Anak yang mengalami perundungan di sekolah dapat mulai enggan berangkat, kehilangan semangat belajar, atau merasa tidak nyaman bertemu teman tertentu. Sebagian anak menceritakan kejadian dengan jelas, tetapi sebagian lain hanya mengeluh tentang teman, meminta pindah kelas, atau menunjukkan perubahan perilaku setelah pulang sekolah.
Orang tua tidak perlu menunggu sampai masalah membesar untuk mulai mencari informasi. Langkah awal yang berguna adalah mendengarkan anak, mencatat kejadian secara faktual, dan menghubungi pihak sekolah melalui jalur yang berlaku. Catatan bukan alat untuk langsung menetapkan seseorang bersalah; catatan membantu sekolah memahami situasi dan menentukan langkah pemeriksaan serta perlindungan.
Mengapa kejadian perlu dicatat?
Beberapa peristiwa yang berlangsung berulang dapat tercampur dalam ingatan. Catatan membantu keluarga mengingat kapan dan di mana kejadian berlangsung, apa yang diceritakan anak, siapa yang mungkin mengetahui, serta bagaimana dampaknya. Informasi yang teratur juga memudahkan orang tua menjelaskan masalah tanpa mengandalkan dugaan atau emosi semata.
Informasi apa saja yang sebaiknya dicatat?
- Tanggal dan perkiraan waktu: catat kapan anak mengalami atau menceritakan kejadian.
- Lokasi: misalnya kelas, halaman, kantin, perjalanan pulang, kegiatan ekstrakurikuler, atau ruang digital.
- Perilaku yang dilaporkan: tuliskan tindakan atau ucapan sedekat mungkin dengan kata-kata anak, tanpa menambahkan kesimpulan.
- Orang yang terlibat: catat nama jika diketahui, tetapi hindari menyebarkannya kepada pihak yang tidak berkepentingan.
- Saksi atau informasi pendukung: tuliskan siapa yang mungkin melihat atau mengetahui situasi.
- Dampak yang terlihat: misalnya anak takut, terluka, enggan ke sekolah, atau kehilangan barang.
- Tindak lanjut: catat kapan orang tua menghubungi sekolah dan apa respons yang diterima.
Pisahkan hal yang diketahui langsung, cerita anak, informasi dari orang lain, dan dugaan. Jika ada pesan atau foto yang relevan, simpan dengan aman. Jangan menyebarkan konten yang mempermalukan anak, terutama materi intim atau seksual.
6 langkah melibatkan pihak sekolah
1. Dengarkan anak dan periksa keselamatannya
Tanyakan apa yang terjadi dengan cara terbuka. Jika terdapat ancaman fisik, cedera, pemerasan, atau risiko pertemuan yang membahayakan, utamakan keselamatan dan pertolongan. Jangan meminta anak menyelesaikan sendiri masalah dengan murid lain.
2. Hubungi guru atau pihak sekolah yang tepat
Mulailah melalui wali kelas, guru yang relevan, atau kepala sekolah sesuai mekanisme sekolah. Sampaikan ringkasan faktual dan minta waktu berdiskusi. Hindari mengunggah nama anak lain atau menuduh seseorang di grup orang tua sebelum proses penanganan dilakukan.
3. Sampaikan kebutuhan perlindungan anak
Selain meminta sekolah memeriksa kejadian, diskusikan langkah agar anak tidak mengalami kejadian serupa. Misalnya pengawasan di area tertentu, pendampingan saat istirahat, pengaturan interaksi, atau akses kepada orang dewasa yang dapat dihubungi. Langkah perlu disesuaikan dengan situasi, bukan sekadar memindahkan anak tanpa memahami penyebab masalah.
4. Tanyakan mekanisme penanganan yang berlaku
Tanyakan siapa penanggung jawab, bagaimana informasi dikumpulkan, bagaimana privasi anak dijaga, dan kapan keluarga memperoleh pembaruan. Jika kejadian juga terjadi di ruang digital, jelaskan tautan atau akun yang terlibat dan tanyakan apakah sekolah dapat membantu koordinasi dengan pihak terkait.
5. Pantau tindak lanjut dan kemungkinan pembalasan
Catat kesepakatan serta langkah yang dilakukan sekolah. Perhatikan apakah anak merasa lebih aman, apakah kejadian berulang, dan apakah ada tekanan setelah laporan disampaikan. Jika belum ada perubahan, minta pembahasan lanjutan dengan kepala sekolah atau otoritas pendidikan daerah sesuai mekanisme yang tersedia.
6. Dukung pemulihan anak
Anak mungkin membutuhkan waktu untuk kembali nyaman di sekolah. Jangan memaksanya langsung memaafkan atau berteman dengan orang yang membuatnya merasa tidak aman. Jika pengalaman berdampak pada tidur, suasana hati, kegiatan belajar, atau hubungan sosial, pertimbangkan bantuan profesional.
Aturan sekolah aman yang berlaku di Indonesia
Per 1 November 2026, rujukan nasional yang berlaku adalah Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Aturan ini mengatur pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital. Peraturan tersebut mulai berlaku 9 Januari 2026 dan mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023.
