Anak pulang sekolah lebih pendiam dari biasanya. Ia mulai enggan berangkat, kehilangan barang, atau sering menyebut nama teman yang membuatnya takut. Ketika akhirnya bercerita bahwa ia diejek, dikucilkan, diancam, atau disakiti berulang kali, ayah mungkin ingin segera mencari pelaku dan menyelesaikan masalah. Dorongan melindungi anak bisa sangat kuat. Namun, langkah pertama yang paling membantu sering kali adalah membuat anak merasa didengar dan tidak sendirian.
Perundungan atau bullying adalah perilaku agresif yang terjadi berulang atau berpotensi berulang, melibatkan ketimpangan kekuatan atau posisi, dan membuat anak sulit membela diri. Konflik sekali waktu antara teman sebaya tidak selalu termasuk perundungan, meskipun tetap perlu ditangani bila menyakiti. Memahami perbedaannya membantu ayah menjelaskan kejadian kepada sekolah secara lebih jelas tanpa mengecilkan pengalaman anak.
Mulai dengan mendengar, bukan menginterogasi
Ketika anak bercerita, hentikan kegiatan yang dapat ditunda dan berikan perhatian. Ayah dapat berkata, “Terima kasih sudah cerita. Ayah mau mendengarkan. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu.” Hindari respons seperti “Kamu pasti mengganggu mereka dulu” atau “Kenapa tidak melawan?” Kalimat yang menyalahkan dapat membuat anak menyesal telah bercerita dan memilih diam pada kesempatan berikutnya.
United Nations Children’s Fund (UNICEF), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada hak dan kesejahteraan anak, menyarankan orang tua membicarakan perundungan dengan anak secara tenang dan terbuka, mendengarkan cerita, meyakinkan anak bahwa ia tidak bersalah karena menjadi sasaran, serta berkomunikasi dengan pihak sekolah. Panduan tersebut dapat dibaca melalui panduan UNICEF Indonesia tentang cara membicarakan perundungan dengan anak.
Bantu anak menceritakan kejadian dengan caranya
Gunakan pertanyaan terbuka yang tidak mengarahkan jawaban. Misalnya, “Apa yang terjadi setelah istirahat?” atau “Di bagian mana kamu merasa tidak aman?” Beri waktu agar anak menyusun cerita. Anak mungkin hanya mampu menjelaskan sebagian, mencampur urutan waktu, atau belum tahu nama perilaku yang dialaminya. Itu bukan alasan untuk langsung menyimpulkan bahwa ceritanya tidak benar.
Jangan memaksa anak mengulang detail yang menyakitkan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu. Catat informasi yang relevan setelah anak selesai bercerita: tanggal atau perkiraan waktu, lokasi, bentuk perilaku, orang yang terlibat, saksi bila diketahui, dan dampak yang dirasakan. Untuk perundungan digital, simpan tangkapan layar, tautan, atau pesan sesuai aturan privasi dan keamanan. Jangan menyebarkan materi tersebut ke grup orang tua atau media sosial.
Pastikan anak aman hari ini
Tanyakan apa yang membuat anak merasa paling tidak aman: perjalanan ke sekolah, ruang kelas, tempat bermain, grup pesan, atau saat pulang. Bersama anak, susun langkah awal yang mudah dilakukan, seperti menemui wali kelas, guru bimbingan konseling, petugas sekolah yang dipercaya, atau teman yang dapat menemani. Jangan meminta anak menghadapi pelaku sendirian demi membuktikan keberanian.
Jika ada ancaman kekerasan, pemerasan, pelecehan, atau cedera, perlindungan segera harus diutamakan. Hubungi sekolah dan pihak yang berwenang sesuai tingkat risiko. Bila terjadi kekerasan terhadap anak, keluarga dapat mencari bantuan melalui layanan perlindungan anak di daerah dan layanan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Jangan menunggu kejadian berulang bila ada ancaman serius.
Bekerja sama dengan sekolah secara terarah
Ayah dapat meminta pertemuan dengan wali kelas atau pihak sekolah dan menyampaikan fakta yang sudah diketahui. Fokuskan pembicaraan pada keselamatan anak dan tindakan konkret: siapa yang akan memantau, di mana anak dapat meminta bantuan, bagaimana sekolah akan mencegah kejadian berulang, dan kapan keluarga mendapat kabar perkembangan. Minta sekolah menjaga kerahasiaan identitas serta informasi anak sejauh mungkin.
