Ketika seorang teman menangis karena mainannya rusak, sebagian anak langsung mendekat untuk menghibur. Anak lain mungkin hanya melihat, bingung harus berbuat apa, atau tetap melanjutkan permainan. Respons yang berbeda tidak otomatis menunjukkan anak tidak peduli. Memahami perasaan orang lain merupakan kemampuan yang berkembang dan perlu dibantu melalui pengalaman, contoh, serta percakapan yang sesuai usia.
Empati berarti berusaha mengenali dan memahami apa yang mungkin dirasakan orang lain. Empati bukan berarti anak harus selalu mengalah atau bertanggung jawab membuat semua orang senang. Anak dapat memahami bahwa temannya kecewa, sambil tetap memiliki hak untuk mempertahankan batas atau pendapatnya sendiri.
Mulai dari mengenali perasaan sendiri
Anak lebih mudah membicarakan perasaan orang lain ketika ia memiliki kosakata untuk menjelaskan pengalaman sendiri. Gunakan kata sederhana seperti senang, sedih, kecewa, takut, kesal, malu, atau khawatir. Ketika anak gagal menyusun balok, misalnya, orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena bangunannya roboh setelah lama dibuat.” Kalimat ini membantu anak menghubungkan kejadian dengan perasaan tanpa menghakimi.
Jangan memaksa anak segera berhenti menangis atau menerima penjelasan. Dengarkan lebih dulu, lalu bantu mencari cara menghadapi situasi. Mengakui perasaan bukan berarti membenarkan semua perilaku. Orang tua tetap dapat menetapkan batas, misalnya, “Kamu boleh marah, tetapi tidak boleh memukul.”
Gunakan cerita untuk melihat sudut pandang berbeda
Ketika membaca buku cerita atau menonton cerita anak bersama, berhenti sejenak pada bagian ketika tokoh mengalami masalah. Tanyakan:
- “Menurutmu, bagaimana perasaan tokoh ini?”
- “Apa yang membuatnya merasa seperti itu?”
- “Apa yang mungkin ia butuhkan sekarang?”
- “Apa yang bisa dilakukan tokoh lain untuk membantunya?”
Terima jawaban yang beragam. Jika anak belum tahu, tawarkan beberapa kemungkinan tanpa menyatakan hanya ada satu jawaban. Misalnya, tokoh yang diam bisa sedang sedih, lelah, atau ingin sendiri. Anak belajar bahwa kita tidak selalu tahu perasaan orang lain hanya dari melihat wajahnya.
Latih empati lewat pengalaman sehari-hari
Empati menjadi lebih nyata ketika anak melihat tindakan kecil yang dapat dilakukan. Saat adik menjatuhkan pensil, anak dapat membantu mengambilkannya. Ketika teman tidak kebagian alat gambar, anak dapat menawarkan bergantian jika ia bersedia. Ketika teman tampak sedih, ia dapat bertanya, “Kamu mau ditemani?”
Ajarkan bahwa membantu juga perlu menghormati pilihan orang lain. Teman yang sedih mungkin tidak ingin dipeluk. Anak dapat menawarkan bantuan, lalu menerima jawaban. Menghormati penolakan merupakan bagian dari empati, bukan tanda kurang peduli.
Contoh kalimat untuk merespons teman
| Situasi | Respons yang dapat dicontohkan |
|---|---|
| Teman jatuh | “Kamu baik-baik saja? Mau aku panggil Bu Guru?” |
| Teman kecewa kalah | “Kamu sedih, ya. Mau istirahat sebentar?” |
| Teman tidak diajak bermain | “Mau bermain bersamaku?” |
| Teman tidak ingin dipeluk | “Tidak apa-apa. Aku duduk di sini saja.” |
Orang tua dapat bermain peran dengan boneka atau figur kecil. Buat skenario sederhana, lalu biarkan anak memilih respons. Setelah itu diskusikan dampaknya: apakah tindakan tersebut membantu, membuat orang lain lebih nyaman, atau justru melanggar batas?
Jadilah contoh empati saat berhadapan dengan orang lain
Anak belajar dari cara orang tua memperlakukan anggota keluarga, tetangga, petugas layanan, dan orang yang memiliki pendapat berbeda. Ketika orang tua mendengarkan tanpa mengejek, meminta maaf setelah menyakiti perasaan, atau menawarkan bantuan dengan hormat, anak melihat empati dalam praktik.
Jika orang tua salah membaca perasaan anak, tidak apa-apa untuk memperbaiki diri. Katakan, “Tadi Ibu mengira kamu marah, ternyata kamu sedang sedih karena temanmu pulang. Terima kasih sudah menjelaskan.” Sikap terbuka ini menunjukkan bahwa memahami orang lain membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan dan mengoreksi dugaan.
Jangan menjadikan empati sebagai tuntutan untuk selalu mengalah
Kalimat “Kasihan temanmu, berikan saja mainanmu” dapat mengajarkan bahwa empati berarti mengorbankan semua keinginan sendiri. Padahal anak juga perlu belajar bahwa barang pribadi memiliki batas dan setiap orang bisa bergantian. Orang tua dapat membantu mencari solusi yang adil: menggunakan timer, memilih mainan lain, atau menunggu sampai pemilik selesai bermain.
Empati juga tidak berarti anak harus berteman dengan semua orang. Ia dapat bersikap sopan dan tidak menyakiti orang lain, tetapi tetap memilih menjaga jarak dari perilaku yang membuatnya tidak nyaman atau tidak aman.
Bagaimana mengetahui latihan mulai dipahami?
Perhatikan usaha kecil, bukan menuntut anak selalu memberi respons sempurna. Anak mungkin mulai bertanya apakah teman baik-baik saja, menawarkan bantuan, menunggu sebelum mengambil barang, atau mengubah cara bicara setelah melihat temannya kecewa. Beri komentar spesifik seperti, “Kamu tadi memperhatikan temanmu sedih lalu menawarkan duduk bersama. Itu tindakan yang peduli.”
CDC mencantumkan kemampuan menghibur orang yang terluka atau sedih sebagai salah satu tonggak sosial-emosional yang umumnya tampak pada usia 4 tahun. Informasi ini dapat dibaca dalam panduan tonggak perkembangan usia 4 tahun. Namun, satu respons saja tidak cukup untuk menilai seluruh perkembangan empati seorang anak.
Inti yang perlu diingat
Empati tumbuh melalui hubungan yang hangat, bahasa untuk mengenali perasaan, contoh nyata, dan kesempatan berlatih. Bantu anak memahami orang lain tanpa memaksanya selalu mengalah. Ketika ia belajar peduli sekaligus menghargai batas, ia sedang membangun dasar pertemanan yang lebih sehat.
Orang tua juga dapat melihat contoh kegiatan sosial melalui aktivitas di rumah untuk melatih kemampuan sosial sebelum TK. Jelajahi juga koleksi Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.
Bacaan lanjutan
- Milestones by 4 Years — CDC.
- Cara Membicarakan Bullying dengan Anak Anda — UNICEF Indonesia.










