“Kamu sekarang makin berisi, ya.” “Jangan makan banyak, nanti susah cari baju.” “Kakak dulu seusiamu lebih kurus.” Komentar seperti ini kadang dilontarkan sebagai candaan, perhatian, atau dorongan agar anak menjaga kesehatan. Namun, bagi anak pra-remaja yang sedang mengalami perubahan tubuh, ucapan tentang berat, tinggi, kulit, bentuk wajah, atau bagian tubuh tertentu dapat terasa seperti penilaian terhadap dirinya. Orang tua dapat membahas kesehatan tanpa membuat anak merasa tubuhnya adalah masalah yang harus disembunyikan.
Mengapa masa pra-remaja perlu percakapan yang lebih hati-hati?
Menjelang pubertas, anak mulai melihat perbedaan bentuk tubuh dan kecepatan pertumbuhan di antara teman sebaya. Ada yang lebih cepat tinggi, ada yang belum mengalami perubahan yang sama, dan ada yang merasa tubuhnya berbeda dari gambaran yang mereka lihat di media sosial. Perubahan ini bisa memunculkan rasa penasaran, malu, bangga, bingung, atau khawatir. Respons anak tidak selalu sama, bahkan saudara kandung dapat mengalami masa ini dengan cara berbeda.
UNICEF menjelaskan bahwa citra tubuh remaja dipengaruhi oleh perubahan perkembangan, komentar orang sekitar, serta gambaran penampilan di media. Komentar yang merendahkan dapat memengaruhi kepercayaan diri dan cara anak memandang tubuh. Baca panduan UNICEF tentang citra tubuh remaja.
Body shaming tidak selalu berupa ejekan langsung
Body shaming adalah komentar atau perlakuan yang mempermalukan seseorang karena bentuk atau kondisi tubuhnya. Hal itu bisa muncul sebagai julukan, candaan, perbandingan, nasihat yang tidak diminta, atau komentar di depan keluarga besar. Bahkan komentar yang dibungkus sebagai pujian dapat membawa pesan bahwa tubuh tertentu lebih bernilai daripada tubuh lain, misalnya “Kamu cantik kalau lebih kurus.”
Orang tua perlu memeriksa kebiasaan sendiri. Apakah keluarga sering membicarakan tubuh orang lain? Apakah anak mendengar orang dewasa menyebut dirinya gemuk, jelek, terlalu pendek, atau terlalu besar? Bila demikian, pembicaraan tentang tubuh dapat terasa seperti penilaian yang berlaku bagi semua anggota keluarga. Ubah kebiasaan dengan menghentikan julukan fisik, termasuk ketika orang yang dibicarakan tidak hadir.
Ganti komentar penampilan dengan percakapan tentang fungsi dan kenyamanan
Daripada berkata “Kamu makin gemuk”, tanyakan apakah anak nyaman bergerak, tidur cukup, dan memiliki kesempatan beraktivitas. Hindari menjadikan berat badan sebagai satu-satunya indikator kesehatan. Pertumbuhan anak dinilai melalui beberapa parameter dan perlu ditafsirkan sesuai usia serta kondisi oleh tenaga kesehatan bila ada kekhawatiran.
Jika anak bertanya tentang perubahan tubuh, jawab dengan bahasa yang akurat dan sederhana. “Tubuh setiap orang tumbuh dengan waktunya sendiri. Ada perubahan yang terjadi saat pubertas. Kamu boleh bertanya apa pun, dan kita bisa mencari informasi yang benar bersama.” Jangan membuat anak merasa harus menyembunyikan perubahan alami. Untuk topik pubertas, baca cara membicarakan perubahan tubuh dengan bahasa terbuka.
Hindari lima kebiasaan komunikasi ini
- Membandingkan tubuh dengan saudara atau teman. Pertumbuhan tidak seragam. Perbandingan dapat membuat anak menganggap dirinya gagal hanya karena berbeda.
- Mengomentari porsi makan di depan orang lain. Jika ada kekhawatiran gizi, bicarakan secara pribadi dan tanpa mempermalukan.
- Menggunakan pakaian sebagai ukuran nilai diri. Bantu anak memilih pakaian yang nyaman, sesuai kegiatan, dan aman, bukan untuk menutupi tubuh yang dianggap memalukan.
- Menjadikan foto sebagai bahan olok-olok. Jangan mengirim foto anak yang dianggap lucu atau memalukan ke grup keluarga tanpa persetujuannya.
- Memuji penurunan berat badan tanpa memahami konteks. Perubahan berat badan dapat terjadi karena banyak faktor. Jangan mendorong pola diet tanpa penilaian tenaga kesehatan.
Bagaimana bila anak sendiri mengkritik tubuhnya?
Jika anak berkata “Aku jelek” atau “Aku terlalu gemuk”, jangan langsung menjawab “Tidak, kamu cantik” lalu menutup percakapan. Tanyakan apa yang membuatnya merasa demikian. Apakah ada teman yang berkomentar, video yang ia lihat, pakaian yang tidak nyaman, atau perubahan pubertas yang membuatnya canggung? Dengarkan tanpa meremehkan dan tanpa buru-buru membantah.
