Orang tua mendengarkan anak usia sekolah yang bercerita tentang kejadian di sekolah di ruang keluarga yang tenang.
Mendengarkan dengan tenang membantu anak merasa dipercaya dan memudahkan keluarga menyusun langkah perlindungan.
Sosialisasi & Pertemanan

5 Respons yang Sebaiknya Dihindari saat Anak Bercerita tentang Perundungan di Sekolah

Saat anak bercerita tentang perundungan, reaksi pertama orang tua dapat menentukan apakah ia merasa aman untuk melanjutkan cerita. Hindari menyalahkan, mengecilkan, atau langsung menyuruh anak membalas; dahulukan mendengar dan melindungi.

“Bu, teman-teman mengejekku lagi.” Anak mungkin menyampaikan kalimat itu pelan-pelan setelah pulang sekolah. Orang tua bisa merasa marah, sedih, atau ingin segera menyelesaikan masalah. Namun, respons spontan seperti “Kamu pasti juga mengganggu mereka” atau “Sudahlah, jangan dipikirkan” dapat membuat anak berhenti bercerita. Sebelum mengambil tindakan, bantu anak merasa didengar dan aman.

Perundungan bukan sekadar satu pertengkaran biasa. UNICEF menjelaskan bahwa perundungan umumnya memiliki unsur kesengajaan untuk menyakiti, terjadi berulang, dan melibatkan ketimpangan kekuasaan. Perilakunya dapat berupa tindakan fisik, kata-kata yang menyakitkan, pengucilan, atau bentuk daring. Satu konflik tetap perlu ditangani, tetapi istilah perundungan perlu digunakan dengan memahami polanya. Lihat panduan UNICEF Indonesia tentang membicarakan bullying dengan anak.

Lima respons yang perlu dihindari

1. “Kamu pasti melakukan sesuatu sampai mereka begitu.” Kalimat ini langsung menempatkan kesalahan pada anak yang bercerita. Orang tua boleh mencari konteks, tetapi jangan memulai dengan tuduhan. Lebih baik katakan, “Terima kasih sudah cerita. Ibu ingin memahami apa yang terjadi.”

2. “Abaikan saja, nanti juga berhenti.” Mengabaikan bisa menjadi salah satu pilihan dalam konflik kecil, tetapi tidak cukup sebagai respons ketika perilaku berulang dan membuat anak tidak aman. Tanyakan apa yang terjadi, apakah anak merasa terancam, dan siapa orang dewasa di sekolah yang dapat membantu.

3. “Balas saja supaya mereka kapok.” Mendorong anak membalas dapat meningkatkan risiko cedera atau konflik lebih besar. Ajarkan anak mencari tempat aman, menyampaikan keberatan bila aman dilakukan, menjauh, dan meminta bantuan orang dewasa. Anak tidak harus menyelesaikan perundungan sendirian.

4. “Jangan cengeng, itu cuma bercanda.” Orang tua tidak perlu menentukan bahwa tindakan itu ringan hanya dari satu sudut pandang. Tanyakan apa yang dikatakan atau dilakukan, seberapa sering, siapa yang terlibat, dan bagaimana anak mengalaminya. Candaan yang menyakiti tetap perlu dibahas, apalagi jika dilakukan berulang atau ada ketimpangan kuasa.

5. “Ibu akan langsung datang dan memarahi mereka.” Keinginan melindungi anak dapat dimengerti, tetapi tindakan terburu-buru tanpa mengumpulkan informasi bisa membuat situasi makin rumit. Jangan membuat anak merasa ia kehilangan kendali atas cerita yang baru dibagikan. Jelaskan bahwa orang tua akan membantu menyusun langkah aman dan berkoordinasi dengan pihak sekolah bila diperlukan.

Respons pertama yang membantu anak tetap bercerita

Mulailah dengan kalimat sederhana: “Terima kasih sudah memberitahu Ibu.” “Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.” “Ibu ingin mendengar apa yang terjadi.” Beri waktu untuk anak menyelesaikan ceritanya. Jangan menyela dengan pertanyaan yang menyudutkan atau menunjukkan kemarahan yang membuat anak merasa harus menenangkan orang tua.

Jika anak belum siap bercerita lengkap, jangan memaksanya. Tanyakan apakah ia ingin istirahat dulu atau berbicara sambil melakukan kegiatan lain. Sebagian anak lebih mudah bercerita ketika berjalan bersama atau duduk berdampingan, bukan berhadapan langsung. Catat hal yang sudah disampaikan dan hindari meminta anak mengulang cerita berkali-kali tanpa kebutuhan.

Kumpulkan informasi tanpa berubah menjadi penyelidikan

Setelah anak cukup tenang, tanyakan hal yang penting: apa yang terjadi, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apakah pernah terjadi sebelumnya, dan apakah ada ancaman atau risiko keselamatan sekarang. Jangan memaksa anak mengingat setiap detail. Jika ada pesan atau bukti digital, simpan dengan cara yang tidak menyebarkannya lebih jauh dan jaga privasi anak.

Perhatikan perubahan yang mungkin menyertai pengalaman tersebut, seperti enggan pergi sekolah, kehilangan barang, perubahan tidur, sakit perut sebelum berangkat, atau menarik diri dari teman. Tanda-tanda ini bukan bukti tunggal bahwa perundungan terjadi, tetapi alasan untuk mencari tahu lebih lanjut dan berbicara dengan sekolah. UNICEF Indonesia menjelaskan berbagai tanda yang dapat diperhatikan dalam panduannya.

