Keranjang berisi bahan rajut lembut diletakkan di dekat bantal sofa.
Benda yang lembut dan aman dapat menjadi pilihan aktivitas pengganti saat anak perlu menyalurkan energi.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Anak Suka Melempar Barang Saat Marah? Cara Mengajarkan Respons yang Lebih Aman

Pahami pemicu anak melempar barang ketika marah dan ajarkan cara menyalurkan emosi tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Suara benda jatuh atau pecah saat anak marah bisa membuat orang tua langsung panik. Melempar barang tidak boleh dibiarkan karena dapat melukai orang, merusak benda, atau membuat situasi makin tidak aman. Namun, respons yang hanya berisi bentakan juga tidak mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan anak. Kita perlu menghentikan tindakan, memahami pemicunya, lalu memberi alternatif yang jelas dan aman.

Amankan ruangan sebelum memberi nasihat

Singkirkan benda tajam, berat, mudah pecah, atau berpotensi melukai. Jauhkan saudara dan hewan peliharaan. Jika anak sedang memegang benda berbahaya, utamakan keselamatan dan minta bantuan orang dewasa lain bila perlu. Gunakan kalimat singkat: “Aku tidak membiarkan benda dilempar karena bisa melukai.” Hindari merebut dengan gerakan kasar yang dapat memperbesar risiko.

Kenali pesan di balik lemparan

Anak bisa melempar karena frustrasi, ingin menghentikan aktivitas, mencari reaksi, belum bisa meminta bantuan, atau sedang kewalahan. Perhatikan apakah benda tertentu selalu dilempar, apakah terjadi ketika diminta berhenti bermain, atau setelah ada konflik. Catat juga apakah anak tampak kehilangan kendali atau masih merespons lingkungan. Ini membantu menentukan strategi pencegahan.

Berikan alternatif yang benar-benar aman

Saat anak sudah lebih tenang, tunjukkan pilihan seperti meremas bantal, merobek kertas bekas, melempar bola kain ke keranjang yang disiapkan, menghentakkan kaki di alas, atau meminta jeda. Alternatif harus disesuaikan usia, ruang, dan pengawasan. Jangan memberi benda keras sebagai “pengganti” jika masih dapat melukai.

Ajarkan kata untuk meminta bantuan

Latih kalimat sederhana: “Aku kesal”, “Bantu aku”, atau “Aku belum selesai.” Untuk anak yang belum lancar bicara, gunakan isyarat atau gambar. Latihan dilakukan saat suasana baik, bukan hanya ketika anak marah. Ketika ia mulai menggunakan cara baru, tanggapi dan puji dengan spesifik agar perilaku pengganti lebih mungkin diulang.

Gunakan konsekuensi yang terkait dan masuk akal

Jika mainan dilempar, mainan dapat disimpan sementara karena belum digunakan dengan aman. Jelaskan tanpa ancaman: “Balok kita simpan dulu. Nanti kita coba lagi ketika tangan sudah siap bermain.” Setelah itu, ajak anak membantu merapikan bila ia sudah mampu dan aman. Bila lemparan sering, menimbulkan cedera, atau terjadi di banyak lingkungan, mintalah evaluasi profesional.

Buat rencana ketika anak mulai frustrasi

Sebelum bermain, jelaskan bahwa benda yang dilempar dapat melukai. Siapkan keranjang untuk bola kain atau ruang untuk meremas bantal, lalu latih saat anak tenang. Jika ia mulai mengepalkan tangan atau meninggikan suara, ingatkan strategi yang sudah dikenal. Rencana sederhana yang dipraktikkan berulang lebih mudah digunakan daripada daftar nasihat panjang yang baru diberikan setelah benda beterbangan.

Ajarkan pilihan yang aman saat anak tenang

Setelah kejadian, jangan berhenti pada larangan “jangan melempar”. Tunjukkan apa yang boleh dilakukan: meletakkan benda keras, melempar bola kain ke keranjang, meminta bantuan, atau menjauh sejenak. Latih pilihan itu saat anak belum marah. Jika lemparan berulang kali ditujukan ke orang atau benda berbahaya, kurangi akses terhadap benda tersebut dan cari bantuan profesional untuk memahami pemicunya. Keselamatan harus menjadi prioritas, bukan menunggu anak memahami nasihat.

Artikel AAP tentang perilaku agresif pada anak kecil dapat menjadi bacaan pendamping untuk memahami cara mencegah dan merespons perilaku memukul atau menggigit.

Langkah yang bisa dicoba orang tua

  • Pindahkan benda berbahaya dan lindungi orang sekitar.
  • Gunakan batas yang singkat dan konsisten.
  • Ajarkan alternatif menyalurkan energi yang aman dan sesuai usia.
  • Hubungkan konsekuensi dengan perilaku, bukan mempermalukan anak.

Pertanyaan yang sering muncul

Bolehkah anak melempar benda lunak saat marah?

Bisa menjadi alternatif dalam situasi terstruktur dan aman, misalnya bola kain ke keranjang, jika sesuai usia dan diawasi. Namun, ajarkan bahwa tidak semua benda boleh dilempar dan orang bukan sasaran.

Inti yang perlu diingat

Pahami pemicu anak melempar barang ketika marah dan ajarkan cara menyalurkan emosi tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Mulailah dari langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Perubahan membutuhkan waktu, latihan, dan dukungan yang konsisten.

Temukan bacaan lain seputar pengasuhan dan perkembangan keluarga di panduan Parenting BisaBaca.

Sumber dan bacaan lanjutan

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.