Orang tua dapat berkata, “Kedengarannya komentar itu membuatmu tidak nyaman. Kamu tidak pantas diejek karena tubuhmu. Mari kita cari tahu apa yang membuatmu khawatir.” Setelah mendengarkan, bantu anak membedakan fakta dari standar penampilan yang tidak realistis. Fokuskan percakapan pada kekuatan tubuh: bergerak, belajar, bermain, beristirahat, dan membantu melakukan hal yang disukai.
Berikan contoh hubungan yang sehat dengan tubuh
Anak memperhatikan cara orang tua berbicara tentang diri sendiri. Jika ayah atau ibu terus menyebut tubuhnya buruk, merasa bersalah setelah makan, atau menjadikan olahraga sebagai hukuman, anak dapat menyerap pesan bahwa tubuh harus selalu dikoreksi. Orang tua tidak harus berpura-pura selalu percaya diri. Cukup tunjukkan bahasa yang lebih adil: “Ibu ingin lebih bugar supaya nyaman bergerak,” bukan “Ibu benci tubuh Ibu.”
Hargai fungsi dan kebutuhan tubuh. Makan adalah sumber energi dan pengalaman sosial, bukan hadiah atau hukuman. Aktivitas fisik dapat dilakukan karena menyenangkan dan menyehatkan, bukan untuk menebus makanan. Tidur dan istirahat juga bagian dari perawatan diri. Anak yang mendengar pesan seimbang lebih mungkin memahami kesehatan sebagai kebiasaan, bukan kompetisi penampilan.
Jika ada masalah kesehatan, bicarakan secara pribadi dan tepat
Orang tua tetap perlu menindaklanjuti kekhawatiran kesehatan. Jika perubahan berat, pola makan, pubertas, atau pertumbuhan memerlukan penilaian, konsultasikan dengan dokter anak atau tenaga kesehatan. Hindari mendiagnosis sendiri atau memberi diet ketat berdasarkan komentar keluarga. Pembicaraan dengan tenaga kesehatan sebaiknya berfokus pada pertumbuhan, kebiasaan, kondisi medis, dan kesejahteraan anak, bukan rasa malu.
Jika anak mengalami ejekan di sekolah atau media sosial, catat apa yang terjadi dan ajak anak membahas dukungan yang dibutuhkan. Baca cara membahas berat badan tanpa stigma dan peran ayah dalam percakapan pubertas. Jangan meminta anak menyelesaikan perundungan sendirian.
Jadikan rumah tempat anak dapat bertanya tanpa takut diejek
Anak pra-remaja mungkin belum selalu ingin bercerita, tetapi ia perlu tahu bahwa orang tua bersedia mendengar. Tanyakan izin sebelum membahas perubahan pribadi. Hormati privasi dan jangan membagikan cerita atau foto tubuh anak kepada orang lain tanpa alasan yang jelas. Bila anak belum siap, sampaikan bahwa pembicaraan dapat dilanjutkan kapan saja.
UNICEF menyarankan orang tua remaja membangun komunikasi melalui mendengarkan aktif, rasa hormat, dan percakapan yang tidak menghakimi. Lihat tips komunikasi UNICEF dengan remaja. Menghindari body shaming bukan berarti melarang semua pembicaraan tentang kesehatan. Artinya, kita menjaga agar anak menerima informasi tanpa kehilangan martabat dan rasa aman. Tubuh anak sedang tumbuh; tugas keluarga adalah mendampingi, bukan mempermalukannya.
Bicarakan fungsi tubuh, bukan nilai tubuh
Ketika anak memasuki pra-remaja, tubuhnya dapat berubah dengan kecepatan yang berbeda dari teman sebaya. Orang tua sebaiknya membahas apa yang tubuh dapat lakukan—bergerak, tumbuh, belajar, beristirahat—alih-alih menjadikan ukuran, bentuk, atau angka timbangan sebagai bahan komentar. Jika ada kebutuhan kesehatan yang perlu diperhatikan, sampaikan secara privat dan fokus pada kebiasaan keluarga, bukan menyalahkan tubuh anak.
Periksa juga komentar orang dewasa di sekitar anak. Candaan keluarga tentang pipi, tinggi badan, warna kulit, rambut, atau bentuk tubuh dapat terdengar ringan bagi orang dewasa, tetapi menetap dalam ingatan anak. Buat kesepakatan bahwa tubuh orang lain bukan bahan lelucon. Jika anak mendengar komentar yang merendahkan, orang tua bisa berkata, “Kita tidak menilai orang dari bentuk tubuhnya. Kalau ada hal kesehatan yang perlu dibahas, kita bicarakan dengan cara yang menghormati.”
Media sosial dan iklan dapat mempersempit gambaran tubuh yang dianggap ideal. Dampingi anak memahami bahwa foto dapat dipilih, diedit, dan dipengaruhi tren. Jangan menjadikan percakapan sebagai larangan total terhadap media, tetapi ajak anak bertanya siapa yang membuat konten, tujuan komersialnya, dan apakah gambaran yang ditampilkan mewakili keragaman manusia. Bila anak mulai melewatkan makan, berolahraga secara berlebihan karena takut gemuk, atau menunjukkan kecemasan kuat terhadap penampilan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.










