Ayah berbicara dengan anak di meja sambil melihat bahan bacaan bergambar.
Tumbuh Kembang Anak

Anak Mulai Pubertas? Ayah Bisa Jadi Teman Bicara tentang Perubahan Tubuh dan Perasaan

Pubertas membawa perubahan fisik dan emosi yang waktunya berbeda pada setiap anak. Ayah dapat memberi penjelasan sederhana, menghormati privasi, dan membuka ruang bertanya tanpa menghakimi.

Suatu hari ayah menyadari suara anak mulai berubah, tinggi badannya bertambah, atau ia lebih sering menghabiskan waktu sendiri. Anak mungkin juga mulai merasa canggung dengan penampilan atau mudah tersinggung. Perubahan seperti ini dapat menjadi bagian dari pubertas, masa ketika tubuh berkembang menuju kematangan fisik dan terjadi perubahan pada emosi serta hubungan sosial.

Pubertas tidak dimulai pada usia yang sama untuk semua anak. Waktu dan urutan perubahan dapat bervariasi. Karena itu, ayah sebaiknya tidak membandingkan tubuh anak dengan teman sekelas atau saudara. Peran yang paling membantu ialah menyediakan informasi yang benar, menjawab pertanyaan dengan tenang, dan memastikan anak tahu bahwa ia dapat membicarakan perubahan tubuh maupun perasaannya tanpa dipermalukan.

Pubertas bukan hanya perubahan penampilan

Perubahan fisik dapat mencakup pertumbuhan tinggi badan, perubahan bentuk tubuh, tumbuh rambut di bagian tubuh tertentu, perubahan kulit, bau badan, serta perkembangan organ reproduksi. Anak yang mengalami pubertas juga bisa merasakan perubahan emosi, menjadi lebih peka terhadap penilaian teman, atau mulai membutuhkan privasi yang lebih besar. Tidak semua perubahan muncul sekaligus.

American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa perubahan pubertas dapat memiliki rentang waktu yang luas dan perlu dipahami sesuai perkembangan masing-masing anak. Orang tua dapat membaca panduan AAP tentang perubahan fisik selama pubertas. Gunakan informasi kesehatan sebagai bahan percakapan, bukan untuk mendiagnosis anak sendiri.

Mulailah berbicara sebelum anak merasa harus mencari jawaban sendiri

Jangan menunggu sampai anak bertanya dengan nada malu atau sampai terjadi masalah. Percakapan dapat dimulai dari hal sederhana, misalnya saat membeli pakaian, melihat iklan produk perawatan tubuh, atau membahas perubahan yang terjadi pada teman sebaya. Sampaikan bahwa setiap tubuh berkembang dengan waktu berbeda dan anak boleh bertanya kapan pun.

Gunakan istilah tubuh yang benar dan bahasa yang sesuai usia. Hindari lelucon tentang suara, jerawat, berat badan, tinggi badan, atau bentuk tubuh. Candaan yang dimaksudkan untuk mencairkan suasana dapat membuat anak merasa dirinya menjadi bahan penilaian. Jika Ayah tidak mengetahui jawaban, katakan dengan jujur bahwa Ayah akan mencari informasi dari sumber kesehatan yang tepercaya atau bertanya kepada tenaga kesehatan.

Jadilah pendengar sebelum menjadi pemberi nasihat

Ketika anak bercerita, jangan langsung memotong dengan ceramah. Tanyakan, “Bagian mana yang paling membuatmu penasaran?” atau “Apa yang membuat perubahan ini terasa tidak nyaman?” Anak mungkin hanya ingin didengarkan, bukan segera diberi solusi. Setelah memahami pertanyaannya, berikan jawaban yang cukup dan tawarkan untuk melanjutkan obrolan bila masih ada yang ingin diketahui.

Jika anak merasa malu berbicara langsung, Ayah dapat menawarkan cara lain: menulis pertanyaan, mengirim pesan, membaca materi bersama, atau meminta bantuan dokter. Jangan menganggap anak tidak percaya kepada Ayah hanya karena ia memilih berbicara dengan orang dewasa lain. Yang penting, anak memiliki akses pada informasi yang aman dan benar.

Hormati privasi dan batas tubuh anak

Ketika tubuh berubah, anak mungkin ingin mengetuk pintu kamar mandi atau kamar tidur dengan lebih tegas, memilih pakaian sendiri, atau tidak lagi nyaman berganti pakaian di depan anggota keluarga. Hormati batas yang wajar ini. Privasi bukan berarti anak tidak boleh mendapat perlindungan; orang tua tetap dapat menetapkan aturan keselamatan dan mendampingi ketika ada kebutuhan kesehatan.

