Anak yang mulai menggunakan internet perlu memahami bahwa informasi pribadi tidak selalu aman dibagikan. Namun, penjelasan tentang privasi digital sebaiknya mengikuti usia, pengalaman, dan jenis perangkat yang digunakan. Tujuannya bukan menakut-nakuti anak, melainkan membangun kebiasaan bertanya, berpikir sebelum membagikan sesuatu, dan mencari bantuan ketika menemukan hal yang membuatnya tidak nyaman.
Jelaskan privasi dengan contoh sehari-hari
Untuk anak yang lebih kecil, mulai dari informasi sederhana seperti nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah, foto seragam, dan lokasi. Jelaskan bahwa informasi tersebut tidak perlu dibagikan kepada orang yang tidak dikenal secara daring.
Untuk anak yang lebih besar, bahas jejak digital, tangkapan layar, pengaturan akun, izin aplikasi, dan kemungkinan konten disalin. Terangkan bahwa sesuatu yang dikirim kepada satu orang dapat diteruskan ke orang lain, sehingga keputusan berbagi perlu dipikirkan.
Buat aturan yang dapat dipahami dan dipraktikkan
Orang tua dapat menyepakati bahwa anak harus meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain, membagikan lokasi, membuat akun baru, atau mengisi formulir yang meminta data pribadi. Aturan perlu disertai alasan, bukan hanya larangan.
Periksa pengaturan privasi bersama anak dan sesuaikan dengan layanan yang benar-benar digunakan. Jangan menganggap satu setelan menjamin keamanan. Aplikasi dapat berubah dan setiap platform memiliki risiko berbeda; pendampingan serta percakapan tetap diperlukan. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan UNICEF Indonesia tentang keamanan anak di internet.
Ajarkan anak berhenti dan bertanya
Latih tiga langkah sederhana: berhenti sebelum mengirim, periksa siapa yang meminta informasi, lalu bertanya kepada orang dewasa tepercaya bila ragu. Tekankan bahwa anak tidak akan dimarahi karena datang meminta bantuan setelah melakukan kesalahan.
Jelaskan juga bahwa anak tidak perlu membalas pesan yang membuatnya takut, malu, atau tertekan. Ia dapat menutup percakapan, menyimpan bukti bila aman dilakukan, memblokir atau melaporkan akun, lalu menceritakan kejadian kepada orang dewasa. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke contoh kesepakatan gawai bersama anak melalui pola asuh demokratis.
Jadilah teladan dalam menjaga data keluarga
Orang tua juga perlu berhati-hati mengunggah foto anak, dokumen sekolah, jadwal rutin, atau lokasi langsung. Minta persetujuan anak sesuai usianya sebelum membagikan foto yang melibatkan dirinya, dan hormati ketika ia keberatan.
Bila anak menemukan konten yang mengganggu atau mengalami ancaman, dengarkan tanpa menyalahkan. Simpan informasi yang relevan, gunakan fitur pelaporan platform, dan cari dukungan sesuai tingkat risikonya. Prinsip keselamatan digital lebih efektif bila seluruh keluarga ikut menerapkannya. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan perlindungan anak UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Saat Rafi ingin mengunggah foto kegiatan sekolah, ibunya mengajaknya memeriksa apakah nama sekolah, lokasi, dan wajah teman terlihat. Mereka memilih foto yang tidak menampilkan informasi sensitif dan meminta izin teman yang ikut ada di gambar sebelum membagikannya.
Hal yang perlu diingat
Privasi digital bukan pelajaran sekali selesai. Kebiasaan ini perlu diulang ketika anak mulai memakai aplikasi, bertemu situasi baru, atau semakin mandiri di internet. Bangun aturan yang masuk akal, tunjukkan teladan, dan pastikan anak tahu kepada siapa ia dapat meminta bantuan.










