Anak sekolah dasar memperlihatkan gambar buatannya kepada orang tua di meja keluarga, dengan ponsel tergeletak tertutup di samping.
Apresiasi terhadap proses dan karya anak dapat membantu membangun rasa percaya diri yang tidak semata-mata bergantung pada respons media sosial.
Emosi & Kesehatan Mental Anak

Membangun Rasa Percaya Diri Anak tanpa Bergantung pada Like dan Komentar

Anak boleh menikmati apresiasi di media sosial, tetapi penilaian orang lain tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dirinya. Orang tua dapat membantu anak mengenali usaha, nilai pribadi, dan hubungan yang sehat.

Anak menunjukkan hasil gambar kepada orang tuanya, lalu segera bertanya, “Bagus tidak? Nanti kalau aku unggah, ada yang suka tidak?” Pertanyaan itu belum tentu berarti ia sudah menggantungkan harga dirinya pada media sosial. Anak mungkin sedang mencari kepastian, ingin diterima teman, atau baru belajar memahami respons orang lain. Namun, bila pujian dan jumlah tanda suka menjadi ukuran utama, orang tua perlu membantu anak membangun sumber percaya diri yang lebih luas.

Rasa percaya diri bukan berarti anak selalu yakin, selalu berhasil, atau tidak pernah kecewa. Anak yang percaya diri tetap bisa gugup, gagal, dan membutuhkan bantuan. Yang berkembang adalah keyakinan bahwa dirinya berharga dan mampu belajar, bahkan ketika hasilnya belum sesuai harapan atau orang lain tidak memberi respons seperti yang diinginkan.

Bedakan apresiasi dari angka popularitas

Like, komentar, dan jumlah pengikut adalah sinyal dari platform, bukan ukuran lengkap tentang kualitas karya atau nilai seseorang. Respons dapat dipengaruhi waktu unggah, jaringan pertemanan, tren, rekomendasi, dan banyak faktor lain. Anak tidak selalu mengetahui faktor tersebut; ia bisa mengira unggahan yang sepi berarti dirinya tidak menarik.

American Psychological Association mengingatkan bahwa pengalaman media sosial remaja beragam dan fitur seperti tombol suka, rekomendasi, serta guliran tanpa akhir perlu dipahami secara kritis, terutama ketika desainnya tidak disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Advisory APA tentang penggunaan media sosial pada remaja membahas risiko dan kemungkinan manfaat, tetapi tidak berarti setiap anak akan mengalami dampak yang sama. Untuk anak usia sekolah, pendampingan dan aturan platform tetap perlu disesuaikan dengan usia serta ketentuan Indonesia.

Bangun rasa mampu lewat pengalaman nyata

Anak membutuhkan kesempatan mencoba sesuatu yang dapat ia pelajari secara bertahap: menyiapkan perlengkapan sekolah, menyelesaikan puzzle, merawat tanaman, berlatih olahraga, atau membuat karya. Pilih tantangan yang tidak terlalu mudah maupun terlalu sulit. Ketika anak berhasil, tunjukkan bagian spesifik yang menunjukkan usaha atau strategi: “Kamu mencoba cara lain setelah baloknya roboh.” Apresiasi semacam ini lebih bermakna daripada pujian umum yang terus diulang.

Jika anak gagal, jangan buru-buru mengambil alih. Tanyakan bagian mana yang sulit dan apa yang ingin ia coba berikutnya. Beri bantuan secukupnya. Anak belajar bahwa kemampuan dapat berkembang melalui latihan, umpan balik, dan strategi—bukan semata-mata karena ia dianggap berbakat atau mendapat persetujuan orang lain.

Jangan jadikan unggahan sebagai panggung nilai diri

Jika keluarga mengizinkan anak membagikan karya, bicarakan tujuan sebelum mengunggah. Apakah ia ingin berbagi proses, mengajak teman membuat sesuatu, atau hanya ingin mengumpulkan pujian? Tidak perlu menuduh bahwa anak mencari perhatian. Perasaan ingin diapresiasi adalah hal yang dapat dipahami. Ajak ia memikirkan privasi, siapa yang dapat melihat, komentar yang mungkin muncul, dan apakah ia tetap senang dengan karyanya bila responsnya sedikit.

Orang tua juga perlu meminta izin sebelum mengunggah foto atau cerita anak. Anak berhak ikut menentukan apa yang dibagikan tentang dirinya. Hindari menjadikan akun orang tua sebagai alat untuk memamerkan prestasi atau membandingkan anak dengan saudara dan teman. Pujian publik dapat terasa menyenangkan bagi orang dewasa, tetapi anak mungkin tidak ingin seluruh pengalaman pribadinya menjadi konten.