Materi resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), kementerian yang mengatur pendidikan dasar dan menengah, menjelaskan bahwa penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi tanggung jawab kepala sekolah dengan melibatkan guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, masyarakat, dan pihak terkait. Karena perubahan ini, orang tua sebaiknya menggunakan mekanisme yang berlaku saat ini dan tidak mengasumsikan struktur lama masih aktif.
Contoh pesan awal kepada sekolah
Orang tua dapat menyampaikan pesan yang jelas tanpa langsung menuduh:
Selamat pagi. Kami ingin menyampaikan kekhawatiran mengenai beberapa kejadian yang diceritakan anak dan terjadi di lingkungan sekolah. Kami telah mencatat waktu, lokasi, serta informasi yang diketahui. Kejadian tersebut mulai membuat anak merasa tidak nyaman mengikuti kegiatan. Kami berharap dapat berdiskusi dengan pihak sekolah untuk memahami situasi dan menyepakati langkah perlindungan agar kejadian tidak berulang.
Setelah pesan awal, sampaikan catatan yang relevan melalui jalur yang disepakati. Minta kepastian siapa yang akan menghubungi keluarga dan kapan tindak lanjut dapat dibicarakan kembali.
Penutup
Menangani perundungan di sekolah memerlukan komunikasi, pencatatan, perlindungan, dan pemantauan. Orang tua tidak harus menyelidiki sendiri atau memaksa anak menyelesaikan masalah dengan pelaku. Bekerja sama dengan sekolah membantu memastikan keselamatan dan kenyamanan anak menjadi perhatian utama.
Persiapkan pertemuan dengan sekolah secara terarah
Sebelum pertemuan, pilih catatan yang paling relevan. Susun kronologi singkat berdasarkan tanggal, lokasi, tindakan yang diketahui, dampak pada anak, dan respons yang sudah dilakukan. Jika ada saksi, tuliskan siapa yang mungkin dapat memberi informasi tanpa meminta anak mengumpulkan bukti sendiri. Pisahkan kalimat yang benar-benar disampaikan anak dari interpretasi orang tua.
Dalam pertemuan, minta sekolah menjelaskan siapa penanggung jawab penanganan, bagaimana keamanan anak dijaga selama proses berlangsung, dan bagaimana keluarga menerima pembaruan. Tanyakan apakah ada risiko pembalasan setelah laporan disampaikan. Jika pelaku dan korban tetap berada dalam ruang atau kelompok yang sama, diskusikan pengaturan yang tidak membebankan seluruh penyesuaian kepada anak yang terdampak.
Catat kesepakatan dan periksa apakah perlindungan berjalan
Setelah pertemuan, kirim ringkasan kesepakatan melalui kanal komunikasi yang disetujui, misalnya siapa yang akan mengawasi, kepada siapa anak dapat melapor, dan kapan keluarga akan mengevaluasi situasi. Simpan komunikasi dengan sekolah secara rapi. Jika belum ada langkah yang jelas atau kejadian kembali terjadi, minta pertemuan lanjutan dan gunakan mekanisme pengaduan yang berlaku di daerah.
Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 membangun kerangka Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, keamanan sosiokultural, dan keamanan digital. Dalam praktiknya, orang tua dapat meminta sekolah menjelaskan bagaimana kebijakan tersebut dijalankan di satuan pendidikan, tanpa mengasumsikan setiap sekolah memiliki prosedur internal yang identik.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah orang tua perlu menyebut nama murid lain di grup kelas? Hindari. Sampaikan informasi kepada pihak sekolah melalui jalur yang tepat dan jaga identitas semua anak.
Bagaimana jika anak tidak mau kembali ke sekolah? Dengarkan alasannya, pastikan keselamatan, dan diskusikan dukungan sementara dengan sekolah. Jangan memaksa sebelum memahami pemicunya.
Jangan menempatkan tanggung jawab penyelesaian pada anak yang terdampak
Solusi seperti meminta korban pindah tempat duduk, mengganti kelas, atau berhenti mengikuti kegiatan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati. Langkah perlindungan sementara dapat diperlukan, tetapi jangan sampai anak yang mengalami perundungan kehilangan akses belajar atau pertemanan sebagai satu-satunya cara menghentikan masalah. Mintalah sekolah menjelaskan bagaimana pengawasan terhadap perilaku yang merugikan akan diperbaiki.
Jika sekolah mengadakan pertemuan bersama keluarga, pastikan anak tidak dipaksa berhadapan dengan pihak lain ketika belum siap. Pendekatan pemulihan atau mediasi hanya dapat dipertimbangkan bila aman, sesuai kepentingan anak, dan tidak menggantikan kewajiban sekolah menangani perilaku berulang.
Sumber dan bacaan lanjutan
- Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 — Dasar hukum Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang berlaku sejak Januari 2026.
- Budaya Sekolah Aman dan Nyaman — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, penjelasan kebijakan dan praktik sekolah aman.
- Cara Berbicara dengan Anak tentang Perundungan — UNICEF Indonesia, panduan mendengarkan dan mendukung anak.










