Game tidak selalu dimainkan untuk mengalahkan lawan. Ada permainan yang meminta pemain bekerja sama, berbagi informasi, menyusun strategi bersama, dan membantu anggota tim mencapai tujuan. Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan percakapan tentang empati, yaitu kemampuan mencoba memahami perasaan atau sudut pandang orang lain.
Namun, game kerja sama tidak otomatis membuat anak lebih empatik. Anak tetap membutuhkan contoh, percakapan, dan pengalaman sosial nyata. Orang tua dapat mengamati cara anak berbicara ketika teman melakukan kesalahan, apakah ia memberi kesempatan pemain lain, dan bagaimana ia merespons saat tim kalah. Perilaku di dalam game menjadi titik awal untuk belajar, bukan bukti bahwa keterampilan sosial sudah terbentuk.
Pilih permainan yang memiliki tujuan bersama
Cari game yang membuat pemain menyelesaikan misi sebagai tim, membangun sesuatu bersama, atau menggabungkan kemampuan berbeda. Periksa apakah permainan memungkinkan komunikasi dengan pemain yang dikenal dan apakah ada fitur chat publik. Untuk anak lebih kecil, permainan kooperatif lokal bersama keluarga sering lebih mudah diawasi dibanding ruang daring dengan orang tidak dikenal.
Tujuan bersama perlu jelas. Jika game hanya menampilkan tim tetapi tetap memberi insentif kuat untuk menyalahkan satu pemain, pendampingan perlu lebih aktif. Pilih pengalaman yang memberi ruang saling membantu dan tidak menuntut anak membagikan data pribadi atau membeli item untuk mengikuti kelompok.
Gunakan momen bermain untuk membahas sudut pandang
Setelah teman satu tim melakukan kesalahan, tanyakan apa yang mungkin dirasakan teman tersebut dan bagaimana cara memberi umpan balik tanpa merendahkan. Bila anak kalah, bantu ia melihat bahwa pemain lain juga dapat kecewa. Percakapan ini tidak perlu panjang. Cukup ajak anak memikirkan dampak kata-kata dan tindakan terhadap orang lain.
Beri contoh bahasa yang mendukung: “Kita coba strategi lain,” “Kamu mau aku bantu?” atau “Tidak apa-apa, kita belajar dari ronde ini.” Anak dapat berlatih mengoreksi tanpa mengejek. Jika ia melontarkan umpatan, hentikan dan jelaskan perilaku yang perlu diubah. Fokus pada kalimat dan tindakan, bukan menyebut anak tidak punya empati.
Ajarkan empati juga saat menang dan saat kalah
Kemenangan dapat membuat anak ingin memamerkan kemampuan atau merendahkan lawan. Orang tua dapat mengajak anak memberi apresiasi atas kerja tim dan menghindari komentar yang mempermalukan. Saat kalah, bantu ia mengakui rasa kecewa tanpa menyalahkan teman. Kedua pengalaman ini mengajarkan bahwa emosi setiap pemain layak dihargai.
Jangan selalu menyelamatkan anak dari rasa kecewa dengan mengubah aturan atau mengalah. Ia perlu belajar menghadapi hasil yang tidak sesuai keinginan, tetapi dalam lingkungan yang aman. Orang tua dapat berkata, “Kamu kecewa karena tim kalah. Kita boleh merasa kecewa, tetapi tidak boleh menghina teman.”
Hubungkan keterampilan digital dengan kehidupan sehari-hari
Jika anak berhasil bekerja sama di game, cari kesempatan menerapkannya pada kegiatan rumah. Misalnya, merakit puzzle bersama saudara, menyiapkan makanan, atau menyelesaikan permainan papan kooperatif. Di sana anak berlatih membaca ekspresi, mendengar suara, berbagi alat, dan menyesuaikan strategi dengan kebutuhan orang lain.
