Anak pulang sekolah lebih diam dari biasanya. Beberapa hari kemudian, ia meminta tidak masuk sekolah, mengeluh sakit perut sebelum berangkat, atau bercerita bahwa ada teman yang terus mengejeknya. Orang tua mungkin bertanya apakah itu sekadar pertengkaran biasa atau ada perundungan yang perlu segera ditangani. Tidak selalu mudah membedakannya dari satu cerita, tetapi setiap laporan anak layak didengar dengan serius.
Perundungan bukan sekadar dua anak yang tidak akur. UNICEF Indonesia menjelaskan bahwa perundungan biasanya melibatkan tindakan menyakiti yang disengaja, terjadi berulang, dan berkaitan dengan ketimpangan kekuatan sehingga anak yang menjadi sasaran kesulitan menghentikannya sendiri. Namun, orang tua tidak perlu menunggu seluruh unsur itu terbukti untuk menanggapi perilaku yang membahayakan. Satu kejadian kekerasan atau ancaman tetap membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Langkah awal yang paling penting adalah membangun rasa aman untuk bercerita, memahami apa yang terjadi tanpa menyalahkan anak, dan menyusun tindak lanjut bersama pihak yang bertanggung jawab. Jangan menjadikan anak sebagai penyelidik atau memintanya menghadapi pelaku sendirian.
Membedakan konflik, ejekan, dan perundungan
Konflik antar-anak dapat muncul ketika mereka berbeda pendapat, berebut giliran, atau merasa diperlakukan tidak adil. Dalam konflik yang relatif setara, kedua anak biasanya memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan belajar menyelesaikan masalah. Perundungan berbeda karena ada pola perilaku menyakiti yang berulang atau berpotensi berulang, disertai ketimpangan kekuatan—misalnya jumlah kelompok, status sosial, ukuran fisik, akses digital, atau kemampuan memengaruhi teman lain.
Ejekan satu kali tetap dapat menyakitkan dan perlu ditanggapi. Namun, orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberi label perundungan hanya berdasarkan satu kalimat yang belum jelas konteksnya. Cari tahu apakah hal serupa pernah terjadi, siapa yang terlibat, apakah anak merasa sulit menghentikannya, dan apakah ada ancaman atau kerugian yang lebih besar.
| Situasi | Hal yang perlu diperiksa | Respons awal |
|---|---|---|
| Perbedaan pendapat atau rebutan giliran | Apakah kedua anak memiliki kesempatan bicara dan tidak ada ancaman? | Bantu mereka menyampaikan kebutuhan dan mencari kesepakatan yang aman. |
| Ejekan atau tindakan menyakitkan satu kali | Seberapa berat dampaknya? Apakah anak merasa terancam? Adakah pola sebelumnya? | Hentikan perilaku, dengarkan anak, dan pantau apakah berulang. |
| Tindakan menyakiti berulang dengan ketimpangan kekuatan | Apakah anak kesulitan membela diri atau menghentikan kejadian? | Perlakukan sebagai dugaan perundungan yang perlu ditindaklanjuti bersama sekolah atau pihak terkait. |
| Kekerasan, ancaman serius, pemaksaan, atau risiko langsung | Apakah anak aman sekarang dan membutuhkan pertolongan segera? | Utamakan perlindungan; jangan menunggu pola berulang untuk bertindak. |
Istilah yang digunakan keluarga tidak sepenting keselamatan anak. Bila belum yakin apakah peristiwa memenuhi definisi perundungan, orang tua tetap dapat meminta sekolah memeriksa dan menghentikan perilaku yang merugikan.
Mulai dari respons pertama ketika anak bercerita
Ketika anak membuka cerita, tahan dorongan untuk langsung menyimpulkan, membantah, atau bertanya bertubi-tubi. Respons seperti “Kamu pasti salah paham” atau “Kenapa tidak melawan?” dapat membuat anak merasa disalahkan. Anak mungkin berhenti bercerita atau menganggap dirinya harus menyelesaikan masalah sendiri.
Mulailah dengan beberapa kalimat yang sederhana:
- “Terima kasih sudah cerita kepada Ayah/Bunda.”
- “Kamu tidak pantas diperlakukan dengan cara yang menyakitkan.”
- “Ayah/Bunda ingin memahami apa yang terjadi supaya bisa membantu.”
- “Kita pikirkan langkah yang membuatmu lebih aman. Kamu tidak harus menyelesaikannya sendirian.”
Jangan menjanjikan bahwa tidak seorang pun akan diberi tahu. Lebih aman mengatakan, “Ayah/Bunda akan menjaga ceritamu dengan hati-hati. Kalau perlu melibatkan orang yang bisa melindungimu, kita akan membicarakannya.” Ini menjaga kepercayaan tanpa membuat janji kerahasiaan yang mungkin tidak dapat dipenuhi.
Ajukan pertanyaan yang membantu memahami kejadian
Gunakan pertanyaan terbuka dan netral. Biarkan anak bercerita dengan urutannya sendiri. Orang tua tidak harus mengetahui semua detail pada percakapan pertama. Hal yang perlu dipahami adalah apa yang terjadi, apakah ada risiko yang masih berlangsung, dan dukungan apa yang dibutuhkan anak.
