Seorang anak berada di halaman sekolah tidak jauh dari beberapa teman sebayanya.
Amati pola interaksi dan dengarkan cerita anak sebelum menyimpulkan penyebab pengucilan.
Sosialisasi & Pertemanan

Anak Dijauhi Teman? Cara Mengenali Pengucilan dan Memberi Dukungan

Anak yang dijauhi teman membutuhkan dukungan dan penelusuran situasi, bukan langsung disuruh mengalah atau mencari teman lain. Kenali tanda pengucilan dan langkah orang tua.

Mendengar anak berkata, “Mereka tidak mau bermain denganku,” dapat terasa menyakitkan bagi orang tua. Kita mungkin ingin segera menghubungi orang tua teman, meminta guru menegur kelompok tersebut, atau menyuruh anak mencari teman lain. Sebelum bertindak, cobalah memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ada perbedaan antara satu kali tidak diajak bermain, perubahan kelompok pertemanan, dan pengucilan yang dilakukan berulang untuk menyakiti atau mengendalikan anak.

Pengucilan dapat membuat anak merasa tidak diterima, tetapi satu kejadian belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ia mengalami perundungan. Orang tua perlu mencari pola, konteks, dan dampaknya. Pendampingan yang baik membantu anak merasa didengar sekaligus memastikan lingkungan sosialnya aman.

Apa yang dimaksud dengan dijauhi atau dikucilkan?

Dalam percakapan sehari-hari, “dijauhi” dapat berarti teman tidak mengajak anak bermain, menghindarinya, atau sengaja mengeluarkannya dari kelompok. Perilaku tersebut perlu dilihat lebih dekat: apakah terjadi sekali atau berulang, apakah ada tujuan menyakiti, dan apakah kelompok memiliki kekuatan sosial yang membuat anak sulit membela diri?

UNICEF menjelaskan bahwa perundungan umumnya ditandai oleh tindakan yang disengaja untuk menyakiti, terjadi berulang, dan melibatkan perbedaan kekuasaan. Baca penjelasan UNICEF tentang cara mengenali dan membicarakan bullying. Kerangka ini membantu orang tua tidak menyamakan semua konflik atau penolakan dengan perundungan, tetapi tetap serius menanggapi pola yang merugikan.

Hal yang perlu ditanyakan tanpa menyalahkan anak

Mulailah dengan pertanyaan yang memberi kesempatan anak menjelaskan. Misalnya:

  • “Apa yang terjadi sebelum mereka tidak mengajakmu?”
  • “Apakah ini pernah terjadi sebelumnya atau baru hari ini?”
  • “Apakah ada yang mengatakan sesuatu kepadamu?”
  • “Kamu merasa aman saat berada di kelas dan waktu istirahat?”

Hindari pertanyaan seperti “Kamu tadi melakukan apa sampai dijauhi?” karena terdengar seolah anak pasti menjadi penyebab. Jika anak belum lancar bercerita, minta ia menggambarkan situasi lewat gambar atau menceritakan bagian yang paling ia ingat. Jangan memaksa pengakuan atau detail ketika ia terlihat kewalahan.

Amati pola, bukan hanya satu momen

Catat secara sederhana kapan kejadian berlangsung, siapa yang terlibat, tindakan apa yang terlihat, dan apakah ada saksi. Perhatikan juga perubahan pada anak, seperti enggan berangkat sekolah, menghindari kegiatan tertentu, kehilangan barang, atau menjadi sangat murung setelah pulang. Tanda-tanda ini bukan bukti tunggal bullying, tetapi dapat membantu orang tua dan guru menelusuri situasi secara lebih objektif.

Jika memungkinkan, tanyakan kepada guru apakah anak memiliki teman saat kegiatan lain, apakah pengucilan terjadi di kelas maupun saat istirahat, dan bagaimana pola interaksi kelompok. Hindari meminta anak lain mengonfirmasi cerita melalui obrolan yang dapat mempermalukan atau memperbesar konflik.

