Ketika anak menangis keras, berteriak, menjatuhkan tubuh, atau menolak bergerak, orang tua bisa merasa malu, lelah, bahkan ikut marah. Pada anak kecil, tantrum sering muncul ketika perasaan besar bertemu kemampuan berkomunikasi dan mengatur diri yang masih berkembang. Tantrum bukan alasan untuk membiarkan perilaku yang membahayakan, tetapi juga bukan saat yang tepat untuk memberi ceramah panjang.
Mulai dari keselamatan dan ketenangan
Jika anak berada dekat jalan, benda tajam, atau tempat yang berisiko, pindahkan ke tempat yang lebih aman dengan tenang. Bila ia memukul, menendang, atau menggigit, hentikan perilaku itu secara tegas tanpa membalas dengan kekerasan. Gunakan kalimat pendek, misalnya, “Aku tidak akan membiarkan kamu memukul. Aku akan menjagamu tetap aman.”
Orang tua tidak harus merasa tenang sempurna. Cobalah menurunkan suara, mengendurkan bahu, dan mengambil satu napas perlahan sebelum merespons. Jika orang dewasa mulai kehilangan kendali, selama anak aman, ambil jeda singkat atau minta orang dewasa tepercaya membantu.
Akui perasaan, bukan semua perilaku
Kalimat seperti “Kamu kecewa karena waktunya bermain sudah selesai” membantu anak merasa diperhatikan tanpa berarti aturan harus dibatalkan. Hindari memberi cap seperti “nakal”, “manja”, atau “cengeng”. Label semacam itu tidak mengajarkan langkah berikutnya yang bisa dilakukan anak.
Saat emosi sedang memuncak, gunakan sedikit kata. Menjelaskan panjang lebar, mengajukan banyak pertanyaan, atau menuntut anak segera meminta maaf biasanya kurang membantu pada saat itu. Setelah anak mulai tenang, barulah ajak bicara dan berlatih cara yang lebih aman untuk menyampaikan keinginan.
Gunakan pilihan kecil bila situasi memungkinkan
Pilihan terbatas bisa memberi anak rasa ikut menentukan tanpa mengubah batas utama. Contohnya, “Kita akan pulang sekarang. Kamu mau berjalan sendiri atau berpegangan tangan?” Pilihan ini berbeda dari bertanya apakah anak mau pulang ketika keputusan sudah dibuat.
Jika tantrum sering terjadi ketika anak lapar, lelah, terburu-buru, atau harus berpindah aktivitas, amati polanya selama beberapa hari. Coba beri peringatan sebelum transisi, sediakan waktu tambahan, atau sesuaikan rencana saat anak sudah kelelahan. Tidak semua pemicu dapat dicegah, dan setiap anak memiliki temperamen berbeda.
Bangun kembali hubungan setelah suasana reda
Setelah anak tenang, sambut kembali tanpa mempermalukan atau mengungkit kejadian berulang kali. Bantu ia menemukan kata untuk perasaan dan pikirkan satu langkah yang bisa dicoba lain kali: meminta bantuan, memilih dari dua pilihan, atau menyampaikan “aku masih ingin bermain”. Konsistensi dan latihan berulang lebih bermanfaat daripada berharap anak langsung bisa mengendalikan diri setiap saat.
Jika tantrum terasa sangat sering atau berat, menimbulkan risiko keselamatan, atau membuat keluarga sangat kesulitan, bicarakan kekhawatiran tersebut dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai. Artikel ini memberi panduan umum, bukan diagnosis untuk kondisi tertentu.
Langkah kecil yang bisa dicoba hari ini
- Amankan lingkungan sebelum memberi penjelasan.
- Gunakan satu kalimat pendek untuk menyatakan perasaan dan batas.
- Perhatikan pemicu seperti lapar, lelah, atau perubahan kegiatan.
- Bicarakan solusi setelah anak kembali tenang.
Ingat: Menemani anak saat tantrum bukan berarti membiarkan semua perilaku. Orang tua dapat tetap hangat sekaligus tegas menjaga keselamatan.
