“Aku tidak mau jadi penjaga toko. Aku maunya jadi pembeli.” Kalimat seperti ini sering muncul ketika anak bermain peran bersama saudara atau orang tua. Perebutan peran bisa membuat permainan berhenti, tetapi justru di situ ada bahan percakapan: bagaimana rasanya berada di posisi orang lain, apa yang diketahui setiap tokoh, dan mengapa mereka menginginkan hal yang berbeda? Permainan tukar peran dapat memberi anak kesempatan membayangkan sudut pandang lain. Namun, permainan ini bukan tombol yang otomatis membuat anak empatik. Ia hanya menjadi latihan yang bermakna ketika anak aman, didengarkan, dan tidak dipaksa memerankan pengalaman yang membuatnya tertekan.
Empati bukan sekadar mengucapkan “kasihan”. Anak perlu belajar memperhatikan perasaan, mencoba memahami alasan orang lain, dan memilih respons yang menghormati kebutuhan mereka. Permainan peran dapat membantu orang tua membuka percakapan itu dalam situasi kecil yang tidak terlalu mengancam. Bukti penelitian tentang intervensi role-play pada anak masih beragam dan hasil sebuah studi tidak bisa digeneralisasi ke semua usia atau keluarga. Karena itu, gunakan skenario sebagai kesempatan berlatih, bukan sebagai penilaian karakter anak.
Tukar peran bukan berarti anak harus setuju dengan semua orang
Memahami sudut pandang orang lain berbeda dari menyetujui tindakannya. Anak dapat memahami bahwa temannya kecewa karena mainan dipinjam tanpa izin, tetapi tetap belajar bahwa merebut atau memukul tidak boleh dilakukan. Ia juga dapat memahami orang yang marah tanpa harus menerima perilaku yang menyakitkan. Pembedaan ini penting agar pesan empati tidak berubah menjadi tuntutan untuk selalu mengalah.
Orang tua dapat memulai dengan situasi yang ringan dan dekat: dua anak ingin menggunakan benda yang sama, seseorang terlambat datang, atau seorang teman tidak diajak bermain. Jangan mulai dari perundungan berat, kehilangan, kekerasan, atau pengalaman trauma tanpa pertimbangan yang matang. Tujuan sesi keluarga adalah mengeksplorasi pilihan aman, bukan meminta anak menghidupkan kembali pengalaman yang belum siap ia ceritakan.
Cara menyiapkan permainan dalam 10–15 menit
Pilih satu situasi, dua atau tiga tokoh, dan benda yang mudah ditemukan. Misalnya, dua boneka ingin duduk di kursi yang sama. Tentukan siapa yang memulai, siapa yang akan bertukar peran, dan berapa lama permainan berlangsung. Anak dapat menggunakan boneka, gambar, kartu tokoh, atau bermain langsung. Tidak perlu kostum. Jelaskan bahwa siapa pun boleh berhenti atau mengganti peran jika merasa tidak nyaman.
Gunakan pembukaan netral: “Kita coba melihat kejadian ini dari dua tempat. Pertama, kamu menjadi anak yang menunggu giliran. Setelah itu kita tukar.” Hindari memberi tahu terlebih dahulu siapa yang salah. Bila anak bertanya apakah jawabannya benar, jelaskan bahwa tujuan permainan bukan mencari satu jawaban sempurna, melainkan memperhatikan apa yang mungkin dirasakan setiap tokoh dan pilihan apa yang aman.
Enam skenario yang bisa dicoba di rumah
1. Teman yang tidak mendapat giliran
Satu tokoh sedang menggunakan permainan papan. Tokoh lain sudah menunggu, tetapi gilirannya terus tertunda. Mintalah anak memainkan kedua posisi: orang yang asyik bermain dan orang yang menunggu. Setelah bertukar, tanyakan apa yang membuat menunggu terasa lama dan bagaimana cara menyampaikan keinginan tanpa merebut. Solusi yang mungkin muncul adalah pengatur waktu, urutan giliran, atau kesepakatan satu putaran lagi.
2. Penjaga toko dan pembeli yang bingung
Dalam permainan toko-tokoan, pembeli tidak menemukan barang yang dicari. Penjaga toko sedang sibuk dan menjawab dengan nada terburu-buru. Anak bergantian menjadi pembeli dan penjaga. Diskusikan bagaimana bertanya dengan sopan, bagaimana memberi penjelasan, serta apa yang bisa dilakukan bila barang memang tidak tersedia. Skenario ini melatih komunikasi tanpa menyiratkan bahwa pembeli selalu benar atau penjual wajib memenuhi semua permintaan.
