Anak-anak berbincang bersama di dekat lingkungan sekolah.
Tekanan sosial dapat muncul ketika anak merasa harus mengikuti kelompok agar diterima, meniru kebiasaan teman, atau menyembunyikan minatnya karena takut diejek.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Mengenali Tekanan Sosial pada Anak Usia Sekolah dan Cara Mendampinginya

Tekanan sosial dapat muncul ketika anak merasa harus mengikuti kelompok agar diterima, meniru kebiasaan teman, atau menyembunyikan minatnya karena takut diejek.

Tekanan sosial dapat muncul ketika anak merasa harus mengikuti kelompok agar diterima, meniru kebiasaan teman, atau menyembunyikan minatnya karena takut diejek. Orang tua dapat membantu anak mengenali pengaruh kelompok tanpa menganggap semua pertemanan sebagai ancaman.

Kenali bentuk tekanan yang dialami anak

Tekanan tidak selalu berupa paksaan langsung. Anak mungkin merasa perlu memiliki barang tertentu, ikut mengejek teman, mengirim foto, atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak nyaman. Tanyakan situasi spesifik, bukan sekadar apakah teman-temannya baik.

Dengarkan dahulu tanpa langsung melarang pertemanan. Larangan menyeluruh dapat membuat anak menyembunyikan pengalaman. Bantu ia melihat bahwa hubungan sehat memberi ruang untuk berkata tidak, berbeda pendapat, dan tetap dihargai.

Latih kalimat untuk menolak dengan aman

Anak dapat mencoba kalimat singkat seperti, “Aku tidak mau ikut,” “Itu bukan buatku,” atau “Aku harus tanya orang tua dulu.” Latihan melalui bermain peran membantu anak menemukan kata-kata yang terasa alami.

Tidak semua situasi aman diselesaikan dengan konfrontasi. Bila ada ancaman atau ketimpangan kuasa, ajarkan anak menjauh dan mencari orang dewasa tepercaya. Jangan membebankan tanggung jawab menghentikan perundungan kepada anak seorang diri. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan UNICEF tentang perlindungan anak.

Bangun komunikasi yang membuat anak mau bercerita

Tanyakan pengalaman sosial secara terbuka dan teratur, bukan hanya saat muncul masalah. Ceritakan juga bagaimana orang dewasa menghadapi tekanan kelompok. Sikap ingin tahu lebih membantu daripada ceramah panjang tentang teman yang buruk.

Buat kesepakatan keluarga mengenai keselamatan, uang, media sosial, dan aktivitas luar rumah. Jelaskan alasan di balik batasan, dan dengarkan bila anak memiliki pandangan berbeda. Aturan yang dipahami lebih mudah dijalankan daripada aturan yang terasa sewenang-wenang. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke mengajarkan anak menjaga batas pribadi dengan teman untuk persiapan masuk sd.

Libatkan sekolah ketika situasi berulang atau tidak aman

Jika tekanan melibatkan ejekan, ancaman, pengucilan, atau permintaan yang melanggar privasi, catat kejadian dan bicarakan dengan guru atau pihak sekolah. Fokus pada perilaku, waktu, dan dampak, bukan memberi label kepada semua anak yang terlibat.

Jika anak menunjukkan kecemasan berat atau perubahan fungsi sehari-hari, minta bantuan profesional. Upaya sekolah dan keluarga perlu saling melengkapi; jangan meminta anak menyelesaikan sendiri masalah yang memerlukan intervensi orang dewasa. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan UNICEF tentang keselamatan anak di internet.

Contoh dalam keseharian

Anak bercerita bahwa teman-temannya meminta ia mengejek seorang murid agar tetap dianggap bagian dari kelompok. Orang tua dapat bertanya apa yang membuatnya sulit menolak, lalu berlatih satu kalimat penolakan dan menentukan guru yang bisa ia datangi.

Hal yang perlu diingat

Mendampingi tekanan sosial berarti membangun kemampuan anak menilai situasi, menjaga batas pribadi, dan mencari dukungan. Tujuannya bukan membuat anak selalu berbeda dari teman, melainkan memastikan ia tidak perlu mengorbankan keselamatan atau martabat agar diterima.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.