Ketika anak berulang kali menjawab “tidak”, membantah, atau marah saat diminta berhenti bermain, orang tua mungkin merasa setiap kegiatan berubah menjadi pertengkaran. Namun, perilaku menolak arahan tidak selalu berarti anak sengaja melawan. Ia mungkin sedang menguji kemandirian, belum memahami instruksi, kewalahan, sulit beralih aktivitas, atau merasa tidak punya pilihan. Memahami penyebab membantu orang tua memilih respons yang lebih tepat daripada sekadar menaikkan suara.
Cari tahu kapan penolakan paling sering terjadi
Amati apakah anak menolak semua arahan atau hanya pada situasi tertentu: saat terburu-buru, lelah, mengerjakan tugas sulit, atau menghentikan permainan. Perhatikan juga apakah instruksi terlalu panjang atau terdiri dari beberapa langkah. Catatan singkat selama beberapa hari dapat menunjukkan pola yang sebelumnya tidak terlihat.
Buat instruksi singkat, konkret, dan sesuai usia
Daripada berkata “Rapikan semuanya sekarang”, bagi tugas menjadi “Masukkan tiga mobil ke kotak.” Pastikan anak memperhatikan sebelum memberi instruksi. Untuk anak kecil, satu perintah pada satu waktu sering lebih mudah dipahami. Hindari bertanya seolah-olah memberi pilihan jika sebenarnya keputusan tidak bisa ditawar, misalnya “Mau mandi tidak?” ketika waktu mandi memang sudah tiba.
Berikan pilihan yang sungguh-sungguh
Pilihan terbatas membantu anak merasakan kendali tanpa menghilangkan batas. “Kamu mau memakai piyama biru atau hijau?” lebih jelas daripada “Mau tidur atau tidak?” Pastikan kedua pilihan dapat diterima orang tua. Jika anak tidak memilih, orang tua dapat memilih dengan tenang dan tetap memberi kesempatan anak berpartisipasi.
Hubungkan arahan dengan hubungan yang hangat
Anak lebih mudah bekerja sama ketika merasa diperhatikan, bukan hanya dikoreksi. Sisihkan waktu bermain atau berbincang tanpa instruksi. Saat anak mencoba mengikuti arahan, sebutkan perilaku spesifik: “Kamu langsung menyimpan sepatu setelah Ibu minta. Itu membantu kita siap berangkat.” Pujian yang jelas memberi informasi tentang tindakan yang diharapkan.
Tetap tenang ketika jawaban anak adalah “tidak”
Ulangi batas satu kali, jelaskan alasan penting bila perlu, lalu bantu anak memulai langkah pertama. Hindari adu argumen panjang, ancaman yang tidak ditepati, atau hukuman fisik. Jika kemarahan sangat intens, terjadi lintas situasi, atau mengganggu sekolah dan hubungan, diskusikan dengan tenaga profesional untuk memahami faktor perkembangan, emosi, atau lingkungan.
Contoh arahan saat rutinitas pagi
Jika anak marah saat diminta memakai sepatu, periksa apakah ia terganggu oleh tali, ukuran, atau terburu-buru. Beri peringatan sebelum waktu berangkat dan siapkan dua pilihan sepatu yang nyaman. Jika penolakan terjadi setiap pagi, tanyakan apakah ada hal yang tidak menyenangkan di sekolah. Perubahan kecil pada lingkungan kadang lebih efektif daripada terus mengulang perintah dengan suara lebih keras.
Periksa kebutuhan di balik penolakan
Anak yang sering menolak arahan mungkin belum memahami instruksi, sedang asyik, kelelahan, merasa kehilangan kendali, atau menghadapi tugas yang terlalu sulit. Coba berikan satu arahan pada satu waktu dan pastikan anak mendengar sebelum instruksi diberikan. Bila penolakan hanya muncul pada kegiatan tertentu, cari tahu apa yang membuatnya berat. Konsistensi penting, tetapi konsistensi tidak berarti mengulang perintah yang sama tanpa mengevaluasi penyebabnya.
Panduan American Academy of Pediatrics tentang disiplin anak juga menekankan arahan yang sesuai usia, konsistensi, dan pengajaran perilaku positif.
Langkah yang bisa dicoba orang tua
- Perhatikan pola waktu, situasi, dan jenis instruksi yang memicu penolakan.
- Beri arahan satu per satu dengan kata kerja yang konkret.
- Sediakan dua pilihan yang sama-sama aman dan dapat diterima.
- Berikan perhatian positif saat anak menunjukkan kerja sama.
Pertanyaan yang sering muncul
Bagaimana jika anak tetap menolak setelah diberi pilihan?
Tetap tenang dan jalankan batas yang sudah dijelaskan. Orang tua tidak harus menawar terus-menerus. Bantu anak memulai tugas, lalu beri dukungan sesuai kebutuhan.
Inti yang perlu diingat
Cara memahami pemicu kemarahan, menetapkan arahan yang jelas, dan membangun kerja sama tanpa memberi cap anak pembangkang. Mulailah dari langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Perubahan membutuhkan waktu, latihan, dan dukungan yang konsisten.
Temukan bacaan lain seputar pengasuhan dan perkembangan keluarga di panduan Parenting BisaBaca.
Sumber dan bacaan lanjutan
- What’s the Best Way to Discipline My Child? — American Academy of Pediatrics.
- 10 Tips to Prevent Aggressive Behavior in Young Children — American Academy of Pediatrics.
- Serve and Return: Back-and-forth exchanges — Harvard Center on the Developing Child.









