Hari pertama SD bisa menjadi pengalaman besar bagi anak maupun orang tua. Anak yang biasanya bersama keluarga mungkin menangis saat harus masuk kelas; orang tua pun bisa merasa bersalah ketika meninggalkannya. Melatih anak berpisah dari orang tua sebelum masuk SD bukan tentang membuat anak tidak menangis sama sekali. Tujuannya membantu anak memahami bahwa perpisahan sementara memiliki pola, orang dewasa tepercaya tersedia, dan orang tua akan mengikuti rencana penjemputan yang disepakati.
Setiap anak memiliki cara berbeda menghadapi perpisahan. Ada yang cepat menyesuaikan diri, ada yang perlu pengenalan lebih lama. Jangan bandingkan respons anak dengan teman sebaya atau menganggap tangisan sebagai bukti bahwa ia tidak siap sekolah.
Mulai dari latihan yang singkat dan dapat diprediksi
- Beri tahu rencana. Jelaskan siapa yang menjaga, berapa lama, dan siapa yang kembali menjemput.
Manfaat bagi anak: Anak mendapat gambaran tentang apa yang akan terjadi.
- Latihan singkat. Berpisah sebentar dengan pengasuh tepercaya di lingkungan aman.
Manfaat bagi anak: Perpisahan memiliki awal dan akhir yang jelas.
- Gunakan ritual. Pelukan, salam khusus, lalu kalimat perpisahan yang sama.
Manfaat bagi anak: Ada pola yang dapat dikenali.
- Perpanjang jika siap. Tambah durasi atau situasi baru secara bertahap, tanpa memaksa.
Manfaat bagi anak: Anak memperoleh pengalaman adaptasi yang semakin luas.
Jujur dan konsisten ketika berpamitan
Jangan diam-diam pergi ketika anak lengah jika hal itu dapat merusak kepercayaannya. Beri tahu bahwa orang tua akan pergi dan kapan akan kembali berdasarkan rencana yang realistis. Gunakan kalimat singkat: “Ibu pamit sekarang. Pak Guru akan menemanimu, dan Ibu menjemput setelah kegiatan sesuai jadwal.” Setelah berpamitan, ikuti prosedur sekolah agar pesan yang diterima anak tetap konsisten.
Jika anak menangis, akui perasaannya tanpa memperpanjang perpisahan dengan janji yang berubah-ubah. “Kamu sedih karena Ibu pergi. Pak Guru di sini untuk membantu. Ibu akan datang pada waktu jemput.” Koordinasikan dengan guru mengenai cara mengantar dan apa yang membantu anak kembali tenang. Hindari mengatakan bahwa menangis itu memalukan.
Pegangan saat berpamitan: Perpisahan yang hangat dapat mengakui perasaan anak sekaligus tetap memberi pesan bahwa orang dewasa memiliki rencana yang jelas. Catatan editorial Parenting BisaBaca.
Benda penghibur dan rutinitas
Tanyakan kepada sekolah apakah anak boleh membawa benda kecil yang menenangkan, karena aturan setiap sekolah berbeda. Jika tidak memungkinkan, buat ritual alternatif seperti gambar kecil di buku catatan, kata penyemangat, atau gerakan tangan khusus saat berpamitan. Benda bukan pengganti komunikasi dengan guru, tetapi dapat menjadi pengingat hubungan yang aman.
UNICEF Indonesia merekomendasikan skenario berpamitan yang singkat dan positif, kunjungan ke sekolah, serta rutinitas yang mulai dibangun sebelum hari pertama. Baca saran UNICEF Indonesia untuk transisi dari rumah ke sekolah. American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa kecemasan berpisah dapat muncul pada masa perubahan lingkungan dan bahwa dukungan tambahan mungkin dibutuhkan ketika rasa takut terus mengganggu aktivitas sehari-hari: panduan AAP tentang ketakutan dan kecemasan anak.
Kapan latihan perlu dievaluasi?
Jika ketakutan meningkat, perpisahan membuat anak mengalami penderitaan yang berat dan berlangsung terus, atau anak mulai menolak banyak aktivitas lain, bicarakan dengan sekolah dan tenaga kesehatan. Tanyakan apakah ada faktor khusus yang membuatnya takut, seperti pengalaman tidak menyenangkan, kesulitan komunikasi, atau kebutuhan dukungan yang belum terpenuhi. Hindari menarik kesimpulan hanya dari satu kali menangis saat masuk kelas.
Untuk menambah rasa akrab, coba mengenalkan sekolah sebelum hari pertama dan membicarakan perasaan tentang sekolah. Dalam proses ini, orang tua juga boleh meminta dukungan dari guru, pasangan, atau keluarga. Perubahan besar lebih mudah dihadapi ketika orang dewasa yang terlibat menyampaikan rencana yang konsisten.
Orang tua juga perlu menyiapkan diri
Melihat anak menangis ketika berpamitan dapat memicu rasa bersalah. Perasaan itu manusiawi, tetapi anak terbantu ketika orang dewasa berpegang pada rencana jelas dan bekerja sama dengan guru. Sebelum hari pertama, sepakati prosedur antar-jemput dan cara menghubungi sekolah. Jika anak membutuhkan dukungan khusus, bagikan informasi yang relevan melalui saluran yang tepat.
Ritual berpamitan tidak harus panjang: peluk, katakan siapa yang menjemput, ucapkan salam, lalu ikuti prosedur sekolah. Hindari menyelinap pergi atau berulang kali mengancam akan pergi jika anak tidak berhenti menangis. Tanyakan kepada guru bagaimana keadaan anak setelah orang tua pergi, apakah ia bisa kembali ke kegiatan, dan bantuan apa yang terlihat efektif. Jika perpisahan terus menyebabkan tekanan berat atau anak mulai menghindari banyak aktivitas, mintalah saran dari tenaga profesional yang sesuai.
Hindari latihan yang berubah menjadi hukuman
Jangan menggunakan ancaman berpisah sebagai cara membuat anak patuh, misalnya mengatakan akan meninggalkannya jika ia tidak berhenti menangis. Hal ini dapat membuat proses berpamitan terasa tidak aman. Latihan singkat harus memiliki rencana yang jelas, dilakukan dengan pengasuh tepercaya, dan ditingkatkan sesuai respons anak. Jika percobaan sebelumnya membuat anak sangat tertekan, mundur satu tahap dan diskusikan pendekatan dengan orang yang mendampingi anak.
Ketika rencana penjemputan berubah, beri tahu anak sesegera mungkin dan pastikan orang dewasa yang bertanggung jawab memahami perubahan. Konsistensi bukan berarti tidak pernah ada perubahan; konsistensi berarti perubahan dijelaskan dan orang dewasa memastikan keselamatan anak.







