Orang tua mendengarkan anak sekolah dasar yang bercerita tentang percakapan teman di ponsel, dengan suasana rumah yang tenang.
Mendengarkan kekhawatiran anak tentang aktivitas teman membantu orang tua memahami FOMO dan mendampingi tanpa menghakimi.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

FOMO pada Anak Usia 8–12 Tahun: Cara Orang Tua Mendampingi tanpa Menghakimi

Anak usia 8–12 tahun dapat merasa tertinggal ketika teman membicarakan permainan, grup, atau kegiatan yang tidak ia ikuti. Orang tua dapat membantu mengenali pemicu FOMO, memvalidasi perasaan, dan membangun pilihan yang sehat.

Sepulang sekolah, anak mendengar teman-temannya membahas permainan yang sedang populer. Ia belum pernah mencobanya, lalu meminta segera mengunduh dan bermain. Ketika orang tua mengatakan tidak, anak merasa akan tertinggal dari kelompok. Di kesempatan lain, ia terus memeriksa grup karena takut ada percakapan penting yang tidak ia ketahui.

Pengalaman takut tertinggal dari kegiatan atau percakapan teman sering disebut fear of missing out (FOMO). Pada usia 8–12 tahun, kebutuhan untuk diterima kelompok dan memiliki kesamaan dengan teman mulai terasa penting. FOMO tidak otomatis merupakan gangguan atau tanda anak lemah. Perasaan tersebut perlu dipahami dalam konteks hubungan sosial, penggunaan perangkat, dan kemampuan anak mengelola ketidakpastian.

Kenali FOMO dari situasi, bukan dari satu permintaan

Anak yang meminta permainan baru belum tentu mengalami FOMO. Ia bisa saja tertarik karena penasaran. Perhatikan pola berulang: apakah ia gelisah ketika tidak memeriksa grup, merasa harus selalu mengikuti tren, sulit menikmati kegiatan karena memikirkan aktivitas teman, atau sangat khawatir tidak diajak? Tanyakan bagaimana perasaannya, bukan langsung memberi label.

Kalimat pembuka yang membantu misalnya, “Kamu kelihatannya khawatir teman-teman membicarakan sesuatu tanpa kamu. Apa yang paling kamu takutkan?” Beri waktu anak menjawab. Mungkin ia takut tidak punya bahan obrolan, tidak diundang bermain, atau dianggap berbeda. Memahami kekhawatiran yang spesifik membuat orang tua dapat menawarkan bantuan yang lebih tepat.

Mengapa usia sekolah dasar rentan merasa tertinggal?

Pertemanan dan rasa memiliki kelompok menjadi bagian penting kehidupan anak. Ketika teman memiliki permainan, grup percakapan, atau pengalaman bersama, anak mungkin merasa perlu ikut agar tetap dekat. Media digital dapat memperbesar kesan bahwa kegiatan teman berlangsung terus-menerus, sementara anak hanya melihat potongan informasi yang dibagikan.

Sudah ada penelitian yang secara khusus menelaah kelompok usia ini. Sebuah studi kualitatif terhadap 32 anak praremaja usia 8–12 tahun dan orang tua di Prancis menemukan bahwa FOMO dan pengalaman diterima dalam kelompok sosial termasuk unsur yang mendorong keterlibatan anak di media sosial. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa rasa memiliki kelompok dapat berpengaruh, tetapi sampelnya kecil dan bukan gambaran semua anak.

Penelitian Indonesia yang terbit pada 2025 juga menelaah 265 siswa kelas IV–VI dari tiga sekolah dasar di Jakarta Barat melalui kuesioner dan pendekatan korelasional. Peneliti menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial, FOMO, dan kesejahteraan emosional. Karena desainnya korelasional dan sampelnya berasal dari tiga sekolah, hasil tersebut tidak membuktikan bahwa FOMO selalu menjadi penyebab langsung masalah emosi pada setiap anak. Baca ringkasan penelitian di Journal of Education and Learning (EduLearn) serta studi praremaja di International Journal of Consumer Studies. Gunakan temuan ini sebagai konteks, bukan alat diagnosis; pengalaman anak tetap perlu dipahami secara individual.

Validasi perasaan tanpa harus menyetujui semua permintaan

Orang tua dapat mengatakan, “Wajar kamu ingin ikut obrolan teman. Rasanya tidak enak kalau merasa tertinggal.” Setelah itu, jelaskan batas yang berlaku: “Kita belum akan membuat akun atau mengunduh permainan itu sekarang. Kita cari cara lain agar kamu tetap bisa ngobrol dengan teman.” Anak perlu tahu bahwa perasaannya diterima, meskipun jawabannya tidak selalu ya.

Hindari komentar seperti “Kamu terlalu ikut-ikutan” atau “Tidak usah peduli teman”. Bagi anak, hubungan pertemanan memang bermakna. Mengabaikan perasaannya dapat membuat ia enggan bercerita. Sebaliknya, orang tua juga tidak perlu memenuhi setiap permintaan agar anak tidak kecewa. Belajar menghadapi rasa tertinggal dengan dukungan merupakan keterampilan yang bisa berkembang.

Bantu anak membedakan kebutuhan sosial dan tekanan tren

Tanyakan apa yang sebenarnya ingin ia dapatkan. Apakah ia ingin bermain bersama teman, memahami percakapan mereka, atau memiliki barang yang sama? Bila tujuannya kebersamaan, mungkin ada alternatif: mengajak teman bermain aktivitas lain, meminta teman menjelaskan permainan saat bertemu, atau ikut kegiatan kelompok yang tidak membutuhkan akun platform baru.

