“Semua teman melakukannya, masa aku tidak boleh?” Kalimat seperti ini dapat muncul ketika anak ingin diterima kelompok. Pada usia sekolah hingga remaja, pendapat teman mulai terasa penting. Pengaruh teman tidak selalu buruk: anak dapat saling mendorong untuk mencoba olahraga, membaca, atau mengikuti kegiatan baru. Namun, kelompok juga bisa menekan seseorang untuk melanggar aturan, mengejek orang lain, mengambil risiko, atau membagikan sesuatu yang seharusnya bersifat pribadi.
Tekanan teman sebaya terjadi ketika anak merasa harus mengikuti ajakan atau harapan kelompok meskipun ia sebenarnya ragu, tidak nyaman, atau mengetahui bahwa tindakan tersebut tidak aman. Pendampingan orang tua bukan berarti mengendalikan semua pertemanan. Tujuannya membangun kemampuan anak untuk menilai situasi, menyatakan batas, dan meminta bantuan.
Kenapa anak sulit menolak ajakan teman?
Anak mungkin takut diejek, dijauhi, dianggap tidak keren, atau kehilangan kesempatan menjadi bagian dari kelompok. Ada pula yang belum sempat memikirkan akibat karena situasi berlangsung cepat. Keinginan untuk diterima merupakan bagian dari hubungan sosial, sehingga menyuruh anak “jangan peduli omongan orang” sering kali tidak cukup.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry menjelaskan bahwa pengaruh teman mulai muncul sejak usia muda dan meningkat pada masa remaja. Anak dapat mengikuti tekanan karena ingin disukai atau takut dikucilkan. Baca lembar informasi Peer Pressure dari AACAP.
Bedakan pengaruh positif dan tekanan yang tidak sehat
Ajakan teman tidak otomatis menjadi tekanan negatif. Mengajak berlatih olahraga, mencoba klub seni, atau membaca buku baru dapat memperluas pengalaman anak. Masalah muncul ketika anak merasa tidak punya pilihan, ada ancaman atau penghinaan jika menolak, atau ajakan mengarah pada tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Ajak anak menilai beberapa pertanyaan:
- Apakah aku benar-benar ingin melakukannya?
- Apakah kegiatan ini aman dan sesuai aturan?
- Apakah aku harus menyakiti orang lain atau melanggar privasi untuk diterima?
- Apakah teman tetap menghormatiku kalau aku menolak?
- Siapa yang bisa membantuku jika situasi berubah?
Latih respons menolak tanpa harus berdebat panjang
Anak dapat menggunakan kalimat yang singkat dan tegas. Sesuaikan dengan usia serta situasinya:
- “Tidak, aku tidak mau.”
- “Aku tidak nyaman melakukan itu.”
- “Aku mau pulang sekarang.”
- “Aku pilih kegiatan lain.”
- “Aku harus tanya orang tua dulu.”
Ajarkan bahwa anak tidak wajib memberi penjelasan panjang untuk menolak tindakan yang tidak aman. Bila kelompok terus mendesak, ia dapat menjauh, menghubungi orang dewasa tepercaya, atau menggunakan rencana keluar yang sudah disepakati.
Buat rencana bantuan sebelum anak membutuhkannya
Diskusikan cara menghubungi orang tua jika anak merasa terjebak. Misalnya, keluarga sepakat bahwa anak dapat menelepon atau mengirim pesan singkat untuk dijemput tanpa harus menjelaskan semuanya di depan teman. Setelah situasi aman, orang tua dapat mendengarkan dan membahas langkah berikutnya.
Rencana semacam ini bukan izin untuk menghindari semua tanggung jawab. Ini adalah jalur keselamatan ketika anak menghadapi tekanan atau merasa tidak sanggup keluar dari situasi. Orang tua tetap dapat membahas keputusan dan konsekuensinya setelah anak tenang.
Bangun komunikasi yang membuat anak berani bercerita
Jika setiap pengakuan anak langsung dibalas dengan bentakan, ia mungkin memilih menyembunyikan masalah. Dengarkan dahulu, kemudian bantu menilai pilihan. Orang tua tetap dapat tegas terhadap tindakan berisiko tanpa membuat anak merasa tidak aman untuk mencari bantuan.
Kenali teman anak dan konteks pertemanannya secara wajar. Tanyakan kegiatan yang mereka sukai, kenali orang dewasa yang mengawasi, dan bahas aturan keluarga mengenai keselamatan, internet, serta waktu pulang. Pendekatan terbuka lebih membantu daripada hanya melarang anak bertemu teman tanpa penjelasan.
Tekanan kelompok juga terjadi di ruang digital
Anak dapat merasa perlu membalas pesan, mengirim foto, ikut menertawakan seseorang di grup, atau meneruskan konten agar tidak dianggap berbeda. Ajarkan bahwa aturan menghormati orang lain tetap berlaku saat online. Jangan membagikan foto, data pribadi, atau pesan orang lain tanpa izin. Jika ada tekanan atau ancaman, anak boleh meninggalkan grup dan meminta bantuan.
Kapan perlu mencari dukungan tambahan?
Jika tekanan teman melibatkan ancaman, pemerasan, perundungan, aktivitas ilegal, penggunaan zat, atau risiko keselamatan, libatkan orang dewasa dan pihak yang bertanggung jawab. Bila anak terlihat sangat tertekan, takut kehilangan teman sampai terus mengikuti perilaku berbahaya, atau mengalami perubahan suasana hati yang menetap, pertimbangkan konsultasi dengan profesional yang kompeten.
Inti yang perlu diingat
Anak tidak perlu dijauhkan dari semua pengaruh teman. Ia perlu belajar mengenali ajakan yang sehat, menolak tekanan yang tidak aman, dan memiliki orang dewasa yang dapat dihubungi. Komunikasi terbuka, latihan kalimat, serta rencana bantuan membuat anak lebih siap mengambil keputusan tanpa merasa harus menghadapi semuanya sendiri.
Pembahasan tentang tekanan sosial dan cara mendampinginya tersedia dalam mengenali tekanan sosial pada anak usia sekolah dan cara mendampinginya. Jelajahi juga artikel dalam kategori Sosialisasi & Pertemanan untuk bacaan lain yang relevan.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Peer Pressure — American Academy of Child and Adolescent Psychiatry.
- Getting to Know Your Child's Friends — American Academy of Pediatrics.