Latih anak menanggapi komentar positif dan negatif

Ajarkan bahwa komentar baik boleh diterima tanpa harus menjadi penentu suasana hati sepanjang hari. Anak dapat mengucapkan terima kasih, menyimpan komentar yang membangun, lalu kembali ke aktivitasnya. Jika komentar berisi hinaan atau tekanan, ia tidak wajib membalas. Anak dapat memblokir atau melaporkan akun sesuai fitur platform, menyimpan bukti bila ada ancaman, dan meminta bantuan orang dewasa.

Ketika anak menerima komentar negatif, dengarkan perasaannya lebih dahulu. Hindari langsung berkata “Jangan baper” atau “Itu cuma internet”. Tanyakan apa yang terjadi dan apakah komentar tersebut berasal dari orang yang ia kenal. Bantu bedakan kritik terhadap karya dari serangan terhadap pribadi. Kritik yang spesifik mungkin dapat dipertimbangkan; hinaan tidak harus dijadikan penilaian diri.

Perkuat identitas anak di luar layar

Pastikan anak memiliki ruang untuk kegiatan yang tidak dinilai melalui unggahan: bermain di luar, bercakap dengan keluarga, membaca, menggambar, mengikuti kegiatan komunitas, atau sekadar beristirahat. Jangan mengubah semua hobi menjadi konten. Beberapa pengalaman boleh dinikmati tanpa dokumentasi atau penilaian publik.

Dalam percakapan keluarga, tanyakan apa yang membuat anak bangga pada prosesnya, hal yang ia pelajari, dan orang yang membuatnya merasa diterima. Beri kesempatan kepada anak untuk menyumbang pendapat dan mengambil tanggung jawab yang sesuai usia. Rasa memiliki peran di rumah dapat memperkuat keyakinan bahwa ia dihargai bukan hanya karena prestasi atau popularitas.

Jika anak terus membandingkan diri

Perbandingan sosial merupakan bagian dari proses tumbuh, tetapi paparan konten yang menonjolkan penampilan atau keberhasilan orang lain dapat membuat sebagian anak merasa tertinggal. Jangan menertawakan kekhawatirannya. Tanyakan akun atau jenis konten apa yang membuatnya merasa buruk, lalu evaluasi bersama apakah perlu berhenti mengikuti, membatasi waktu, atau mengganti pilihan konten.

Orang tua dapat mencontohkan cara membicarakan media sosial: “Unggahan ini hanya memperlihatkan satu bagian hidup seseorang. Kita tidak tahu seluruh cerita di baliknya.” Hindari membalas perbandingan anak dengan membandingkannya kepada anak lain. Bila kekhawatiran tentang penilaian diri terus mengganggu tidur, sekolah, pertemanan, atau kegiatan sehari-hari, pertimbangkan berbicara dengan guru BK atau tenaga profesional yang sesuai.

Apresiasi yang tidak membuat anak merasa harus sempurna

Berikan pujian yang jujur dan spesifik, tetapi jangan menuntut anak selalu menjadi yang terbaik. “Kamu menyelesaikan latihan meskipun tadi sempat kesulitan” mengakui proses. “Kamu paling pintar di kelas” dapat membuat anak merasa nilai dirinya bergantung pada posisi dibanding orang lain. Beri ruang bagi anak untuk beristirahat dan memilih kegiatan tanpa harus menghasilkan sesuatu yang dapat dipamerkan.

Pada akhirnya, tujuan pendampingan bukan membuat anak tidak peduli sama sekali pada pendapat orang lain. Hubungan sosial memang penting. Yang ingin dibangun adalah kemampuan menerima masukan tanpa kehilangan penghargaan terhadap diri sendiri. Anak boleh senang mendapat like, tetapi ia juga perlu tahu bahwa karya, usaha, rasa ingin tahu, dan keberadaannya tetap berarti saat layar tidak memberi tepuk tangan.

Jangan pula meminta anak menghapus semua unggahan hanya karena responsnya sedikit. Tanyakan dahulu apa makna unggahan itu baginya dan apakah ia masih ingin menyimpannya. Anak dapat belajar memilih mana yang perlu dibagikan, mana yang lebih baik disimpan pribadi, dan kapan ia ingin beristirahat dari platform. Memberi pilihan yang terarah membantu anak membangun kendali, sementara orang tua tetap dapat membatasi akun atau fitur yang belum sesuai usia.

Untuk memahami pengaruh konten sosial terhadap citra diri, baca juga artikel mendampingi anak saat terpapar media sosial dan citra diri.

Jaga agar dukungan tidak berubah menjadi pujian yang hanya diberikan ketika anak berprestasi. Anak juga perlu merasa dihargai ketika ia sedang belajar, gagal, atau memilih beristirahat. Tunjukkan perhatian pada hal yang tidak terlihat di media sosial: kejujuran, usaha meminta maaf, keberanian bertanya, dan kepedulian kepada saudara. Ketika anak merasa penerimaan keluarga tidak bergantung pada hasil unggahan, ia memiliki tempat yang lebih stabil untuk kembali setelah menghadapi komentar atau penilaian orang lain.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.