Jika anak tertarik pada suatu tren, orang tua dapat memeriksa usia layanan, isi permainan, biaya, dan pengaturan privasinya sebelum memutuskan. Jangan menganggap semua tren berbahaya, tetapi jangan pula mengabaikan aturan usia atau risiko hanya demi menghindari rasa kecewa. Terangkan alasan keputusan secara spesifik.

Bangun hubungan pertemanan yang tidak bergantung pada satu grup

Dukung anak memiliki beberapa sumber kedekatan: teman sekolah, saudara, tetangga, klub olahraga, kegiatan seni, atau komunitas sesuai minat. Tidak semua anak ingin memiliki banyak teman. Tujuannya bukan memaksa anak menjadi populer, melainkan memberi kesempatan membangun hubungan yang nyaman dan saling menghormati.

Jika anak merasa tidak diajak, bantu ia memilih langkah yang dapat dilakukan. Ia dapat mengajak satu teman bermain, menyampaikan bahwa ia ingin ikut kegiatan berikutnya, atau mencari aktivitas lain. Jangan menyuruhnya mengejar kelompok yang terus menolak atau merendahkan dirinya. Ajarkan bahwa pertemanan sehat memberi ruang untuk berbeda dan tidak menuntut seseorang selalu tersedia.

Atur kebiasaan memeriksa pesan dan tren

Sepakati waktu untuk memeriksa pesan bila anak sudah menggunakan layanan yang sesuai usia dan aturan. Hindari notifikasi yang tidak perlu, matikan perangkat ketika waktu belajar atau istirahat, dan jangan meletakkan ponsel di samping tempat tidur bila itu membuat anak terus memeriksa. Jelaskan kapan pesan perlu segera dijawab dan kapan dapat menunggu.

Orang tua juga perlu membatasi kebiasaan membahas tren secara berlebihan di rumah. Jika setiap percakapan keluarga menilai siapa yang sedang populer atau apa yang sedang viral, anak dapat menangkap bahwa mengikuti tren merupakan ukuran penting. Tunjukkan bahwa keluarga tetap dapat menikmati kegiatan sederhana tanpa harus membagikannya secara daring.

Latih anak mengelola pikiran “semua orang ikut kecuali aku”

Bantu anak memeriksa apakah kesimpulan itu benar. Tanyakan, “Kamu tahu semua teman ikut, atau baru melihat beberapa orang membicarakannya?” Anak bisa belajar bahwa unggahan dan percakapan hanya menampilkan sebagian pengalaman. Ia tidak perlu mengecek berulang kali untuk memastikan setiap orang sedang melakukan apa.

Gunakan perbandingan yang tidak menghakimi: “Kita sering melihat foto saat orang sedang senang. Kita tidak melihat seluruh hari mereka. Kamu juga punya kegiatan yang tidak selalu kamu bagikan.” Pesan ini bukan untuk mengecilkan pengalaman teman, melainkan membantu anak memahami bahwa tampilan digital tidak memperlihatkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Ketika FOMO terkait perundungan atau pengucilan

Jika anak takut tertinggal karena teman sengaja mengeluarkannya dari grup, mengejek, atau menyebarkan rumor, persoalannya bukan hanya soal manajemen layar. Dengarkan cerita anak, simpan informasi penting, dan cari tahu apakah ada risiko keselamatan. Bila terkait sekolah, komunikasikan dengan guru atau pihak sekolah secara faktual. Jangan meminta anak menyelesaikan semuanya sendiri atau membalas dengan cara yang sama.

Jika kecemasan terus berlangsung, mengganggu tidur, sekolah, nafsu makan, atau membuat anak menghindari kegiatan yang sebelumnya disukai, pertimbangkan bantuan profesional. Ceritakan perubahan yang diamati, bukan hanya istilah FOMO. Tenaga profesional dapat membantu memahami apakah ada kecemasan, tekanan pertemanan, atau persoalan lain yang membutuhkan dukungan.

Peran orang tua: hadir, bukan memantau setiap gerak

Anak membutuhkan orang dewasa yang bersedia mendengarkan tanpa langsung menghakimi, sekaligus mampu memberi batas yang konsisten. Buat percakapan rutin tentang pertemanan dan aktivitas digital, bukan hanya ketika ada masalah. Hargai minat anak, tetapi bantu ia melihat bahwa ia memiliki pilihan dan tidak harus mengikuti setiap tren agar diterima.

FOMO dapat menjadi kesempatan melatih anak memahami perasaan, membuat keputusan, dan menjaga hubungan yang sehat. Orang tua tidak dapat menghilangkan semua rasa tertinggal; yang dapat dilakukan adalah membantu anak menghadapinya tanpa kehilangan rasa aman atau mengorbankan kebutuhan lain. Ketika anak merasa didengar dan memiliki kegiatan bermakna di luar layar, ia punya lebih banyak tempat untuk menemukan rasa memiliki.

Untuk pendampingan terkait citra diri dan perbandingan di media sosial, baca juga panduan mendampingi paparan media sosial dan citra diri anak.

Orang tua dapat menguatkan rasa memiliki di rumah melalui kegiatan yang memberi anak peran nyata. Ajak ia menentukan menu sederhana, memilih permainan keluarga, merencanakan kunjungan, atau mengusulkan kegiatan bersama teman. Jangan menjadikan aktivitas ini sebagai pengganti semua pertemanan; tujuannya memberi anak pengalaman bahwa ia dapat mengambil inisiatif dan menikmati kegiatan tanpa harus menunggu undangan atau respons dari grup digital.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.