditangani serius, tetapi pelabelan permanen terhadap anak yang melakukan perilaku juga tidak membantu perubahan.
Memantau keadaan setelah laporan
Setelah melapor, tanyakan kepada anak apakah ia merasa aman di kelas, saat istirahat, di toilet, dan saat perjalanan pulang. Jangan hanya menilai dari apakah anak masih menyebut kejadian. Perhatikan perubahan seperti enggan pergi sekolah, barang sering hilang, tidur terganggu, atau menjadi sangat waspada. Tanda-tanda ini tidak membuktikan satu penyebab, tetapi layak ditindaklanjuti.
Tetapkan jadwal komunikasi dengan sekolah dan catat tindak lanjut secara faktual. Jika respons sekolah belum memadai atau risiko berlanjut, gunakan mekanisme lanjutan yang tersedia di sekolah atau daerah. Anak perlu mendengar bahwa ia tidak bersalah karena melapor dan orang dewasa sedang bekerja untuk menjaga keselamatannya.
Lindungi anak dari beban menyelesaikan kasus sendiri
Saat ada dugaan perundungan, anak perlu mengetahui bahwa ia boleh melaporkan dan orang dewasa akan mengambil peran. Jangan meminta ia mengumpulkan bukti sendirian, menghadapi pelaku tanpa dukungan, atau mengatur pertemuan dengan keluarga lain. Catatan peristiwa dapat membantu orang tua, tetapi jangan memaksa anak mengulang cerita demi detail yang tidak ia ingat.
Setelah melapor, tanyakan apa yang membuat anak merasa lebih aman dan bagaimana sekolah akan memantau situasi. Bila ada risiko segera, tindakan perlindungan tidak seharusnya menunggu sampai semua detail sempurna. Tetap jaga privasi dan hindari menyebarkan foto, nama, atau cerita ke media sosial. Penanganan yang baik berfokus pada keselamatan, pemulihan, dan penghentian perilaku menyakiti.
Bantu anak pulih setelah kejadian
Selain menghentikan perilaku menyakiti, anak mungkin memerlukan waktu untuk merasa aman kembali. Tanyakan aktivitas mana yang masih terasa menakutkan dan siapa yang bisa ia cari. Jangan mendesak anak untuk segera memaafkan atau berteman lagi sebelum ia siap. Pemulihan dapat mencakup memastikan ia merasa aman di ruang kelas, mengetahui cara melapor, dan mendapatkan dukungan dari orang dewasa.
Jika sekolah meminta pertemuan bersama, tanyakan tujuan dan cara menjaga agar anak tidak dipermalukan atau ditekan. Pertemuan harus sesuai kebutuhan dan keselamatan, bukan dipakai untuk memaksa rekonsiliasi. Anak yang melakukan perilaku menyakiti juga memerlukan penanganan yang tepat agar memahami dampak tindakannya; itu tidak boleh mengurangi perlindungan bagi anak yang menjadi sasaran.
Contoh situasi
Tono berkata teman sekelas terus memanggilnya dengan nama julukan yang membuatnya malu. Orang tua mendengarkan tanpa langsung meminta Tono membalas. Mereka mencatat contoh kejadian dan menanyakan apakah perilaku itu berulang serta apakah ada ancaman. Setelah berbicara dengan guru, keluarga dan sekolah menyepakati cara melapor jika terjadi lagi dan memeriksa keadaan Tono setelah beberapa hari. Anak tidak dibiarkan menjadi satu-satunya pihak yang harus menghentikan perilaku tersebut.
Jika anak bercerita tentang ejekan: langkah awal
- Ajari anak mengenali tindakan yang menyakitkan dan berulang tanpa menuntut ia memberi label sendiri.
- Latih satu kalimat batas dan satu cara mencari bantuan.
- Dengarkan laporan tanpa menyalahkan atau mendorong pembalasan.
- Catat kejadian konkret dan koordinasikan dengan sekolah.
- Tinjau keamanan serta kesejahteraan anak setelah tindak lanjut.
Hal yang perlu diamati
Jika ada kekerasan fisik, ancaman, pemerasan, pemaksaan, atau anak merasa dalam bahaya, segera utamakan keselamatan dan hubungi pihak sekolah yang bertanggung jawab atau layanan setempat sesuai situasi. Jangan memaksa anak bertemu langsung dengan pihak yang menyakitinya sebagai syarat penyelesaian.
Pertanyaan orang tua
Apakah satu ejekan sudah termasuk perundungan?
Satu ejekan tetap dapat menyakitkan dan perlu ditangani. Istilah perundungan biasanya merujuk pada pola berulang dengan ketimpangan kuasa, tetapi dukungan tidak perlu menunggu istilah itu dipastikan.
Haruskah orang tua langsung menghubungi keluarga anak lain?
Biasanya mulailah melalui guru atau prosedur sekolah agar informasi diperiksa dan keamanan anak terjaga. Hindari konfrontasi di depan anak atau melalui media sosial.
Inti yang perlu diingat
Anak perlu tahu bahwa ia boleh menceritakan pengalaman yang menyakitkan dan tidak wajib menghadapinya sendiri. Keterampilan merespons membantu, tetapi perlindungan dan penanganan perundungan tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa serta sekolah.
Untuk topik lain seputar tumbuh kembang dan pengasuhan, kunjungi artikel tentang menjaga keamanan dan hubungan sosial anak, lalu pilih bacaan yang paling sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Sumber dan bacaan lanjutan
-
Cara Membicarakan Bullying dengan Anak Anda — UNICEF Indonesia. Panduan memulai percakapan, mengenali tanda, mendengarkan anak, dan bekerja sama dengan sekolah.
-
How to Talk to Your Child’s School About Bullying — UNICEF Parenting. Panduan berkoordinasi dengan sekolah saat ada dugaan perundungan.
-
Budaya Sekolah Aman dan Nyaman — Cerdas Berkarakter, Kemendikdasmen. Kerangka resmi lingkungan sekolah yang melindungi fisik dan psikologis serta melibatkan keluarga.










