Anak dapat tanpa sengaja melihat gambar, video, percakapan, atau komentar yang membuatnya takut dan bingung saat menggunakan internet. Respons orang tua pada momen pertama sangat berpengaruh pada kemauan anak untuk bercerita lagi. Hindari menyalahkan anak karena melihatnya; fokuslah pada rasa aman, pemahaman situasi, dan langkah perlindungan yang sesuai.
Tetap tenang dan dengarkan cerita anak
Ucapkan terima kasih karena anak memberi tahu. Tanyakan secara terbuka apa yang ia lihat dan bagaimana perasaannya, tanpa meminta detail berlebihan. Anak mungkin belum memahami makna konten atau belum mampu menjelaskan semuanya.
Jangan langsung mengambil perangkat sambil memarahi anak. Reaksi yang membuat anak takut dapat mendorongnya menyembunyikan kejadian berikutnya. Orang tua tetap boleh membatasi akses, tetapi jelaskan bahwa langkah itu dilakukan untuk membantu menjaga keamanan.
Nilai tingkat risiko sebelum bertindak
Bedakan konten yang mengganggu dari situasi yang melibatkan ancaman langsung, pemerasan, permintaan foto intim, ajakan bertemu, atau kontak seksual. Jika ada ancaman atau eksploitasi, prioritaskan keselamatan anak dan jangan menyebarkan ulang konten tersebut.
Simpan informasi yang relevan dengan aman bila diperlukan untuk pelaporan, tetapi jangan meminta anak mengirim atau menunjukkan materi berbahaya berulang kali. Gunakan fitur blokir/lapor dan cari bantuan dari platform atau lembaga berwenang sesuai situasi. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan UNICEF Indonesia untuk menjaga anak aman di internet.
Bantu anak mengatur kembali keamanan digital
Periksa bersama aplikasi, akun, riwayat pesan, pengaturan privasi, dan kontrol sesuai usia. Ubah kata sandi jika akun diduga diakses orang lain. Terangkan bahwa pengaturan teknis membantu, tetapi tidak menggantikan pendampingan dan komunikasi keluarga.
Buat kesepakatan tentang apa yang dilakukan ketika anak melihat konten tidak pantas: tutup layar, jangan membalas atau membagikan, lalu beri tahu orang dewasa tepercaya. Latih langkah tersebut agar anak tahu apa yang dapat dilakukan saat panik. Untuk bacaan terkait, orang tua dapat melanjutkan ke contoh kesepakatan gawai bersama anak melalui pola asuh demokratis.
Bangun kebiasaan aman tanpa menanamkan rasa takut
Bicarakan bahwa internet memiliki manfaat dan risiko. Anak dapat belajar memilih konten, mengenali permintaan yang mencurigakan, serta menjaga informasi pribadi. Sampaikan dengan contoh sesuai usia, bukan cerita yang berlebihan atau mengancam.
Jika pengalaman membuat anak terus takut, sulit tidur, atau terganggu dalam aktivitas sehari-hari, pertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional. Pantau tanpa menginterogasi dan tetap berikan ruang bagi anak untuk memakai teknologi secara bertahap sesuai kebutuhan serta aturan keluarga. Pembahasan terkait juga tersedia dalam panduan perlindungan anak UNICEF Indonesia.
Contoh dalam keseharian
Saat bermain gim, Dafa menerima pesan dan gambar yang membuatnya takut. Ia segera memberi tahu ayah. Ayah berterima kasih, mendengarkan, membantu memblokir akun, lalu melaporkan pesan melalui platform. Mereka menyepakati bahwa Dafa dapat meminta bantuan kapan pun tanpa takut dimarahi.
Hal yang perlu diingat
Anak perlu mengetahui bahwa orang tua adalah tempat mencari bantuan, bukan pihak yang akan langsung menyalahkan. Dengarkan dulu, nilai risiko, gunakan alat pelaporan, dan buat rencana keamanan sederhana. Tindakan yang tepat bergantung pada jenis konten dan tingkat ancaman yang dialami anak.










