Ketika anak berulang kali berkata tidak mau sekolah, menangis saat bersiap, mengeluh sakit perut menjelang berangkat, atau memohon agar boleh tinggal di rumah, orang tua bisa merasa bingung dan lelah. Ada yang khawatir anak tertinggal pelajaran; ada pula yang takut dianggap tidak tegas. Namun, respons pertama sebaiknya bukan langsung memberi cap malas atau membangkang.
Penolakan sekolah dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang terasa berat bagi anak. Penyebabnya bisa berupa kecemasan berpisah, perubahan lingkungan, konflik dengan teman, perundungan, kesulitan mengikuti pelajaran, pengalaman tidak menyenangkan dengan orang dewasa, atau keluhan kesehatan. Memahami penyebab tidak berarti membiarkan anak terus-menerus tidak sekolah. Justru, pemahaman membantu keluarga dan sekolah menyusun jalan kembali yang lebih aman dan realistis.
Pahami dulu apa yang dimaksud penolakan sekolah
Istilah school refusal atau penolakan sekolah digunakan untuk menggambarkan pola kesulitan anak menghadiri sekolah karena tekanan emosional, ketakutan, atau kecemasan yang berkaitan dengan kehadiran di sekolah. Ini bukan diagnosis medis yang berdiri sendiri. Polanya perlu dipahami bersama penyebab yang mungkin mendasari.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) membedakan penolakan sekolah dari bolos tanpa izin. Anak yang mengalami penolakan sekolah biasanya menunjukkan tekanan, rasa takut, atau keluhan yang muncul terkait waktu berangkat. Pada sebagian anak, keluhan seperti sakit kepala atau sakit perut dapat muncul menjelang sekolah dan mereda ketika mereka tinggal di rumah. Itu tidak otomatis berarti keluhan tersebut dibuat-buat; gejala fisik dan kecemasan dapat saling berkaitan. Baca penjelasan AACAP tentang penolakan sekolah, diperbarui Agustus 2026.
Cari pola sebelum menentukan langkah
Selama beberapa hari, catat kapan penolakan muncul dan apa yang terjadi sebelumnya. Apakah anak mulai menolak pada hari tertentu? Apakah keluhan muncul ketika ada pelajaran, guru, teman, kegiatan olahraga, presentasi, atau perjalanan tertentu? Apakah penolakan dimulai setelah libur, pindah rumah, pergantian kelas, sakit, atau peristiwa yang membuatnya takut?
Tanyakan dengan cara yang tidak menginterogasi. Beberapa pertanyaan yang dapat membantu:
- “Bagian sekolah mana yang paling berat buat kamu akhir-akhir ini?”
- “Apa yang biasanya terjadi sebelum kamu merasa tidak ingin berangkat?”
- “Apakah ada orang atau kegiatan yang membuatmu merasa tidak aman?”
- “Kalau kita bisa mengubah satu hal agar sekolah terasa lebih mudah, apa yang ingin kamu ubah?”
Anak mungkin tidak langsung menjawab. Sebagian anak lebih mudah bercerita sambil menggambar, berjalan, bermain, atau melakukan kegiatan bersama. Jangan memaksa anak menceritakan semuanya dalam satu percakapan. Tegaskan bahwa orang tua ingin memahami, bukan mencari kesalahan.
Jangan abaikan kemungkinan kondisi kesehatan
Jika anak mengeluh demam, nyeri yang kuat, muntah, gangguan pernapasan, cedera, atau gejala fisik lain, pertimbangkan kebutuhan pemeriksaan kesehatan sesuai gejalanya. Jangan menganggap semua keluhan sebelum sekolah berasal dari kecemasan. Dokter dapat membantu menilai apakah ada penyebab fisik yang perlu ditangani.
Bila keluhan berulang terutama menjelang sekolah, catat waktu dan situasinya lalu sampaikan kepada tenaga kesehatan. Pola itu dapat memberi informasi, tetapi tidak cukup untuk menetapkan diagnosis sendiri. Orang tua juga perlu membedakan hari ketika anak benar-benar sakit dan membutuhkan istirahat dari pola penolakan yang memerlukan dukungan untuk kembali bersekolah.
Hindari dua respons yang sama-sama tidak membantu
Respons pertama yang perlu dihindari adalah memaksa secara keras: membentak, mempermalukan, mengancam, atau menyeret anak tanpa mencari tahu sumber ketakutannya. Cara ini dapat menambah rasa tidak aman dan menutup komunikasi.
Respons kedua adalah membiarkan ketidakhadiran berlangsung tanpa rencana, tanpa mencari penyebab, dan tanpa berkomunikasi dengan sekolah. Anak mungkin merasa lega sesaat, tetapi masalah yang mendasari bisa tetap ada. Ketidakhadiran berkepanjangan juga dapat membuat anak semakin tertinggal dan makin sulit membayangkan kembali ke sekolah.