Hindari membuka pertemuan dengan ancaman atau mempermalukan siswa lain di depan umum. Konfrontasi yang tidak terencana dapat membuat anak semakin tertekan atau memicu pembalasan. Jika sekolah mengadakan pertemuan dengan keluarga pelaku, pastikan anak tidak dipaksa bertemu langsung atau menerima permintaan maaf sebelum ia siap. Tindakan disiplin dan pemulihan harus ditangani oleh orang dewasa yang bertanggung jawab.
Jangan menuntut anak untuk segera kembali seperti biasa
Setelah masalah dilaporkan, anak mungkin masih merasa takut, malu, marah, atau enggan bertemu teman. Pemulihan tidak selalu berlangsung cepat. Ayah dapat membantu dengan menjaga rutinitas yang menenangkan, menemani perjalanan bila perlu, dan menanyakan hal spesifik: “Bagaimana perasaanmu setelah berbicara dengan guru?” bukan hanya “Sudah selesai belum?”
Perhatikan perubahan yang menetap seperti gangguan tidur, keluhan fisik sebelum sekolah, kehilangan minat, menarik diri, penurunan konsentrasi, atau ketakutan berat. Tanda-tanda ini tidak otomatis berarti anak mengalami gangguan mental, tetapi layak diperhatikan. Bila dampaknya bertahan, memburuk, atau mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasikan dengan psikolog, dokter, atau tenaga profesional yang sesuai.
Dampingi tanpa mengambil alih suara anak
Peran ayah bukan membuat semua keputusan tanpa mendengarkan anak. Beri informasi tentang pilihan yang tersedia dan tanyakan apa yang membuatnya merasa lebih aman. Untuk anak kecil, orang tua mungkin perlu mengambil keputusan lebih langsung. Anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam menyusun rencana, selama tanggung jawab perlindungan tetap berada pada orang dewasa.
Jangan mengubah anak menjadi pembawa pesan antara keluarga dan sekolah. Orang tua perlu berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah. Anak tidak seharusnya diminta mengumpulkan bukti dengan mempertaruhkan keselamatannya, merekam pelaku secara sembunyi-sembunyi, atau mengawasi teman sendiri.
Ajarkan dukungan sosial tanpa menyalahkan anak
Ayah dapat membantu anak mengenali teman yang aman, orang dewasa yang bisa dihubungi, dan tempat yang dapat dituju ketika merasa terancam. Latih kalimat sederhana seperti “Tolong berhenti”, “Saya tidak suka diperlakukan seperti itu”, atau “Saya akan memanggil guru”. Namun, jangan menganggap anak wajib melawan. Dalam situasi dengan ketimpangan kekuatan, mencari bantuan orang dewasa merupakan pilihan yang tepat.
Untuk memperkuat keterampilan melaporkan masalah, keluarga dapat membaca panduan membantu anak merespons ejekan dan melaporkan perundungan di sekolah. Artikel tersebut berfokus pada kesiapan anak menghadapi ejekan, sedangkan pembahasan di sini menekankan dukungan ayah dan koordinasi tindak lanjut ketika anak sudah menyampaikan pengalaman perundungan.
Bagaimana jika anak justru ikut melakukan perundungan?
Jika sekolah memberi tahu bahwa anak melakukan perundungan, dengarkan informasi yang tersedia tanpa langsung membela atau memberi label “anak nakal”. Tanyakan perilaku spesifik yang dilaporkan, dampaknya pada anak lain, dan langkah perbaikan yang dibutuhkan. Tetapkan batas dengan jelas: menyakiti, mengancam, mempermalukan, atau mengucilkan orang lain tidak dapat diterima.
Ayah dapat membantu anak memahami dampak perilaku dan belajar cara memperbaiki hubungan, tetapi jangan memaksakan korban menerima permintaan maaf. Bekerja sama dengan sekolah untuk memantau perubahan perilaku. Jika pola agresi berulang atau berkaitan dengan kesulitan emosi dan lingkungan, pertimbangkan konsultasi profesional.
Anak perlu tahu ayah berada di pihak keselamatannya
Ketika anak mengalami perundungan, ia membutuhkan orang dewasa yang percaya, mendengarkan, dan mengambil tindakan. Ayah dapat menjadi bagian penting dari dukungan itu dengan menahan reaksi yang meledak, membantu menyusun informasi, dan menjaga komunikasi dengan sekolah. Jangan menjanjikan bahwa semua masalah akan hilang seketika. Sampaikan bahwa keluarga akan bekerja bersama sampai langkah perlindungan yang memadai ditemukan.
Yang paling penting, anak tidak harus menghadapi perundungan sendirian. Dengarkan ceritanya, percayai bahwa ia layak dilindungi, dan tunjukkan melalui tindakan bahwa keselamatannya lebih penting daripada menjaga nama baik orang dewasa atau sekolah.