Libatkan sekolah dengan rencana yang jelas

Hubungi wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah yang bertanggung jawab sesuai prosedur. Sampaikan informasi faktual, bukan tuduhan yang belum terverifikasi. Tanyakan siapa yang akan menindaklanjuti, bagaimana sekolah menjaga keselamatan anak, kapan keluarga mendapat kabar, dan bagaimana mencegah kejadian berulang. Bila anak khawatir identitasnya terbuka, diskusikan cara melindungi privasinya.

Jika ada ancaman fisik langsung, kekerasan, atau risiko keselamatan yang mendesak, prioritaskan perlindungan dan bantuan dari pihak yang berwenang. Jangan menunggu sampai semua detail terkumpul untuk mencari bantuan. Penanganan perlu mempertimbangkan keselamatan anak dan prosedur sekolah yang berlaku.

Jangan menjadikan anak sebagai satu-satunya pemecah masalah

Anak dapat belajar keterampilan seperti mengatakan “berhenti”, meninggalkan situasi, menyimpan bukti digital, atau meminta bantuan. Namun, tanggung jawab menghentikan perundungan tidak boleh dibebankan hanya kepadanya. Orang dewasa di sekolah dan keluarga perlu bekerja sama. Jangan menyuruh anak menghindari seluruh kegiatan sekolah atau kehilangan kesempatan belajar tanpa mempertimbangkan langkah perlindungan dan dukungan.

Orang tua dapat membaca cara membantu anak menghadapi bullying, memahami dukungan untuk kesejahteraan psikologis anak, serta mengenali perundungan dari cerita anak dan menentukan langkah aman.

Setelah bercerita, anak perlu melihat tindak lanjut

Jangan berhenti pada kalimat “Ibu percaya kamu.” Beri tahu anak langkah apa yang akan dilakukan, siapa yang akan dihubungi, dan kapan kalian membicarakan perkembangan berikutnya. Hindari janji bahwa perundungan pasti berhenti besok. Sampaikan bahwa orang tua akan terus mendampingi dan meninjau apakah rencana keamanan berjalan.

Pesan terpenting: anak tidak sendirian

Ketika anak bercerita tentang perundungan, ia sedang mengambil risiko untuk membuka pengalaman yang mungkin memalukan atau menakutkan baginya. Dengarkan dengan tenang, jangan menyalahkan, dan susun langkah perlindungan bersama. Tanggapan pertama bukan satu-satunya hal yang menentukan, tetapi dapat menjadi awal agar anak mau meminta bantuan lagi ketika membutuhkannya.

Jangan menyebarkan cerita atau bukti tanpa pertimbangan

Jika perundungan terjadi melalui pesan atau media sosial, anak mungkin menunjukkan tangkapan layar, foto, atau rekaman. Simpan informasi yang relevan untuk membantu penanganan, tetapi jangan meneruskan konten ke grup keluarga atau mengunggahnya sebagai bentuk kemarahan. Penyebaran lebih luas dapat mempermalukan anak dan memperpanjang dampak kejadian. Gunakan jalur komunikasi yang tepat dengan sekolah atau pihak terkait.

Diskusikan dengan anak siapa yang perlu mengetahui informasi tersebut dan mengapa. Ada situasi ketika orang dewasa perlu bertindak tanpa menunggu persetujuan anak, terutama jika keselamatan terancam. Jelaskan langkah itu secara jujur, batasi informasi pada pihak yang memang perlu tahu, dan hindari meminta anak mengumpulkan bukti dengan cara yang membahayakan dirinya.

Jangan menjanjikan kerahasiaan mutlak jika keselamatan terancam

Anak mungkin meminta orang tua tidak memberi tahu siapa pun. Hargai keinginannya dan jelaskan bahwa informasi akan dijaga sebatas mungkin. Namun, jika ada ancaman atau risiko keselamatan, orang dewasa mungkin perlu melibatkan sekolah atau pihak yang dapat melindungi anak. Katakan siapa yang akan diberi tahu dan mengapa, serta bagikan informasi hanya kepada pihak yang memang perlu menangani situasi.

Libatkan anak dalam pembicaraan tentang langkah berikutnya sejauh memungkinkan. Tanyakan apa yang membuatnya khawatir jika sekolah dihubungi. Mungkin ia takut dibalas, dipermalukan, atau dianggap mengadu. Kekhawatiran itu perlu dibahas saat menyusun rencana agar perlindungan tidak membuat anak merasa kehilangan suara. Keselamatan tetap menjadi prioritas, dan komunikasi terbuka membantu menjaga kepercayaan.

Jaga rutinitas dan hubungan anak selama penanganan berlangsung

Pengalaman perundungan dapat membuat anak merasa tidak aman di sekolah atau enggan bertemu teman. Pertahankan rutinitas yang memberi rasa stabil, tetapi jangan memaksa anak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Tanyakan apa yang membuatnya merasa lebih aman saat berangkat, saat istirahat, atau ketika berada di ruang kelas. Koordinasikan dukungan tersebut dengan sekolah agar anak tidak harus mengatur perlindungan sendirian.

Perhatikan juga kondisi emosi dan fisiknya dalam beberapa hari atau minggu berikutnya. Jika anak terus menunjukkan ketakutan berat, sulit tidur, menarik diri, atau tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan tenaga profesional. Dukungan psikologis bukan pengganti penanganan sekolah; keduanya dapat berjalan bersama sesuai kebutuhan anak.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.