3. Anak yang tidak diajak masuk permainan
Buat cerita tentang kelompok yang sedang bermain dan satu tokoh datang belakangan. Minta anak memainkan tokoh yang sudah bermain, tokoh yang datang, dan teman yang mencoba menjembatani. Cari cara mengundang tanpa memaksa: menawarkan peran kecil, menjelaskan aturan, atau menerima bila seseorang belum ingin bergabung. Setelahnya, bedakan antara tidak sengaja melewatkan teman dan sengaja mengecualikan seseorang berulang kali.
4. Kakak-adik yang berbeda keinginan
Satu tokoh ingin membuat bangunan tinggi, tokoh lain ingin membongkar dan membuat kendaraan. Anak bergantian memainkan keduanya. Tanyakan bagian apa yang penting bagi masing-masing tokoh. Solusinya tidak harus setengah-setengah; mungkin mereka membangun garasi yang bisa berubah menjadi panggung, atau menggunakan bahan bersama dengan waktu bergiliran. Fokusnya menemukan kebutuhan di balik permintaan.
5. Teman yang melakukan kesalahan
Satu tokoh tidak sengaja merusak hasil karya temannya. Anak memerankan anak yang karyanya rusak dan anak yang membuat kesalahan. Bahas perbedaan antara meminta maaf, memperbaiki kerusakan, dan mengembalikan kepercayaan. Jangan mengarahkan anak yang dirugikan untuk langsung memaafkan. Ia boleh butuh waktu. Empati berlaku untuk kedua tokoh, tetapi tanggung jawab tetap berada pada orang yang menyebabkan kerusakan.
6. Orang dewasa yang salah memahami anak
Buat situasi sederhana ketika orang tua mengira anak menolak membantu, padahal anak belum memahami instruksinya. Tukar peran agar anak dapat menunjukkan bagaimana pesan terdengar dari kedua sisi. Skenario ini juga mengingatkan orang dewasa bahwa komunikasi perlu diperiksa, bukan hanya dituntut dari anak. Akhiri dengan satu kalimat klarifikasi yang dapat dipakai bersama.
Pertanyaan refleksi setelah bermain
Refleksi sebaiknya singkat. Cukup pilih dua atau tiga pertanyaan yang paling sesuai: “Apa yang kamu perhatikan ketika menjadi tokoh itu?”, “Hal apa yang belum diketahui tokoh lain?”, “Apa yang bisa dilakukan tanpa menyakiti siapa pun?”, atau “Kalau kejadian serupa benar-benar terjadi, siapa orang dewasa yang bisa dimintai bantuan?” Jangan membuat sesi berubah menjadi ujian moral. Anak mungkin hanya menjawab satu kalimat, menggambar perasaan, atau memilih tidak menjawab. Itu tetap dapat diterima.
Penelitian tentang membaca buku bertema perundungan yang dilanjutkan role-play pada kelompok kecil anak prasekolah di Korea Selatan melaporkan perubahan pada cara anak mempertimbangkan sudut pandang dan membicarakan respons terhadap masalah. Studi tersebut melibatkan 21 anak dan berlangsung dalam konteks lembaga tertentu, sehingga tidak membuktikan bahwa semua permainan tukar peran di rumah menghasilkan dampak yang sama. Ringkasan penelitian dapat dibaca di ERIC, Development of Children’s Perspective-Taking and Empathy through Bullying-Themed Books and Role-Playing.
Tanda permainan perlu dihentikan atau diganti
Hentikan sesi jika anak tampak takut, terdiam karena tertekan, menangis, atau mulai menirukan tindakan menyakiti dengan cara yang tidak aman. Jangan memaksa anak menjadi pelaku, korban, atau tokoh yang mengingatkan pada pengalaman pribadinya. Ganti dengan boneka, tokoh fiktif, atau situasi yang lebih ringan. Bila anak mengungkap pengalaman perundungan atau kekerasan yang nyata, dengarkan tanpa menginterogasi, pastikan keselamatannya, dan lanjutkan dengan bantuan orang dewasa serta layanan yang sesuai.
Orang tua juga perlu menghindari penggunaan permainan ini untuk membuktikan bahwa anak “kurang empati”. Anak yang sulit menjawab pertanyaan tentang perasaan mungkin memerlukan bahasa yang lebih sederhana, waktu lebih lama, atau cara komunikasi lain. Perbedaan temperamen, pengalaman, bahasa, dan perkembangan perlu dihormati. Jangan menyimpulkan karakter dari satu sesi.
Hubungkan latihan bermain dengan kejadian sehari-hari
Nilai permainan muncul ketika orang tua dapat menghubungkannya secara ringan dengan situasi nyata. Setelah berebut mainan, misalnya, orang tua dapat berkata, “Tadi kita pernah memainkan dua tokoh yang ingin benda sama. Sekarang bagaimana kita membuat giliran yang adil?” Jangan mengungkit permainan untuk mempermalukan anak saat ia marah. Gunakan sebagai pengingat bersama, bukan senjata dalam konflik.