Jalan tengahnya bukan berarti selalu mengantar anak meski ia sangat tertekan tanpa penyesuaian, atau membolehkan tinggal di rumah tanpa batas. Keluarga perlu memahami pemicu, memastikan keselamatan, dan menyusun langkah kehadiran yang didukung sekolah serta profesional bila dibutuhkan.
Bangun rencana kembali ke sekolah bersama anak dan sekolah
Mulailah dari komunikasi dengan wali kelas atau pihak sekolah yang relevan. Sampaikan pola yang diamati, keluhan anak, hal yang ia takutkan, dan langkah yang sudah dicoba di rumah. Mintalah sekolah membantu memeriksa kemungkinan perundungan, konflik teman, kesulitan akademik, kondisi kelas yang membuat kewalahan, atau perubahan lain.
Rencana dukungan dapat mencakup:
- Orang dewasa tepercaya di sekolah. Sepakati guru atau staf yang dapat ditemui anak ketika merasa kewalahan.
- Penyambutan yang tenang. Anak dapat masuk melalui titik atau waktu yang disepakati agar tidak merasa menjadi pusat perhatian.
- Penyesuaian sementara. Jika diperlukan dan disepakati bersama sekolah serta profesional, kegiatan dapat diatur bertahap untuk membangun kembali rasa aman.
- Pemeriksaan situasi pemicu. Jika ada perundungan atau ancaman, sekolah harus mengambil langkah perlindungan; jangan mengarahkan anak untuk menghadapi pihak yang menyakitinya sendirian.
- Evaluasi berkala. Tinjau apakah kehadiran, rasa aman, dan kesejahteraan anak membaik. Ubah rencana jika strategi tidak membantu.
NHS juga menyarankan orang tua mendengarkan kecemasan anak, tidak meremehkan kekhawatirannya, dan bekerja sama dengan sekolah untuk menemukan solusi. Panduan NHS tentang kecemasan pada anak menjelaskan bahwa kecemasan perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu kegiatan sehari-hari.
Buat pagi hari lebih dapat diprediksi
Jika penyebab utama sudah mulai dipahami, rutinitas pagi dapat membantu mengurangi kebingungan. Siapkan seragam dan tas sejak malam, sediakan waktu sarapan, dan jelaskan urutan kegiatan dengan kalimat sederhana. Hindari diskusi panjang atau ancaman ketika semua orang sedang terburu-buru.
Beri anak satu atau dua pilihan yang masih sesuai rencana, misalnya memilih bekal dari dua pilihan atau menentukan lagu yang didengarkan dalam perjalanan. Pilihan kecil tidak menghilangkan kewajiban sekolah, tetapi memberi rasa kendali. Puji langkah yang dilakukan anak—bangun, berpakaian, atau mencoba masuk kelas—tanpa menuntut bahwa ia harus langsung merasa senang.
Kapan perlu bantuan profesional?
Cari bantuan psikolog anak, psikiater anak dan remaja, dokter anak, atau profesional lain yang sesuai bila penolakan berulang, berlangsung semakin berat, mengganggu kehadiran dan aktivitas sehari-hari, atau disertai kecemasan yang kuat, kesedihan menetap, gangguan tidur, menarik diri, maupun perubahan perilaku yang tajam. Evaluasi dapat melibatkan percakapan dengan anak, orang tua, sekolah, dan pemeriksaan kesehatan untuk memahami faktor yang berperan.
AACAP menjelaskan bahwa terapi perilaku kognitif dapat menjadi salah satu pendekatan yang memiliki dukungan penelitian untuk membantu anak menghadapi kecemasan dan membangun langkah kembali ke sekolah secara bertahap. Pilihan penanganan harus ditentukan oleh tenaga profesional setelah menilai kondisi anak; jangan menjadikan artikel umum sebagai pengganti penilaian klinis.
Jika anak menyampaikan keinginan menyakiti diri, merasa tidak aman, atau mengalami ancaman langsung, utamakan keselamatan dan segera cari bantuan darurat. Jangan menunggu sampai masalah kehadiran sekolah memburuk.
Yang perlu diingat orang tua
Anak yang menolak sekolah belum tentu tidak menghargai pendidikan atau sengaja menyulitkan keluarga. Perilakunya dapat menjadi cara untuk menunjukkan bahwa ada bagian dari pengalaman sekolah yang belum mampu ia hadapi. Tugas orang tua adalah mendengar, mencari pola, memeriksa kesehatan dan keselamatan, serta bekerja bersama sekolah untuk menemukan jalan yang dapat dijalani.
Kembali ke sekolah tidak selalu terjadi dalam satu pagi. Ada anak yang membaik setelah masalah dengan teman diselesaikan; ada yang membutuhkan penyesuaian belajar; ada pula yang memerlukan dukungan profesional. Tetaplah menjaga komunikasi dan harapan yang realistis. Anak perlu tahu bahwa sekolah penting, tetapi keselamatan dan kesejahteraannya juga tidak dapat ditawar.