Ketika anak benar-benar mengalami pengucilan berulang

Jika terlihat pola yang disengaja, berulang, dan membuat anak tidak berdaya, jangan menempatkan seluruh tanggung jawab pada anak untuk “lebih pandai bergaul”. Sekolah perlu ikut memastikan interaksi aman dan menghentikan perilaku yang merugikan. Sampaikan informasi konkret kepada wali kelas atau pihak yang bertanggung jawab di sekolah, lalu sepakati bagaimana keamanan anak akan dipantau.

Mintalah tindak lanjut yang jelas: siapa orang dewasa yang dapat dicari anak, di mana ia bisa meminta bantuan, bagaimana pengawasan saat istirahat, dan kapan orang tua akan menerima kabar perkembangan. Simpan catatan komunikasi. Hindari konfrontasi langsung yang emosional dengan anak lain di depan banyak orang karena dapat memperburuk situasi.

Dukungan emosional yang bisa diberikan di rumah

Anak perlu tahu bahwa perlakuan orang lain tidak menentukan nilai dirinya. Anda dapat mengatakan bahwa ia berhak diperlakukan dengan hormat, dan ia tidak harus menyukai semua orang untuk memiliki hubungan yang baik. Ajak ia melakukan kegiatan yang disukai dengan orang yang membuatnya nyaman, misalnya sepupu, tetangga, atau teman dari kegiatan olahraga dan seni.

Jangan mendesak anak untuk langsung memaafkan atau kembali bermain dengan kelompok yang membuatnya tidak aman. Pemulihan hubungan harus mempertimbangkan perubahan perilaku dan rasa aman, bukan hanya permintaan maaf sesaat. Anak boleh membutuhkan waktu untuk percaya lagi.

Bedakan dukungan sosial dari memaksa anak membalas

Latihan keterampilan sosial bisa membantu dalam sebagian situasi, misalnya anak belum tahu cara meminta bergabung atau ingin mencari teman dengan minat yang sama. Namun, latihan tersebut tidak boleh dipakai untuk menyalahkan anak ketika ia dikucilkan. Ajarkan respons yang aman, seperti mencari teman lain yang bersikap ramah, mendekati guru, atau mengatakan “Aku tidak mau diperlakukan seperti itu” bila aman dilakukan.

Jika ada ancaman, kekerasan fisik, penghinaan terus-menerus, atau risiko keselamatan, utamakan perlindungan daripada melatih anak menyelesaikan konflik sendiri. Kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kemendikdasmen menekankan perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta keterlibatan keluarga dan warga sekolah.

Contoh cara menghubungi guru

“Anak kami bercerita beberapa kali tidak diizinkan bergabung saat istirahat. Kami belum ingin menyimpulkan penyebabnya, tetapi ingin memahami apa yang terjadi dan memastikan ia merasa aman. Apakah Bapak/Ibu dapat membantu mengamati situasi saat bermain dan memberi tahu langkah yang dapat kita lakukan bersama?”

Pesan semacam ini berfokus pada pengamatan dan perlindungan, bukan tuduhan. Bila guru telah mengamati hal yang sama, sepakati tindak lanjut. Bila pengamatan berbeda, tetap cari cara mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.

Inti yang perlu diingat

Anak dijauhi teman tidak selalu berarti ia mengalami bullying, tetapi perasaannya tetap perlu ditanggapi. Dengarkan, cari pola kejadian, ajak guru bekerja sama, dan pastikan anak memiliki tempat yang aman untuk bercerita. Jangan meminta anak menanggung sendiri situasi yang membutuhkan campur tangan orang dewasa.

Untuk membedakan tanda pengucilan dan perundungan, lihat juga tanda anak mengalami bullying di sekolah. Jelajahi juga bacaan lain seputar Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Sumber dan bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.