Seorang anak berbicara dengan teman di ruang bermain sementara orang dewasa mengawasi.
Anak perlu belajar bahwa ia boleh menolak ajakan yang membuatnya takut, risih, bingung, atau tidak aman.
Pola Asuh & Disiplin

Mengajari Anak Menolak Ajakan yang Membuatnya Tidak Nyaman

Anak perlu belajar bahwa ia boleh menolak ajakan yang membuatnya takut, risih, bingung, atau tidak aman.

Anak perlu belajar bahwa ia boleh menolak ajakan yang membuatnya takut, risih, bingung, atau tidak aman. Keterampilan ini tidak tumbuh dari satu nasihat, tetapi dari hubungan yang membuat anak percaya bahwa orang dewasa akan mendengarkan dan membantu ketika ia berkata tidak.

Ajarkan hak atas batas pribadi

Gunakan contoh sehari-hari: anak boleh menolak dipeluk ketika tidak ingin, memilih tidak ikut permainan kasar, atau meminta ruang saat sedang lelah. Jelaskan bahwa menolak bukan berarti tidak sopan. Anak tetap dapat menyampaikan penolakan dengan kata-kata yang menghormati orang lain.

Pastikan aturan berlaku juga kepada orang dewasa dan kerabat. Jangan memaksa anak mencium atau memeluk seseorang demi menjaga perasaan orang dewasa. Beri pilihan sapaan lain seperti melambaikan tangan atau mengucapkan salam.

Latih kalimat yang mudah diingat

Praktikkan kalimat singkat: “Aku tidak mau,” “Berhenti,” “Aku mau pergi,” atau “Aku akan bertanya kepada Ayah.” Anak dapat berlatih melalui permainan peran dengan situasi yang tidak menakutkan. Pastikan ia tahu bahwa jika kata-katanya tidak dihormati, ia boleh menjauh dan mencari orang dewasa tepercaya.

Ajarkan bahwa ia tidak perlu berdebat panjang ketika merasa tidak aman. Segera pindah ke tempat yang lebih aman, cari bantuan, dan ceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya. Jika orang pertama tidak mendengarkan, anak boleh mencari orang lain. Sebagai rujukan lanjutan, baca panduan UNICEF Indonesia tentang perlindungan anak.

Jangan membebankan keselamatan hanya kepada anak

Keterampilan menolak merupakan bagian dari perlindungan, bukan pengganti pengawasan orang dewasa. Orang tua perlu memperhatikan lingkungan, mengenali orang dewasa yang bertanggung jawab, serta memastikan anak tidak ditinggalkan dalam situasi yang berisiko.

Hindari menyampaikan pesan yang membuat anak merasa harus selalu mampu melindungi diri sendiri. Tekankan bahwa orang dewasa bertugas menjaga keselamatan dan anak tidak bersalah ketika seseorang melanggar batasnya. Topik ini juga berkaitan dengan membangun rasa aman anak saat menetapkan batasan di tengah pola asuh otoriter dan cara mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi dalam pola asuh positif.

Bangun kebiasaan mendengar cerita anak

Tanggapi cerita tentang ketidaknyamanan dengan tenang. Jangan langsung menyalahkan, meremehkan, atau meminta anak mengulang detail secara berlebihan. Dengarkan dengan pertanyaan terbuka yang sederhana dan cari bantuan profesional atau layanan perlindungan bila ada indikasi kekerasan atau eksploitasi.

Gunakan bahasa yang sesuai usia ketika membicarakan bagian tubuh pribadi, sentuhan, foto, dan komunikasi daring. Pesan perlu diulang secara wajar dan disesuaikan ketika anak bertambah besar. Pembahasan terkait juga tersedia dalam tips UNICEF untuk keselamatan anak di internet.

Contoh dalam keseharian

Jika kerabat meminta anak duduk di pangkuan dan anak menolak, orang tua dapat berkata, “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau. Kamu boleh menyapa dari sini.” Sikap ini mengajarkan anak bahwa batas tubuhnya dihargai.

Hal yang perlu diingat

Anak yang berani menyampaikan ketidaknyamanan membutuhkan dukungan orang dewasa yang konsisten. Ajarkan kata-kata sederhana, hormati batas anak, dan tetap lakukan pengawasan aktif sesuai situasi.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.