Anak melihat sahabatnya bermain dengan teman lain, lalu berkata, “Aku tidak mau berteman dengannya lagi.” Ada juga anak yang kesal ketika temannya mendapat pujian, hadiah, atau kesempatan lebih dulu. Reaksi seperti ini bisa muncul ketika anak merasa hubungannya terancam, membandingkan diri, atau belum tahu cara menyampaikan rasa kecewa.
Cemburu adalah perasaan yang dapat dialami anak maupun orang dewasa. Perasaan itu sendiri bukan kesalahan. Yang perlu dibimbing adalah tindakan yang muncul setelahnya, misalnya melarang teman bermain dengan orang lain, merebut barang, menyebarkan cerita buruk, atau mengucilkan seseorang. Anak dapat belajar bahwa ia boleh merasa iri dan tetap memilih perilaku yang menghormati orang lain.
Cari tahu apa yang sebenarnya membuat anak cemburu
Jangan langsung menasihati, “Tidak boleh iri.” Kalimat tersebut tidak membantu anak memahami pengalaman yang sedang ia rasakan. Coba tanyakan, “Kamu sedih karena temanmu bermain dengan anak lain?” atau “Kamu ingin mendapat kesempatan yang sama?” Kadang anak bukan ingin memiliki sesuatu yang sama, tetapi takut tidak lagi dianggap penting.
Perhatikan konteksnya. Apakah rasa cemburu muncul setelah sahabat mulai dekat dengan teman lain, ketika anak kalah dalam permainan, atau ketika orang dewasa lebih banyak memuji anak lain? Memahami pemicu membantu orang tua membedakan kebutuhan akan perhatian, keinginan mendapat giliran, dan kekhawatiran kehilangan hubungan.
Akui perasaan tanpa menyetujui tindakan yang merugikan
Orang tua dapat berkata, “Kamu ingin tetap dekat dengan temanmu. Rasanya tidak enak saat melihat dia bermain dengan orang lain.” Setelah itu, tegaskan batas: “Namun, kita tidak boleh melarang teman punya teman lain atau menyakiti orang yang sedang bermain dengannya.” Anak belajar bahwa perasaan dapat diterima, tetapi semua tindakan tetap memiliki batas.
Hindari mengejek anak karena cemburu atau menyebutnya manja. Rasa malu dapat membuat anak menyembunyikan perasaannya, bukan belajar mengelolanya.
Ajarkan bahwa pertemanan tidak harus eksklusif
Anak perlu memahami bahwa seseorang dapat memiliki lebih dari satu teman. Kedekatan tidak selalu hilang ketika sahabat bermain dengan orang lain. Gunakan contoh keluarga: orang tua bisa menyayangi beberapa anggota keluarga sekaligus tanpa mengurangi perhatian kepada salah satunya. Jelaskan dengan bahasa sederhana dan hindari janji bahwa teman akan selalu tersedia setiap saat.
Anda bisa berkata, “Kamu tetap boleh mengajak dia bermain. Kalau hari ini dia sedang bermain dengan teman lain, kamu bisa memilih kegiatan lain atau mengajak anak yang juga ingin bermain.” Ini membantu anak melihat pilihan selain mengontrol orang lain.
Latih respons ketika teman bermain dengan orang lain
- Tarik napas dan beri nama perasaan: “Aku sedang cemburu.”
- Pikirkan pilihan: menunggu, ikut bermain bila diizinkan, atau mencari kegiatan lain.
- Gunakan kalimat yang jujur tanpa menuduh: “Aku kangen bermain denganmu. Kapan kita bisa bermain bersama?”
- Terima bahwa teman boleh menjawab belum bisa atau sedang ingin melakukan hal lain.
Latihan ini dapat dilakukan melalui cerita atau bermain peran. Orang tua menjadi teman yang sedang bermain dengan anak lain, lalu anak mencoba beberapa respons. Setelah itu, tukar peran agar anak memahami bahwa dirinya juga memiliki hak menentukan dengan siapa ia bermain.
Bangun rasa mampu di luar satu hubungan
Jika seluruh rasa percaya diri anak bergantung pada satu teman, perubahan kecil dalam kelompok dapat terasa sangat besar. Bantu anak mengembangkan kegiatan lain yang ia sukai: olahraga, seni, membaca, bermain dengan sepupu, atau aktivitas komunitas. Tujuannya bukan mengalihkan anak dari perasaan, melainkan memperluas pengalaman bahwa ia dapat merasa nyaman dalam beberapa hubungan dan kegiatan.
Hargai hubungan yang positif tanpa mengukur nilainya dari popularitas. Panduan Raising Children Network tentang pertemanan anak usia sekolah menekankan pentingnya dukungan keluarga dan memberi anak kesempatan membangun persahabatan dengan kecepatannya sendiri.
Perhatikan bila rasa cemburu berubah menjadi kontrol atau perundungan
Jika anak berulang kali melarang teman bermain dengan orang lain, mengancam akan memutus pertemanan, menyebarkan rumor, atau mengatur kelompok agar seseorang dikucilkan, perilaku itu perlu dihentikan. Bantu anak memahami dampaknya dan cari cara memperbaiki hubungan. Bila pola tersebut menetap atau melibatkan intimidasi, koordinasikan dengan guru atau konselor sekolah.
Sebaliknya, jika anak menjadi sasaran perilaku mengontrol dari temannya, jangan menyuruhnya terus mengalah demi mempertahankan persahabatan. Bicarakan batas yang sehat dan cari dukungan orang dewasa ketika situasi membuatnya takut atau tidak nyaman.
Contoh percakapan singkat
“Kamu boleh merasa sedih saat temanmu bermain dengan orang lain. Itu tidak berarti kamu kehilangan teman. Kamu bisa mengajaknya bermain di waktu lain, dan dia juga boleh punya teman lain. Kita pikirkan kegiatan yang bisa kamu lakukan sekarang.”
Inti yang perlu diingat
Ketika anak cemburu pada teman, bantu ia mengenali rasa iri, memahami kebutuhan di baliknya, dan memilih respons yang tidak mengontrol orang lain. Pertemanan sehat memberi ruang untuk kedekatan sekaligus kebebasan. Anak dapat belajar menjaga hubungan tanpa harus memiliki atau menguasai temannya.
Untuk memahami rasa kesepian dan kebutuhan diterima, baca juga ketika anak merasa kesepian meski memiliki teman. Jelajahi juga artikel lain tentang pertemanan anak untuk bacaan lain yang relevan.
Bacaan lanjutan
- How to Help Your Child Make Friends — Raising Children Network.
- Kids Who Need a Little Help to Make Friends — Child Mind Institute.