Bicara tentang perbedaan konteks. Di game, pemain dapat keluar dari sesi, sedangkan hubungan nyata membutuhkan komunikasi dan tanggung jawab yang lebih luas. Ajarkan anak meminta maaf, memperbaiki kesalahan, menghargai batas, dan mencari bantuan ketika diperlakukan tidak baik. Empati berkembang melalui kebiasaan berulang di berbagai situasi.
Menerjemahkan kesepakatan menjadi kebiasaan
- Pilih game kooperatif dengan rating sesuai usia dan fitur komunikasi yang dapat dikendalikan. Coba bersama anak sebelum bermain online.
- Saat bermain, amati bahasa anak ketika membantu, kalah, atau menerima kesalahan dari anggota tim. Beri umpan balik spesifik.
- Lanjutkan dengan aktivitas kolaboratif tanpa layar agar anak berlatih empati melalui interaksi langsung.
Menyesuaikan pendampingan dengan usia dan kebutuhan anak
Anak usia 5–7 tahun membutuhkan contoh kalimat dan permainan kerja sama sederhana. Anak usia 8–12 tahun dapat diajak membahas sudut pandang anggota tim dan konflik strategi. Remaja dapat mendiskusikan etika komunitas game, moderasi, dan tanggung jawab dalam kelompok. Hindari menganggap setiap anak mengembangkan empati dengan kecepatan yang sama.
Hal yang perlu diperhatikan orang tua
Jangan menyimpulkan game yang memiliki karakter damai pasti aman secara sosial; interaksi pemain tetap dapat kasar. Sebaliknya, jangan menganggap semua game kompetitif otomatis membuat anak agresif. Nilai isi, komunikasi, pengalaman anak, dan perilaku yang terlihat. Jika anak menjadi sasaran perundungan, utamakan perlindungan sebelum menjadikan permainan sebagai latihan empati.
Membahas empati setelah permainan selesai
Setelah bermain, ajak anak menceritakan keputusan yang dibuat anggota tim, kesulitan yang dialami pemain lain, dan bagaimana tindakan tertentu memengaruhi kelompok. Tanyakan apa yang bisa dilakukan berbeda pada kesempatan berikutnya. Percakapan singkat membantu menghubungkan pengalaman bermain dengan situasi sosial di luar layar.
Game kooperatif dapat menyediakan kesempatan latihan, tetapi empati tidak muncul otomatis hanya karena anak bermain bersama. Anak tetap membutuhkan contoh orang dewasa, interaksi nyata, dan kesempatan memperbaiki hubungan ketika terjadi konflik.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah game kerja sama dapat menggantikan permainan bersama teman?
Tidak. Game dapat menjadi salah satu pengalaman kolaboratif, tetapi anak tetap membutuhkan interaksi di lingkungan lain untuk melatih komunikasi dan membaca situasi sosial.
Bagaimana jika anak menyalahkan teman satu tim?
Akui rasa kecewanya lalu arahkan pada perilaku yang lebih baik. Tanyakan apa yang dapat dilakukan tim berikutnya tanpa menghina atau mempermalukan anggota lain.
Bacaan terkait di BisaBaca
Rujukan untuk memahami topik lebih lanjut
UNICEF membahas sisi sosial game sekaligus mengingatkan orang tua untuk mengenali interaksi dan komunitas tempat anak bermain. Baca UNICEF: video game dan anak untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Pendekatan komunikasi membantu keluarga menghubungkan pengalaman digital dengan perilaku dan kebutuhan anak di luar layar. Baca panduan 5 C penggunaan media menurut AAP untuk melihat pedoman atau penjelasan sumber aslinya.
Mulai dari perubahan yang bisa dijalankan bersama
Empati tidak muncul hanya karena anak memainkan game yang tepat. Anak perlu melihat contoh, mencoba kata-kata yang menghargai orang lain, dan membicarakan dampak perilakunya. Game kooperatif dapat menjadi bahan latihan yang menyenangkan apabila orang tua tetap memeriksa keamanan dan menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.










