Seorang ayah mendengarkan anak menceritakan pengalaman di sekolah.
Anak dapat mengalami hari sekolah yang mengecewakan, seperti salah paham dengan teman, ditegur guru, atau kesulitan mengikuti kegiatan.
Komunikasi & Kedekatan Orang Tua-Anak

Membicarakan Pengalaman Tidak Menyenangkan di Sekolah tanpa Menghakimi

Anak dapat mengalami hari sekolah yang mengecewakan, seperti salah paham dengan teman, ditegur guru, atau kesulitan mengikuti kegiatan. Orang tua mungkin ingin segera membela anak atau mencari siapa yang salah.

Anak dapat mengalami hari sekolah yang mengecewakan, seperti salah paham dengan teman, ditegur guru, atau kesulitan mengikuti kegiatan. Orang tua mungkin ingin segera membela anak atau mencari siapa yang salah. Namun, langkah pertama yang lebih membantu adalah memahami kejadian secara utuh, mendengarkan perasaan anak, dan menentukan tindak lanjut yang sesuai.

Dengarkan cerita tanpa langsung menyimpulkan

Berikan kesempatan anak menjelaskan dengan bahasanya sendiri. Gunakan pertanyaan terbuka seperti “Apa yang terjadi setelah itu?” Hindari mengarahkan anak pada jawaban tertentu atau memberi label kepada teman dan guru sebelum informasi cukup.

Jika cerita belum lengkap, catat hal yang diketahui dan bagian yang masih perlu diklarifikasi. Anak mungkin mengingat detail secara bertahap. Jangan membuatnya mengulang cerita kepada banyak orang hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu keluarga.

Akui perasaan sambil tetap mencari konteks

Anak boleh merasa malu, marah, kecewa, atau takut. Akui emosi tersebut tanpa menganggap semua penilaiannya pasti tepat. Misalnya, “Kamu merasa dipermalukan ketika ditegur di depan teman.” Setelah itu, tanyakan apa yang terjadi menurut ingatannya.

Pisahkan dampak yang dirasakan anak dari penilaian tentang niat orang lain. Tindakan yang sama dapat dipahami berbeda oleh pihak yang terlibat. Orang tua dapat berusaha memahami konteks tanpa meremehkan perasaan anak. Sebagai rujukan lanjutan, baca sumber UNICEF Indonesia mengenai pendidikan dan lingkungan belajar.

Tentukan apakah masalah perlu dibicarakan dengan sekolah

Untuk kejadian ringan yang sudah selesai, anak mungkin hanya membutuhkan dukungan. Jika masalah berulang, mengganggu pembelajaran, melibatkan ketimpangan kuasa, atau menyangkut keselamatan, hubungi guru atau pihak sekolah melalui jalur yang tepat.

Sampaikan fakta spesifik, waktu, dan dampak yang diamati. Hindari tuduhan di grup publik atau media sosial. Minta rencana tindak lanjut dan sepakati kapan keluarga akan mengevaluasi apakah situasi membaik. Topik ini juga berkaitan dengan membantu anak beradaptasi sekolah baru dan mendengarkan anak agar berani bercerita.

Bantu anak memikirkan langkah tanpa menyalahkannya

Tanyakan dukungan apa yang ia perlukan untuk menghadapi hari berikutnya. Anak dapat berlatih menyampaikan keberatan, meminta bantuan, atau mencari orang dewasa tepercaya. Jangan meletakkan tanggung jawab menghentikan perundungan atau kekerasan hanya pada anak.

Jika anak menunjukkan ketakutan berat, perubahan perilaku yang menetap, atau merasa tidak aman, cari dukungan profesional. Pastikan ia tahu bahwa orang tua akan menindaklanjuti masalah dan tidak akan menyalahkannya karena bercerita. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan perlindungan anak UNICEF Indonesia.

Contoh dalam keseharian

Mira pulang dan mengatakan guru memarahinya. Ayah tidak langsung mengirim pesan dengan nada marah. Ia mendengarkan penjelasan Mira, menanyakan apa yang terjadi sebelumnya, lalu menghubungi guru untuk memahami kejadian dan menyepakati cara mendukung Mira.

Hal yang perlu diingat

Pengalaman sekolah yang tidak menyenangkan perlu ditanggapi dengan empati dan penilaian yang cermat. Dengarkan anak, pisahkan fakta dari dugaan, dan hubungi sekolah bila masalah berulang atau menyangkut keselamatan. Pendampingan terbaik membuat anak merasa didukung sekaligus belajar mencari solusi.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.