Ketika anak bercerita bahwa ia diejek, dikucilkan, diancam, dipermalukan, atau disakiti di sekolah, hal pertama yang dibutuhkan bukan ceramah agar ia lebih kuat. Anak perlu merasa didengar, dipercaya, dan aman. Setelah itu, orang tua dapat mencari tahu apa yang terjadi, mencatat informasi, dan bekerja sama dengan sekolah untuk menghentikan perilaku yang membahayakan.
Perundungan atau bullying dapat berlangsung di kelas, halaman sekolah, perjalanan pulang, grup percakapan, gim daring, atau ruang digital lain yang berkaitan dengan pergaulan anak. Dampaknya tidak selalu terlihat sebagai luka fisik. Sebagian anak menjadi lebih pendiam, enggan berangkat sekolah, sulit tidur, mudah marah, atau kehilangan rasa percaya diri. Tanda-tanda tersebut bukan bukti tunggal bahwa perundungan pasti terjadi, tetapi layak menjadi alasan untuk membuka percakapan dengan lembut.
Tidak setiap pertengkaran adalah bullying, tetapi setiap kekerasan tetap perlu ditanggapi
UNICEF menjelaskan tiga ciri yang umum digunakan untuk mengenali perundungan: perilakunya disengaja untuk menyakiti, terjadi berulang, dan terdapat ketimpangan kekuasaan antara pihak yang terlibat. Ketimpangan itu bisa berkaitan dengan kekuatan fisik, jumlah teman, status sosial, akses informasi, atau kemampuan memengaruhi kelompok. Penjelasan ini membantu membedakan perundungan dari pertengkaran sesaat antara anak yang relatif setara.
Namun, jangan menggunakan definisi tersebut untuk meremehkan satu kejadian yang berbahaya. Pemukulan, ancaman, pelecehan, pemerasan, penyebaran foto pribadi, atau tindakan diskriminatif tetap perlu ditangani meskipun orang tua belum dapat memastikan apakah polanya memenuhi definisi bullying. Fokus pertama adalah keselamatan dan penghentian perilaku yang merugikan.
Orang tua dapat membaca panduan UNICEF Indonesia tentang cara membicarakan bullying dengan anak. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa anak bisa menjadi korban, saksi, atau pelaku perilaku perundungan. Karena itu, dengarkan cerita secara terbuka tanpa terburu-buru menetapkan label pada anak.
Mulai dari percakapan yang membuat anak merasa aman
Pilih waktu ketika orang tua tidak sedang terburu-buru. Hindari menginterogasi anak di depan saudara atau orang lain. Mulailah dari pengamatan yang spesifik, misalnya, “Ibu melihat kamu beberapa hari ini kelihatan berat berangkat sekolah. Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?” Jika anak belum siap, beri tahu bahwa ia boleh bercerita kapan saja dan orang tua akan mendengarkan.
Saat anak mulai bercerita:
- Dengarkan sampai selesai tanpa menyela dengan pertanyaan yang menyalahkan.
- Katakan bahwa ia tidak pantas diperlakukan dengan menyakitkan dan bukan tugasnya menghadapi semuanya sendirian.
- Tanyakan apa yang paling ia khawatirkan saat kembali ke sekolah.
- Cari tahu siapa yang terlibat, kapan dan di mana kejadian berlangsung, siapa yang mungkin melihat, serta apakah ada ancaman yang masih berlangsung.
- Tanyakan bantuan apa yang membuatnya merasa lebih aman, tanpa menjanjikan sesuatu yang belum tentu dapat dipenuhi.
Kalimat seperti “Kenapa kamu tidak membalas?” atau “Pasti kamu juga membuat mereka kesal” dapat membuat anak menutup diri. Ajakan membalas, mengancam balik, atau mempermalukan pelaku di media sosial juga berisiko memperburuk keadaan. Anak tidak perlu membuktikan bahwa ia kuat dengan menghadapi pelaku sendirian.
Amati perubahan, jangan hanya menunggu anak mengaku
Sebagian anak belum memiliki kata-kata untuk menjelaskan pengalaman sosial yang rumit. Orang tua dapat memperhatikan perubahan yang muncul bersamaan: anak mendadak takut mengikuti kegiatan tertentu, kehilangan barang, meminta uang tanpa penjelasan, menghindari teman, sering pulang dengan barang rusak, atau mengeluhkan sakit perut menjelang sekolah. Perubahan tidur, suasana hati, konsentrasi, dan kebiasaan menggunakan gawai juga dapat menjadi petunjuk.
Meski demikian, setiap tanda bisa memiliki penyebab lain. Jangan mendiagnosis kondisi psikologis atau langsung menuduh seseorang hanya berdasarkan satu perubahan perilaku. Catat apa yang terlihat, kapan terjadi, dan apa yang anak sampaikan. Catatan faktual akan lebih membantu ketika berdiskusi dengan sekolah daripada kesimpulan atau tuduhan yang belum diperiksa.
Jika perundungan berlangsung daring, simpan tangkapan layar, nama akun, tanggal, tautan, dan konteks percakapan. Jangan menyebarkan ulang materi yang mempermalukan anak. Simpan bukti di tempat aman dan tanyakan pada anak sebelum membagikan detail yang tidak diperlukan kepada orang lain. Bila ada ancaman keselamatan, jangan menunggu bukti digital lengkap untuk meminta bantuan.