- Apa yang terjadi? “Ceritakan yang kamu ingat dari awal.”
- Kapan dan di mana? “Biasanya ini terjadi saat istirahat, di perjalanan, di kelas, atau lewat pesan?”
- Siapa yang terlibat atau melihat? Jangan memaksa anak menyebut nama bila ia belum siap; catat informasi yang tersedia.
- Apakah ini pernah terjadi sebelumnya? Cari pola, bukan hanya satu kejadian.
- Apakah kamu merasa aman sekarang? Periksa apakah ada ancaman lanjutan, luka, atau ketakutan untuk kembali ke tempat tertentu.
- Siapa orang dewasa yang terasa aman untuk dimintai bantuan? Anak dapat menyebut guru, wali kelas, konselor sekolah, keluarga, atau orang dewasa tepercaya lain.
Hindari pertanyaan yang menyudutkan seperti “Apa yang kamu lakukan sampai mereka begitu?” Jika memang perlu memahami interaksi sebelumnya, tanyakan secara netral setelah anak merasa cukup aman. Tanggung jawab atas tindakan menyakiti tetap berada pada orang yang melakukannya, bukan pada anak yang menjadi sasaran.
Susun rencana keselamatan yang konkret bersama anak
Rencana keselamatan tidak harus rumit. Tujuannya memastikan anak tahu ke mana harus pergi, siapa yang dapat membantu, dan apa yang perlu dilakukan jika situasi terulang. Jangan menempatkan beban pengawasan kepada anak. Orang dewasa dan institusi terkait tetap bertanggung jawab mengupayakan lingkungan yang aman.
Di sekolah atau tempat kegiatan
Tanyakan lokasi dan waktu yang terasa paling berisiko, misalnya koridor, halaman, kantin, ruang ganti, atau perjalanan pulang. Bersama pihak sekolah, pertimbangkan pengawasan orang dewasa, akses ke ruang aman, pendamping yang dapat dihubungi, atau penyesuaian sementara yang tidak membuat anak kehilangan hak belajar dan berpartisipasi. Pastikan anak mengetahui nama dan cara menemui orang dewasa yang bertanggung jawab.
Di lingkungan pertemanan
Jangan memaksa anak bertemu, berdamai, atau meminta maaf bersama pihak lain sebelum situasinya dinilai aman. Pertemuan langsung yang tidak dipersiapkan dapat membuat anak merasa tertekan atau menjadi sasaran lagi. Tanyakan apakah ada teman yang membuatnya merasa aman, dan dorong hubungan yang suportif tanpa memaksanya segera kembali bergaul dengan kelompok yang menyakitinya.
Di ruang digital
Jika kejadian berlangsung melalui pesan atau media sosial, simpan bukti yang relevan seperti tangkapan layar, tanggal, nama akun, dan tautan jika aman dilakukan. Jangan membalas dengan ancaman, menyebarkan ulang konten, atau mengajak orang lain menyerang akun tersebut. Gunakan fitur blokir dan pelaporan pada platform bila sesuai, periksa pengaturan privasi, dan libatkan orang dewasa atau pihak sekolah bila pelaku berasal dari lingkungan pendidikan. Jangan menghapus bukti sebelum mempertimbangkan apakah bukti itu diperlukan untuk pelaporan.
Perhatikan pula keselamatan akun anak: kata sandi tidak mudah ditebak, informasi pribadi tidak diumbar, dan anak mengetahui cara meminta bantuan ketika menerima pesan yang mengancam. Penanganan digital tidak berhenti pada mematikan gawai; anak tetap memerlukan dukungan emosional dan tindak lanjut atas perilaku yang terjadi.
Bekerja sama dengan sekolah tanpa memperbesar risiko
Hubungi wali kelas, guru bimbingan konseling, kepala sekolah, atau petugas perlindungan anak di sekolah sesuai struktur yang tersedia. Sampaikan kronologi secara faktual: tanggal atau perkiraan waktu, lokasi, perilaku yang dilaporkan, pihak yang mengetahui, dampak pada anak, dan langkah yang sudah dilakukan. Pisahkan hal yang disaksikan langsung dari cerita yang diterima agar sekolah dapat memeriksa dengan adil.
Mintalah sekolah menjelaskan siapa yang akan menjadi kontak utama, bagaimana anak akan dilindungi selama pemeriksaan, bagaimana risiko pengulangan dipantau, dan kapan orang tua mendapat pembaruan. Catat percakapan penting dan kesepakatan tindak lanjut. Bila tidak ada respons memadai atau risiko tetap berlangsung, pertimbangkan eskalasi kepada pimpinan sekolah atau otoritas pendidikan dan perlindungan anak yang sesuai dengan wilayah serta tingkat masalah.
