Seorang pendamping berbicara dengan anak-anak saat mereka bermain di taman.
Setelah ajakan ditolak, bantu anak mempertimbangkan cara lain untuk bergabung atau memilih permainan berbeda.
Sosialisasi & Pertemanan

Menghadapi Penolakan Teman: Cara Mendukung Anak saat Tidak Diajak Bermain

Tidak diajak bermain dapat membuat anak sedih atau merasa tidak diterima. Bantu anak memaknai penolakan, mencoba pilihan lain, dan mengenali kapan situasi perlu ditelusuri.

Anak datang dari sekolah dengan wajah murung karena teman-temannya bermain tanpa mengajaknya. Ia mungkin berkata, “Mereka tidak suka aku.” Bagi orang tua, dorongan untuk segera menghibur atau menghubungi teman tersebut bisa sangat kuat. Sebelum melakukan apa pun, akui dulu bahwa tidak diajak bermain memang dapat terasa menyakitkan. Setelah itu, bantu anak memahami kejadian secara lebih utuh dan menentukan langkah yang ia rasa aman.

Penolakan dapat terjadi dalam banyak bentuk. Terkadang anak tidak diajak karena permainan sudah dimulai atau kelompok sedang membatasi jumlah pemain. Di lain waktu, penolakan muncul berulang sebagai cara mengucilkan atau menyakiti. Perbedaan ini penting agar orang tua tidak menganggap semua penolakan sebagai perundungan, tetapi juga tidak meremehkan pola yang terus merugikan anak.

Dengarkan sebelum memberi solusi

Mulailah dengan kalimat yang mengakui perasaan: “Kamu kecewa karena ingin ikut bermain, tetapi tidak diajak.” Biarkan anak menjelaskan. Pertanyaan seperti “Apa yang kamu harapkan terjadi?” atau “Apa yang mereka katakan?” membantu mendapatkan gambaran tanpa menyalahkan anak.

Jangan buru-buru berkata “Cari teman lain saja” atau “Jangan terlalu dipikirkan”. Nasihat tersebut mungkin benar sebagai salah satu pilihan, tetapi terlalu cepat diberikan dapat membuat anak merasa tidak dipahami. Dengarkan dulu, baru diskusikan alternatif yang bisa dilakukan.

Ajarkan penolakan tidak selalu bermakna sama

Jika teman menolak karena permainan sudah penuh, anak dapat menunggu giliran atau memilih aktivitas lain. Jika teman sedang ingin bermain berdua, anak dapat menghormati pilihan itu tanpa menganggap dirinya tidak berharga. Namun, bila kelompok terus-menerus menolak anak yang sama sambil mengejek, mengancam, atau mengatur orang lain agar menjauhinya, situasinya perlu ditelusuri lebih serius.

Orang tua dapat membantu anak membedakan fakta dan dugaan. Fakta: “Hari ini mereka bermain tanpa mengajakku.” Dugaan: “Semua orang membenciku.” Perbedaan ini bukan untuk meremehkan perasaan, tetapi membantu anak tidak menyimpulkan seluruh hubungan dari satu peristiwa.

Berikan beberapa pilihan respons

  • Mencoba lagi di waktu lain. Anak dapat bertanya apakah boleh ikut pada babak berikutnya.
  • Mengajak teman lain. Ia dapat mencari teman yang juga ingin melakukan kegiatan yang sama.
  • Memilih aktivitas sendiri. Bermain sendiri sesekali bukan tanda kegagalan sosial jika anak merasa nyaman dan memiliki kesempatan berinteraksi.
  • Meminta bantuan guru. Ini tepat ketika anak bingung, berulang kali ditolak, atau merasa tidak aman.

Latih kalimat sederhana seperti, “Kalau selesai, boleh aku ikut?” atau “Aku mau bermain bola. Ada yang mau ikut?” Latihan ini memberi anak pilihan, bukan jaminan bahwa setiap ajakan akan diterima.

Jangan memaksa anak mempertahankan satu pertemanan

Orang tua boleh membantu anak memperluas kesempatan bertemu teman melalui hobi, olahraga, seni, kegiatan lingkungan, atau pertemuan singkat dengan satu teman. Namun, jangan memaksanya terus mendekati anak yang berulang kali menyakitinya. Pertemanan yang baik memberi ruang bagi kedua pihak untuk memilih dan merasa aman.

Raising Children Network menyarankan agar orang tua membiarkan anak membangun pertemanan dengan kecepatannya sendiri, sambil tetap mendengarkan masalah yang dialami dan mencari dukungan guru bila diperlukan. Lihat panduan mendukung pertemanan anak usia sekolah.

Kapan perlu menghubungi guru?

Hubungi guru bila penolakan terjadi berulang, anak mulai takut ke sekolah, tidak memiliki teman bermain sama sekali dan tampak tertekan, atau ada ejekan dan ancaman. Sampaikan contoh kejadian beserta waktu dan tempatnya. Tanyakan apakah guru melihat situasi yang sama dan bagaimana sekolah dapat memastikan semua anak memperoleh lingkungan yang aman.

Jika ada tanda perundungan, jangan meminta anak menyelesaikannya sendiri hanya dengan bersikap lebih ramah. Orang dewasa perlu memastikan perlindungan dan mengawasi apakah perilaku yang merugikan berhenti.

Menguatkan anak setelah pengalaman ditolak

Ingatkan anak tentang hal yang ia sukai dan hubungan lain yang berjalan baik. Ajak melakukan kegiatan yang membuatnya merasa mampu. Hindari menjadikan pengalaman penolakan sebagai identitas, seperti “Kamu memang susah punya teman.” Sebaliknya, tekankan bahwa satu pengalaman tidak menentukan masa depan pertemanannya.

Jika anak terus merasa sedih, menarik diri dari banyak kegiatan, atau menunjukkan perubahan yang mengganggu keseharian, pertimbangkan berdiskusi dengan tenaga profesional yang sesuai. Dukungan dapat membantu anak memahami perasaan dan membangun strategi menghadapi hubungan sosial tanpa menyalahkan dirinya.

Contoh percakapan

“Tidak diajak bermain hari ini pasti membuatmu kecewa. Kita belum tahu apakah mereka sedang menyelesaikan permainan atau memang sengaja menolakmu. Besok kamu bisa mencoba bertanya lagi, memilih teman lain, atau bicara dengan guru kalau kejadian ini terus berulang. Ayah akan mendengarkan dan membantu.”

Inti yang perlu diingat

Penolakan teman adalah pengalaman sosial yang dapat melukai, tetapi tidak selalu berarti anak tidak disukai. Dengarkan ceritanya, bantu memahami konteks, berikan pilihan respons, dan telusuri pola berulang bersama sekolah. Anak perlu tahu bahwa ia berharga meskipun tidak semua ajakan bermain diterima.

Jika penolakan membuat anak merasa kesepian, lihat juga ketika anak merasa kesepian meski memiliki teman. Jelajahi juga bacaan lain dalam kategori Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.