Dipukul oleh anak sendiri bisa terasa mengejutkan, menyakitkan, bahkan membuat orang tua marah. Reaksi spontan seperti membentak atau membalas pukulan mungkin muncul, terutama ketika perilaku ini berulang. Namun, memukul perlu dihentikan dengan tegas tanpa kekerasan. Pada anak kecil, perilaku agresif kadang muncul karena kemampuan bahasa, kontrol impuls, dan penyelesaian masalah masih berkembang. Pada usia yang lebih besar, pemicunya bisa lebih beragam sehingga perlu diamati.
Pahami fungsi perilaku tanpa membenarkannya
Anak bisa memukul ketika marah, frustrasi, berebut benda, ingin menghentikan sesuatu, mencari reaksi, atau belum tahu cara meminta ruang. Ada juga anak yang bertindak saat kelelahan, kewalahan oleh rangsangan, atau kesulitan berkomunikasi. Mengetahui pemicu bukan berarti membolehkan tindakan tersebut. Kita dapat menerima emosi anak sekaligus menetapkan aturan bahwa tubuh orang lain tidak boleh disakiti.
Hentikan pukulan dan jaga jarak aman
Pegang atau tahan tangan anak hanya seperlunya untuk mencegah cedera, tanpa mencengkeram atau menyakiti. Mundur sedikit dan katakan dengan suara tegas, “Ibu tidak membiarkan kamu memukul.” Jauhkan benda yang dapat dilempar dan pastikan saudara atau orang lain aman. Jika orang tua mulai kehilangan kendali, letakkan anak di tempat aman dan minta bantuan orang dewasa lain.
Ajarkan tindakan pengganti ketika suasana sudah tenang
Anak perlu mengetahui apa yang boleh dilakukan, bukan hanya apa yang dilarang. Ajarkan kalimat “Aku marah”, “Tolong berhenti”, atau “Aku mau giliran”. Untuk anak yang belum lancar bicara, gunakan isyarat sederhana atau kartu gambar. Latih ketika anak sedang tenang melalui permainan peran singkat sehingga strategi lebih mudah diingat saat emosi meningkat.
Perkuat perilaku lembut dan atur lingkungan
Berikan perhatian ketika anak menyentuh dengan lembut, meminta sesuatu, atau menjauh sebelum memukul. Sebutkan dengan spesifik: “Kamu tadi bilang tidak suka, bukan memukul. Ibu mengerti.” Kurangi pemicu yang dapat diantisipasi, seperti perebutan mainan, antrean terlalu lama, atau transisi mendadak. Orang tua juga perlu mencontohkan cara menyampaikan marah tanpa menyerang.
Kapan perilaku memukul perlu dievaluasi
Mintalah bantuan dokter anak atau psikolog bila perilaku sering terjadi, makin berat, menyebabkan cedera, muncul di banyak lingkungan, atau disertai kesulitan komunikasi dan perkembangan. Catat kapan perilaku muncul, siapa yang terlibat, apa yang terjadi sebelumnya, serta apa yang membantu meredakan situasi. Jangan menyimpulkan satu diagnosis dari perilaku memukul saja.
Setelah kejadian, perbaiki hubungan
Ketika situasi sudah aman, orang tua dapat mengatakan, “Tadi Ibu kaget dan suaraku keras. Ibu akan berusaha bicara lebih tenang. Kita tetap tidak boleh saling memukul.” Mengakui bagian orang tua tidak menghapus batas untuk anak. Justru anak belajar bahwa konflik dapat diperbaiki, orang dewasa bertanggung jawab atas tindakannya, dan keselamatan tetap menjadi aturan bersama.
Amati pola sebelum dan sesudah perilaku
Tuliskan kapan anak memukul: saat dilarang, berebut, terlalu bersemangat, atau ketika sulit mengungkapkan kebutuhan. Perhatikan juga respons orang dewasa dan perubahan setelahnya. Catatan singkat membantu mencari pola pemicu dan keterampilan pengganti yang perlu diajarkan. Bila pemukulan sering terjadi, menimbulkan cedera, muncul di banyak lingkungan, atau sulit dikendalikan, diskusikan dengan dokter anak atau psikolog anak. Hindari menyebut anak sebagai “kasar” karena label tidak mengajarkan perilaku pengganti.
Artikel AAP tentang perilaku agresif pada anak kecil dapat menjadi bacaan pendamping untuk memahami cara mencegah dan merespons perilaku memukul atau menggigit.
Langkah yang bisa dicoba orang tua
- Hentikan pukulan dengan aman dan kalimat singkat.
- Sebutkan batas: marah boleh, menyakiti tidak boleh.
- Ajarkan kata, isyarat, atau cara meminta jeda sebagai pengganti.
- Amati pola dan cari bantuan bila perilaku berulang atau berisiko.
Pertanyaan yang sering muncul
Perlukah orang tua memukul balik agar anak tahu rasanya?
Tidak. Membalas dengan kekerasan justru memberi contoh bahwa pukulan dapat menjadi cara menyelesaikan konflik. Tegas berarti menghentikan tindakan, menjaga keselamatan, dan mengajarkan perilaku alternatif.
Inti yang perlu diingat
Pahami kemungkinan penyebab anak memukul orang tua dan langkah tegas tanpa kekerasan untuk menjaga keselamatan serta mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Mulailah dari langkah kecil yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Perubahan membutuhkan waktu, latihan, dan dukungan yang konsisten.
Temukan bacaan lain seputar pengasuhan dan perkembangan keluarga di panduan Parenting BisaBaca.
Sumber dan bacaan lanjutan
- 10 Tips to Prevent Aggressive Behavior in Young Children — American Academy of Pediatrics.
- What’s the Best Way to Discipline My Child? — American Academy of Pediatrics.
- Top Tips for Surviving Tantrums — American Academy of Pediatrics.