Baca juga panduan dasar mengajarkan empati pada anak untuk memahami keterampilan yang lebih luas, serta cara mendampingi anak yang kesulitan bergabung dalam permainan kelompok bila kebutuhan anak berkaitan dengan interaksi teman sebaya. Permainan tukar peran merupakan salah satu cara berlatih, bukan pengganti pengalaman sosial nyata.
Sebagai dasar umum, American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa permainan yang sesuai tahap perkembangan memberi kesempatan anak berinteraksi, berbahasa, mengelola diri, dan membangun hubungan dengan pengasuh. Orang tua tidak perlu membuat sesi panjang atau menilai hasilnya. Satu skenario yang dekat dengan kehidupan anak, dimainkan dengan aman dan diakhiri percakapan yang tulus, sudah cukup untuk membuka ruang memahami orang lain tanpa menghapus batas diri.
Contoh lain yang dapat digunakan adalah situasi ketika seorang tokoh menerima pesan yang tidak dibalas. Anak bergantian menjadi pengirim dan penerima. Dari sisi pengirim, ia mungkin merasa diabaikan; dari sisi penerima, bisa jadi ia sedang membantu orang lain atau belum tahu harus menjawab apa. Tanyakan informasi apa yang belum dimiliki masing-masing tokoh. Latihan ini membantu anak membedakan apa yang diketahui dan apa yang hanya diduga. Jangan menyimpulkan bahwa orang yang belum membalas pasti tidak peduli.
Skenario tentang aturan permainan juga dapat diperluas. Seorang anak baru bergabung, tetapi tidak memahami aturan yang dibuat oleh kelompok. Anak bergantian menjadi anggota lama, anak baru, dan pengamat. Perhatikan apakah kelompok menjelaskan aturan dengan bahasa yang bisa dipahami, memberi kesempatan bertanya, dan bersedia mengubah aturan yang tidak adil. Skenario ini memberi orang tua kesempatan menunjukkan bahwa empati tidak hanya dilakukan oleh orang yang datang belakangan; kelompok juga memiliki tanggung jawab membuat ruang bermain yang bisa diikuti bersama.
Jika anak cenderung memberi solusi langsung—misalnya “pokoknya berbagi”—tanyakan apa yang membuat solusi itu sulit dijalankan. Tokoh mungkin sedang menggunakan benda yang mudah rusak, belum selesai, atau memiliki kebutuhan khusus. Anak dapat mencari alternatif seperti menyiapkan benda serupa, membuat jadwal, atau bermain bersama dengan peran berbeda. Fokus bukan pada satu solusi yang terdengar baik, tetapi pada kemampuan melihat kebutuhan dan batas setiap pihak. Itu sebabnya permainan perlu disertai percakapan, bukan sekadar pergantian kostum.
Permainan dapat diulang dengan tingkat keterlibatan yang berbeda. Pada sesi pertama, orang tua cukup memainkan boneka dan anak memilih apa yang ingin dilakukan. Pada sesi berikutnya, anak dapat berganti peran. Anak yang belum nyaman berbicara mungkin lebih mudah menunjukkan pilihan dengan menggerakkan tokoh. Anak yang sudah terbiasa bermain peran dapat membuat dialog sendiri. Jangan menaikkan tingkat kesulitan hanya karena orang tua merasa anak harus berkembang lebih cepat.
Setelah beberapa kali permainan, orang tua dapat menilai apakah skenario masih relevan. Bila konflik yang sama terus membuat saudara bertengkar, permainan mungkin perlu jeda dan aturan nyata perlu dibicarakan di luar sesi. Role-play tidak menggantikan penyelesaian konflik aktual, apalagi tindakan perlindungan jika ada perundungan. Gunakan permainan sebagai alat belajar tambahan, bukan alasan menunda langkah yang dibutuhkan untuk menghentikan perilaku menyakiti.
Setelah anak memahami permainan, orang tua dapat mengajak anak membuat skenario yang lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari, tetapi tetap ringan. Misalnya, seorang tokoh tidak mau bergabung karena permainan sudah dimulai. Anak dapat mencoba cara menjelaskan aturan tanpa mempermalukan tokoh tersebut. Skenario lain: tokoh salah memahami candaan temannya. Ajak anak membedakan niat bercanda dan dampak yang dirasakan orang lain. Jika skenario terasa terlalu dekat dengan kejadian yang menyakitkan, ubah atau hentikan.
Penting pula mengajarkan bahwa anak berhak menyatakan kebutuhan sendiri. Empati bukan berarti ia harus selalu mengikuti keinginan teman, memberi semua mainan, atau mengabaikan rasa tidak nyaman. Dalam permainan tukar peran, sertakan tokoh yang berkata “aku belum mau”, “aku butuh waktu”, atau “tolong berhenti”. Anak belajar bahwa memahami orang lain berjalan bersama kemampuan menjaga batas diri.










