Seorang ibu dan anak berbincang sambil menggunakan kartu atau catatan di meja.
Saat marah, anak dan orang tua sama-sama dapat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau sulit mendengar satu sama lain.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Mengajak Anak Menyepakati Cara Berkomunikasi saat Sedang Marah

Saat marah, anak dan orang tua sama-sama dapat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau sulit mendengar satu sama lain.

Saat marah, anak dan orang tua sama-sama dapat mengucapkan kata-kata yang menyakitkan atau sulit mendengar satu sama lain. Menyepakati cara berkomunikasi sebelum konflik terjadi dapat membantu keluarga memiliki pegangan sederhana ketika emosi meningkat. Kesepakatan ini bukan larangan untuk marah, melainkan cara menjaga keselamatan dan rasa hormat selama berbeda pendapat.

Buat kesepakatan ketika semua sedang tenang

Pilih waktu santai untuk membahas apa yang biasanya terjadi saat anggota keluarga marah. Tanyakan hal yang membuat percakapan sulit, lalu sepakati tindakan yang membantu, seperti menurunkan suara, tidak menghina, dan mengambil jeda singkat.

Kesepakatan perlu realistis dan berlaku bagi orang tua juga. Anak akan sulit memahami aturan “tidak boleh membentak” bila orang dewasa menggunakannya saat kesal. Akui bahwa semua anggota keluarga sedang belajar mengelola emosi.

Pilih tanda jeda dan waktu kembali bicara

Keluarga dapat menggunakan kalimat “Kita jeda dulu” atau isyarat tertentu ketika percakapan mulai memanas. Tentukan kapan akan kembali membahas masalah, agar jeda tidak terasa seperti menghindari atau menghukum dengan diam.

Untuk anak kecil, orang tua mungkin perlu membantu menjaga keselamatan dan menenangkan situasi. Anak tidak harus menyelesaikan emosi sendiri. Berikan ruang yang aman dan tetap tersedia sebagai pendamping. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan CDC mengenai pengasuhan positif dan hubungan orang tua-anak.

Bedakan perasaan dari tindakan yang melukai

Setiap orang boleh merasa marah, kecewa, atau frustrasi. Namun, memukul, mengancam, menghina, dan merusak barang tetap perlu dihentikan. Sampaikan batas ini secara konsisten tanpa mempermalukan anak.

Ajarkan kalimat pengganti, misalnya “Aku tidak suka”, “Aku butuh waktu”, atau “Tolong dengarkan dulu.” Latih saat suasana baik, sehingga anak tidak harus menemukan kata-kata baru ketika sedang sangat emosional. Topik ini juga berkaitan dengan contoh komunikasi dua arah dengan anak saat konflik dalam pola asuh demokratis dan cara menyelesaikan perbedaan pendapat dengan anak secara tenang dalam pola asuh demokratis.

Evaluasi dan perbaiki kesepakatan

Setelah konflik selesai, bicarakan apa yang membantu dan apa yang perlu diubah. Jika orang tua melanggar kesepakatan, akui dan minta maaf. Kesepakatan keluarga adalah alat belajar bersama, bukan kontrak untuk menghukum pihak yang gagal.

Jika konflik melibatkan ancaman, kekerasan, atau rasa takut yang berulang, aturan komunikasi saja tidak cukup. Prioritaskan keselamatan dan cari bantuan profesional atau layanan terkait. Jangan meminta anak bernegosiasi dengan orang dewasa yang membahayakan dirinya. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan pengasuhan UNICEF Indonesia.

Contoh dalam keseharian

Keluarga Nino menyepakati bahwa siapa pun boleh mengatakan “jeda sebentar” ketika suara mulai meninggi. Mereka juga sepakat kembali membicarakan masalah setelah semua lebih tenang. Suatu hari ibu menggunakan tanda itu, lalu mengakui bahwa ia tadi berbicara terlalu keras.

Hal yang perlu diingat

Kesepakatan komunikasi membantu keluarga menjaga hubungan ketika emosi meningkat. Buat aturan sederhana, berlaku untuk semua anggota keluarga, dan evaluasi setelah digunakan. Bila ada kekerasan atau ancaman, keselamatan dan bantuan profesional harus didahulukan.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.