Beberapa anak mengerjakan kegiatan bersama di meja kelas.
Perbedaan minat dan cara bekerja dapat dibicarakan dengan bahasa yang menghargai.
Sosialisasi & Pertemanan

Mengajarkan Toleransi pada Anak: Belajar Menghargai Perbedaan dalam Pertemanan

Toleransi membantu anak menghargai perbedaan kebiasaan, kemampuan, minat, dan pendapat. Mulailah dari contoh keluarga dan pengalaman berteman sehari-hari.

Anak mungkin bertanya mengapa temannya membawa bekal yang berbeda, berbicara dengan cara yang tidak sama, atau tidak bisa mengikuti permainan secepat anak lain. Pertanyaan seperti itu dapat menjadi kesempatan untuk mengenalkan toleransi. Orang tua tidak perlu memberi ceramah panjang. Penjelasan sederhana, contoh yang menghormati orang lain, dan pengalaman berinteraksi dapat membantu anak memahami bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek atau mengucilkan.

Toleransi dalam pertemanan berarti menghormati hak orang lain untuk memiliki kebiasaan, minat, kemampuan, latar belakang, atau pendapat yang berbeda. Toleransi bukan berarti semua perilaku harus diterima. Perilaku yang menyakiti, merendahkan, atau membahayakan tetap perlu diberi batas.

Kenalkan perbedaan lewat hal yang dekat dengan anak

Mulai dari hal sehari-hari: teman menyukai permainan yang berbeda, keluarga memiliki kebiasaan makan yang tidak sama, atau seseorang membutuhkan alat bantu untuk bergerak dan belajar. Jelaskan sesuai usia dan gunakan bahasa yang tidak merendahkan. Misalnya, “Temanmu memakai alat bantu dengar supaya lebih mudah mendengar. Kita bisa berbicara dengan jelas dan menanyakan cara terbaik berkomunikasi dengannya.”

Hindari menjadikan anak yang berbeda sebagai bahan tontonan atau meminta mereka menjelaskan kondisi pribadi demi memuaskan rasa ingin tahu kelompok. Bila anak bertanya, jawab secukupnya dan tekankan bahwa setiap orang berhak dihormati.

Ajarkan tiga sikap saat bertemu perbedaan

  • Ingin tahu dengan sopan. Anak boleh bertanya, tetapi perlu belajar memilih kata dan waktu yang tepat.
  • Menghormati pilihan. Teman boleh tidak menyukai makanan, permainan, atau kegiatan yang sama.
  • Mencari cara agar semua dapat berpartisipasi. Jika satu permainan sulit diikuti, kelompok dapat mengubah aturan atau memilih peran yang memungkinkan setiap anak ikut.

Berikan contoh praktis. Saat anak berkata, “Aku tidak mau bermain dengannya karena dia lambat,” orang tua dapat menanggapi, “Setiap orang punya kecepatan berbeda. Kita bisa memilih permainan yang dapat dinikmati bersama, atau membagi peran supaya semua kebagian.”

Periksa pesan yang ditangkap anak dari perilaku orang dewasa

Anak memperhatikan komentar orang tua tentang tetangga, keluarga, teman sekolah, penampilan, bahasa, pekerjaan, atau kebiasaan kelompok lain. Candaan yang merendahkan dapat dianggap anak sebagai cara yang wajar untuk membicarakan perbedaan. Sebaliknya, saat orang tua mendengarkan tanpa mengejek dan mengoreksi stereotip dengan tenang, anak mendapat contoh konkret.

Jika orang tua tidak mengetahui jawaban, katakan dengan jujur, “Ibu belum tahu. Kita bisa mencari tahu dari sumber yang tepat.” Ini lebih baik daripada memberi penjelasan yang keliru atau menyimpulkan sesuatu dari penampilan seseorang.

Contoh aktivitas untuk membangun sikap inklusif

Orang tua dapat membuat aktivitas sederhana seperti membaca cerita dengan tokoh yang memiliki latar dan kemampuan beragam, memilih permainan yang memungkinkan semua anak ikut, atau meminta anak mengidentifikasi kesukaan yang sama dan berbeda antara anggota keluarga. Fokusnya bukan membuat daftar siapa yang “normal” atau “berbeda”, melainkan menunjukkan bahwa setiap orang punya kekuatan dan kebutuhan masing-masing.

Saat mengundang teman bermain, tanyakan kegiatan apa yang dapat dinikmati bersama. Tidak semua anak harus berlari, berbicara cepat, atau mengikuti aturan yang rumit. Ada banyak cara berpartisipasi: menjadi penjaga skor, memilih musik, menyusun alat, atau memberi ide.

Ketika anak mengejek atau menolak teman karena perbedaan

Hentikan ucapan yang merendahkan secara jelas tetapi tidak mempermalukan anak di depan umum. Sebutkan perilakunya: “Kamu menertawakan cara temannya berbicara. Itu bisa menyakitinya. Kita tidak mengejek cara orang berbicara.” Setelah situasi tenang, ajak anak memahami dampak dan berlatih kalimat yang lebih menghargai.

Jika tindakan berulang atau melibatkan pengucilan yang disengaja, jangan berhenti pada nasihat singkat. Bekerja samalah dengan sekolah agar anak yang menjadi sasaran terlindungi dan perilaku diperbaiki. Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dari Kemendikdasmen menekankan lingkungan yang inklusif, aman secara sosial, serta menghargai martabat warga sekolah.

Toleransi tidak sama dengan membiarkan perlakuan buruk

Anak perlu memahami bahwa menghargai perbedaan tidak berarti ia harus menerima ejekan, sentuhan yang tidak diinginkan, atau tekanan untuk melakukan sesuatu yang tidak aman. Ia boleh berkata tidak dan meminta bantuan orang dewasa. Begitu juga, kita tidak boleh meminta anak yang menjadi sasaran untuk terus mengalah demi menjaga suasana kelompok.

Kalimat yang bisa digunakan di rumah

“Kita tidak harus menyukai hal yang sama untuk bisa saling menghargai. Kamu boleh memilih permainan lain, tetapi tidak boleh mengejek teman yang memilih berbeda. Kalau ingin bermain bersama, kita cari aturan yang adil dan aman.”

Inti yang perlu diingat

Toleransi tumbuh melalui kebiasaan menghormati orang lain dalam hal-hal kecil. Beri anak kosakata yang sopan, contoh dari perilaku keluarga, dan kesempatan berinteraksi dalam lingkungan yang beragam. Pada saat yang sama, ajarkan bahwa setiap orang berhak memiliki batas dan terlindungi dari perilaku yang menyakiti.

Pembahasan tentang menghormati aturan dan batas saat bermain bersama teman juga ada dalam menetapkan batasan saat anak berkunjung ke rumah teman. Jelajahi juga kategori Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.