Seorang pendamping duduk bersama dua anak yang sedang berbicara di ruang kelas.
Orang dewasa dapat membantu anak bergantian menjelaskan kejadian dan mencari kesepakatan.
Sosialisasi & Pertemanan

Anak Bertengkar dengan Teman: Cara Mendampingi Konflik tanpa Cepat Memihak

Konflik pertemanan dapat menjadi kesempatan belajar jika semua anak aman. Ketahui kapan orang tua perlu menengahi, cara mendengar dua sisi, dan membantu anak mencari solusi.

Suatu sore, anak pulang dan berkata bahwa ia tidak mau berteman lagi dengan Rafi karena mainannya direbut. Beberapa menit kemudian, orang tua menerima pesan bahwa Rafi merasa anak Anda lebih dulu mengambil alat permainan. Dalam situasi seperti ini, mudah bagi orang tua untuk langsung membela anak sendiri atau segera mencari siapa yang salah. Namun, konflik antarteman sering kali memiliki lebih dari satu sudut pandang dan belum tentu semua informasi sudah disampaikan dengan lengkap.

Tujuan mendampingi konflik bukan menentukan pemenang secepat mungkin. Orang tua perlu memastikan semua anak aman, memahami apa yang terjadi, lalu membantu mereka menemukan cara yang lebih baik untuk menghadapi perbedaan. Anak tidak harus menyelesaikan semua masalah sendiri, terutama ketika emosi sedang tinggi atau ada perilaku yang membahayakan.

Mulai dari keselamatan dan jeda

Jika pertengkaran terjadi di depan orang tua, hentikan tindakan yang membahayakan terlebih dahulu. Pisahkan anak bila ada dorongan, pukulan, lemparan benda, atau ancaman. Gunakan suara tegas dan singkat: “Berhenti. Kita tidak boleh menyakiti.” Setelah semua aman, beri waktu agar anak lebih tenang sebelum mengajak mereka membahas masalah.

Meminta anak langsung saling meminta maaf ketika masih marah sering kali tidak menyelesaikan akar masalah. Mereka mungkin mengucapkan kata maaf hanya agar percakapan selesai, tanpa memahami tindakan yang perlu diperbaiki. Jeda singkat dapat membantu anak kembali berpikir dan mendengarkan.

Dengar cerita setiap anak secara terpisah bila perlu

Gunakan pertanyaan netral, bukan pertanyaan yang sudah memuat tuduhan. Misalnya, “Apa yang terjadi sebelum kalian mulai marah?” atau “Apa yang kamu inginkan saat itu?” Dengarkan tanpa memotong. Anak mungkin hanya menceritakan bagian yang ia ingat atau bagian yang paling membuatnya kesal. Orang tua perlu berhati-hati untuk tidak mengubah dugaan menjadi fakta.

Jika anak masih kecil, bantu menyusun urutan: apa yang sedang dilakukan, siapa menggunakan benda terlebih dahulu, apa yang dikatakan, dan tindakan apa yang terjadi setelahnya. Bila ada guru atau pengasuh yang menyaksikan, mintalah gambaran tambahan. Hindari meminta anak mengulang cerita berkali-kali di depan orang lain sehingga ia merasa diadili.

Panduan tiga langkah untuk membahas konflik

Artikel National Association for the Education of Young Children (NAEYC) menjelaskan pendekatan yang dapat membantu anak memahami konflik: menyebutkan perilaku yang terjadi, menjelaskan dampaknya, lalu mengarahkan anak untuk mengatasi masalah. Prinsipnya dapat disesuaikan dalam pendampingan keluarga.

  1. Jelaskan tindakan yang terlihat. “Kamu menarik balok dari tangan temanmu.” Hindari label seperti “kamu selalu egois”.
  2. Jelaskan dampaknya. “Temanmu sedang menggunakannya dan sekarang ia kaget serta marah.”
  3. Bantu mencari jalan keluar. “Apa yang bisa kalian lakukan agar permainan dapat berlanjut dengan aman?”

Untuk contoh penerapan di lingkungan anak usia dini, baca pendekatan tiga langkah membantu anak menghadapi konflik. Ini merupakan bahan praktik pendidikan, bukan rumus yang harus diterapkan kaku dalam semua situasi keluarga.

Bantu anak memilih solusi yang adil

Solusi tidak selalu berarti kedua anak mendapat hal yang persis sama. Mereka dapat bergiliran, menukar peran, membuat aturan baru, menggunakan benda berbeda, atau menghentikan permainan sementara. Tanyakan kebutuhan setiap anak: apakah ia ingin benda itu sekarang, ingin didengar, atau ingin permainan dihentikan?

Jika masalahnya mainan yang sedang digunakan, orang tua dapat membantu menyepakati giliran dengan penanda waktu yang sederhana. Jika masalahnya aturan permainan, minta anak menyebutkan aturan yang disepakati sebelum babak berikutnya. Bila tidak ada kesepakatan, mereka boleh memilih permainan lain.

Contoh kalimat untuk anak

  • “Aku masih memakai ini. Setelah selesai, kamu boleh pinjam.”
  • “Aku tidak suka kalau didorong. Tolong berhenti.”
  • “Kita belum sepakat. Ayo tanya orang dewasa untuk membantu.”
  • “Aku mau istirahat dulu. Nanti kita bisa coba lagi.”

Ajarkan kalimat ini saat anak sedang tenang. Ketika konflik terjadi, ia mungkin belum mampu mengingat semua pilihan. Orang tua dapat mengingatkan dengan satu kalimat sederhana, lalu memberi waktu anak merespons.

Kapan orang tua sebaiknya tidak menjadi penengah utama?

Jika anak-anak sedang bernegosiasi dengan aman, orang tua dapat mengamati dan memberi kesempatan mereka mencoba. Terlalu cepat mengambil alih dapat membuat anak kehilangan kesempatan berlatih. Namun, orang dewasa perlu turun tangan ketika ada risiko cedera, perbedaan kuasa yang besar, ancaman, penghinaan berulang, atau satu anak tidak mampu menghentikan situasi.

Konflik yang berulang dengan anak yang sama juga perlu ditelusuri. Catat apa yang biasanya memicu pertengkaran, apakah ada pola ejekan atau pengucilan, dan apakah kedua anak memiliki kesempatan yang seimbang untuk menyampaikan pendapat. Bila terjadi di sekolah, koordinasikan dengan guru.

Jangan memaksa persahabatan setelah konflik

Setelah masalah selesai, anak tidak harus langsung bermain kembali. Mereka boleh membutuhkan waktu. Minta anak memperbaiki tindakan yang merugikan, misalnya mengembalikan barang, memperbaiki sesuatu yang rusak, atau menyampaikan permintaan maaf yang tulus. Namun, jangan memaksa anak yang disakiti untuk langsung menerima permintaan maaf atau memeluk temannya.

Inti yang perlu diingat

Pertengkaran teman dapat menjadi momen belajar jika orang dewasa memastikan keamanan, mendengar cerita dengan adil, menyebut perilaku secara spesifik, dan membantu anak mencari solusi. Jangan buru-buru mencari pemenang. Bimbing anak memahami dampak, memperbaiki kesalahan, serta mengetahui kapan perlu meminta bantuan.

Ketika konflik muncul, keluarga dapat memakai panduan mengajak anak menyepakati cara berkomunikasi saat sedang marah. Jelajahi juga bacaan Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.

Bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.