UNICEF Indonesia dalam panduan untuk guru menekankan perlunya menanggapi laporan dengan serius, menunjukkan empati, tidak menyalahkan anak, dan membantu memastikan lingkungan aman. Panduan itu ditujukan kepada guru, tetapi dapat membantu orang tua memahami pertanyaan yang layak dibawa ke sekolah: bagaimana tindakan dihentikan dan bagaimana keselamatan anak dipantau setelah laporan dibuat? Baca tips UNICEF Indonesia untuk guru dalam mengatasi perundungan.
Hal yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua
- Jangan menyalahkan anak. Hindari komentar tentang pakaian, sifat, nilai sekolah, atau alasan anak dianggap memancing kejadian.
- Jangan meminta anak membalas. Balas dendam dapat memperbesar risiko dan membuat situasi makin sulit ditangani.
- Jangan mempermalukan pihak lain di media sosial. Unggahan terbuka dapat menyebarkan identitas anak, memperpanjang konflik, dan mengganggu proses penanganan.
- Jangan memaksa mediasi sebelum aman. Penyelesaian bersama bukan langkah otomatis untuk setiap dugaan perundungan atau kekerasan.
- Jangan menganggap semua selesai setelah satu permintaan maaf. Periksa apakah perilaku berhenti dan anak merasa lebih aman dalam beberapa waktu berikutnya.
- Jangan meminta anak menyimpan bukti atau menghadapi pelaku sendirian. Orang dewasa harus memegang tanggung jawab tindak lanjut.
Perubahan yang bisa diamati dan kapan mencari bantuan
Anak mungkin tidak selalu bercerita secara langsung. Orang tua dapat memperhatikan perubahan yang menetap: enggan berangkat sekolah, kehilangan minat pada kegiatan, sulit tidur, lebih sering mengeluh sakit tanpa penyebab yang jelas, menarik diri, atau tampak sangat cemas saat menerima pesan. Tanda-tanda ini tidak membuktikan perundungan dengan sendirinya; ada banyak kemungkinan penyebab. Gunakan perubahan tersebut sebagai alasan untuk bertanya dengan lembut dan mencari tahu apa yang dibutuhkan anak.
Jika anak mengalami luka, ancaman, kekerasan seksual, pemaksaan, risiko melukai diri, atau bahaya langsung, cari pertolongan segera dari layanan darurat, tenaga kesehatan, atau lembaga perlindungan sesuai kebutuhan. Bila dampak emosional menetap atau mengganggu fungsi harian, konsultasikan dengan psikolog, psikiater anak, dokter, atau tenaga profesional yang kompeten. Jangan menunggu sampai anak tidak sanggup menjalani sekolah untuk meminta bantuan.
Orang tua dapat membaca panduan UNICEF Indonesia tentang cara membicarakan perundungan dengan anak untuk membuka percakapan yang tidak menghakimi. Untuk langkah percakapan dan dukungan lanjutan, StopBullying.gov tentang cara berbicara dengan anak mengenai perundungan juga dapat menjadi bacaan tambahan. Pedoman tersebut berasal dari konteks Amerika Serikat, sehingga prosedur sekolah dan layanan lokal tetap perlu disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Bangun kepercayaan sebelum masalah terjadi
Anak lebih mudah meminta bantuan ketika sehari-hari ia mengalami bahwa orang tua bersedia mendengar cerita kecil, bukan hanya bereaksi ketika ada masalah besar. Tanyakan pengalaman menyenangkan dan tidak menyenangkan tanpa menjadikannya pemeriksaan harian. Jika anak bercerita tentang teman, dengarkan sebelum menilai. Bila orang tua salah merespons, akui dan perbaiki percakapan.
Kenalkan beberapa orang dewasa tepercaya di rumah, sekolah, dan lingkungan kegiatan. Jelaskan bahwa anak boleh mendatangi mereka bila orang tua sedang tidak berada di tempat atau ia membutuhkan bantuan segera. Pastikan anak mengetahui bahwa ia dapat bercerita kembali meskipun sebelumnya belum siap, lupa detail, atau takut akan reaksi orang lain.
Orang tua dapat memperkuat jalur komunikasi ini melalui panduan mendengarkan anak agar berani bercerita, mengenal orang dewasa tepercaya di lingkungan sekolah, dan membantu anak menghadapi percakapan tentang sekolah yang menimbulkan kecemasan.
Yang paling penting: anak tidak menghadapi ini sendirian
Mengetahui apakah sebuah kejadian termasuk perundungan dapat membutuhkan informasi dari beberapa pihak. Namun, orang tua tidak perlu menunggu kepastian label untuk menghentikan kekerasan, menanggapi ancaman, atau meminta lingkungan yang aman. Dengarkan cerita anak, periksa risiko, simpan informasi yang diperlukan, dan libatkan pihak yang mampu bertindak.
Anak membutuhkan pesan yang konsisten: ia berhak merasa aman, boleh meminta bantuan, dan tidak bertanggung jawab atas tindakan orang lain yang menyakitinya. Ketika orang tua merespons dengan tenang serta menindaklanjuti secara nyata, anak tidak hanya didengar pada hari ia bercerita; ia juga melihat bahwa suaranya menghasilkan langkah perlindungan.