Bekerja sama dengan sekolah dengan permintaan yang jelas
Hubungi wali kelas, kepala sekolah, atau petugas yang ditunjuk sekolah. Sampaikan kronologi secara singkat: apa yang anak ceritakan, kapan dan di mana terjadi, siapa yang disebut, bukti yang tersedia, serta hal yang dibutuhkan untuk menjaga keselamatan. Mintalah sekolah menjelaskan siapa yang menangani laporan, bagaimana anak akan dilindungi, bagaimana kejadian ditelusuri, dan kapan orang tua akan menerima pembaruan.
Usahakan percakapan berfokus pada tindakan, bukan hanya janji bahwa masalah akan diselesaikan. Tanyakan apakah anak dapat memiliki orang dewasa tepercaya di sekolah, jalur melapor yang mudah, pengawasan di lokasi rawan, pengaturan kontak dengan pihak yang diduga melakukan perundungan, serta dukungan untuk kembali mengikuti kegiatan belajar. Jangan memaksa anak bertemu atau berdamai langsung dengan pihak yang menyakitinya sebelum rasa aman dan kondisi anak dipertimbangkan.
Konteks kebijakan Indonesia juga perlu diperbarui. Sejak 9 Januari 2026, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman berlaku dan mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Regulasi baru mengatur perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital. Orang tua sebaiknya merujuk mekanisme sekolah yang berlaku saat ini, bukan menganggap struktur lama otomatis masih digunakan.
Portal resmi Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kemendikdasmen menjelaskan bahwa tanggung jawab membangun lingkungan aman melibatkan warga sekolah dan partisipasi orang tua serta masyarakat. Dalam praktiknya, orang tua dapat meminta sekolah menjelaskan alur penanganan, pihak yang bertanggung jawab, bentuk perlindungan, serta tindak lanjut yang akan diberikan.
Jaga kesejahteraan psikologis anak selama proses penanganan
Di rumah, pertahankan rutinitas yang menenangkan sejauh kondisi memungkinkan. Sediakan waktu bersama tanpa selalu membahas kejadian. Tawarkan kegiatan yang membuat anak merasa mampu dan terhubung dengan orang yang ia percaya, seperti bermain, menggambar, berolahraga ringan, membaca, atau bertemu teman yang aman. Jangan menuntut anak segera kembali ceria atau berprestasi seperti sebelumnya.
Jika anak merasa malu, tegaskan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan. Hindari mengumumkan kejadian kepada keluarga besar, grup orang tua, atau media sosial tanpa kebutuhan dan persetujuan yang tepat. Perlindungan privasi anak merupakan bagian dari pemulihan.
Perhatikan apakah kesulitan tidur, ketakutan, kesedihan, mudah panik, menarik diri, atau penolakan sekolah terus berlangsung dan mengganggu kehidupan sehari-hari. Konsultasi dengan psikolog anak, psikiater anak dan remaja, dokter, atau tenaga profesional yang relevan dapat membantu menilai kebutuhan dukungan. Jika anak berbicara tentang menyakiti diri, merasa tidak aman, atau berada dalam bahaya langsung, cari bantuan darurat dan jangan meninggalkannya sendirian.
Jika anak justru diduga melakukan perundungan
Terkadang orang tua menerima kabar bahwa anaknya menyakiti teman. Dengarkan penjelasan sekolah, cari fakta, dan bicarakan perilaku tersebut tanpa merendahkan identitas anak. Tegaskan bahwa tindakan menyakiti orang lain harus dihentikan dan ada tanggung jawab untuk memperbaikinya. Cari tahu apakah anak sedang meniru pola yang ia lihat, berusaha memperoleh penerimaan kelompok, kesulitan mengelola emosi, atau menghadapi masalah lain. Penjelasan bukan pembenaran, tetapi dapat membantu menentukan dukungan dan konsekuensi yang tepat.
Anak yang menjadi saksi juga membutuhkan arahan. Ia tidak harus mengambil risiko dengan melawan kelompok sendirian. Ajarkan cara mencari bantuan orang dewasa, menemani teman yang terdampak jika aman, dan tidak ikut menyebarkan ejekan atau konten yang merendahkan.
Perlindungan perlu terlihat dalam tindakan sehari-hari
Menghadapi bullying tidak selesai dengan meminta anak mengabaikan ejekan atau belajar membalas. Anak membutuhkan lingkungan yang memiliki aturan jelas, orang dewasa yang responsif, jalur pelaporan yang dipercaya, dan tindak lanjut yang dapat dipantau. Orang tua dapat membantu dengan menjaga komunikasi, mencatat fakta, berkoordinasi dengan sekolah, dan mencari bantuan profesional ketika diperlukan.
Yang paling penting, jangan biarkan anak merasa bahwa ia harus menanggung kejadian itu sendirian. Kepercayaan yang dibangun melalui percakapan dan tindakan konsisten akan membantu anak kembali merasakan bahwa rumah adalah tempat aman untuk meminta pertolongan.