Jangan memeriksa tubuh anak tanpa alasan yang jelas atau mengomentari perubahan fisiknya di depan orang lain. Jika ada kebutuhan pemeriksaan medis, jelaskan alasan dan prosesnya, serta berikan kesempatan anak menyampaikan rasa nyaman atau tidak nyaman. Tindakan perawatan perlu menjaga martabat dan privasi anak.

Bicarakan emosi tanpa menganggap semuanya sekadar hormon

Perubahan hormon dapat menjadi salah satu bagian dari pubertas, tetapi perasaan anak juga dipengaruhi sekolah, pertemanan, beban belajar, pengalaman keluarga, tidur, dan perubahan identitas. Jangan menutup percakapan dengan berkata “Kamu begitu karena hormon.” Kalimat itu dapat membuat anak merasa pengalamannya tidak dianggap serius.

Ayah dapat membantu anak mengenali perasaan dan menemukan cara menenangkan diri yang sehat. Misalnya berjalan sebentar, menulis, berolahraga, berbicara dengan orang tepercaya, atau mengambil jeda dari situasi yang membuatnya kewalahan. Jika anak marah, tetap tetapkan batas perilaku yang aman tanpa mengejek perasaannya. Marah boleh dirasakan; menyakiti orang lain tetap tidak dapat diterima.

Jangan membandingkan perkembangan anak

Anak yang mengalami perubahan lebih awal mungkin merasa berbeda dari teman, sedangkan anak yang berkembang lebih lambat dapat khawatir tertinggal. Ayah dapat menegaskan bahwa variasi waktu pubertas adalah hal yang dapat terjadi. Hindari membahas tubuh anak lain atau menggunakan standar penampilan tertentu sebagai ukuran kesehatan.

Jika perubahan pubertas terasa sangat dini, terlambat dibanding rentang yang biasanya diharapkan, terjadi sangat cepat, atau disertai keluhan kesehatan, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menilai riwayat pertumbuhan dan kondisi anak secara menyeluruh. Jangan mengandalkan perbandingan dengan teman sebaya atau informasi media sosial sebagai dasar diagnosis.

Beri ruang untuk pertanyaan yang mungkin terasa canggung

Anak dapat bertanya mengapa suara berubah, mengapa muncul jerawat, mengapa tubuh berkeringat lebih banyak, atau mengapa suasana hati berubah. Jawablah singkat dan tidak menghakimi. Jika belum siap menjelaskan semuanya sekaligus, katakan bahwa percakapan dapat dilanjutkan. Jangan menyebut pertanyaan anak kotor, memalukan, atau tidak pantas hanya karena topiknya berkaitan dengan tubuh.

Ayah juga dapat mengajak anak menyiapkan kebutuhan praktis seperti pakaian yang nyaman, kebiasaan mandi, perawatan kulit dasar, atau perlengkapan kebersihan pribadi yang sesuai. Pilih produk berdasarkan kebutuhan dan anjuran yang masuk akal, bukan karena iklan menjanjikan tubuh tertentu. Hindari memaksakan rutinitas yang membuat anak merasa tubuhnya salah.

Kenali kapan anak membutuhkan dukungan lebih lanjut

Perubahan suasana hati sesekali dapat terjadi, tetapi ayah perlu memperhatikan bila anak tampak sangat sedih dalam waktu lama, menarik diri dari semua kegiatan, kehilangan minat, mengalami gangguan tidur atau makan yang berat, atau menunjukkan perilaku yang membahayakan diri. Jangan menyimpulkan penyebabnya sendiri. Ajak anak bicara dengan empati dan cari bantuan dokter atau psikolog sesuai kondisi.

Jika anak menyampaikan bahwa ia merasa tidak aman, mengalami perundungan, atau menghadapi tekanan dari teman, tanggapi dengan serius. Pubertas dapat membuat anak lebih peka terhadap komentar tubuh dan penampilan. Keluarga perlu memastikan rumah menjadi tempat yang tidak menambah rasa malu atau tekanan.

Jadikan ayah teman bicara yang dapat dipercaya

Hubungan yang terbuka dibangun dari percakapan kecil yang berulang, bukan satu ceramah panjang. Ayah dapat menunjukkan bahwa ia siap mendengar, tidak menertawakan pertanyaan, menghormati privasi, dan mencari bantuan ketika tidak tahu jawabannya. Anak mungkin tidak selalu memilih Ayah untuk setiap topik, tetapi pengalaman bahwa Ayah merespons dengan hormat dapat membuatnya lebih nyaman kembali berbicara.

Ketenangan Ayah saat merespons perubahan anak juga terlihat dari cara ia mengelola emosinya sendiri. Lihat cara Ayah menjadi teladan dalam mengelola emosi.

Pubertas merupakan perjalanan perkembangan, bukan perlombaan untuk menjadi dewasa lebih cepat. Dampingi anak memahami perubahan tubuh dan perasaan dengan informasi yang sesuai usia, sikap tenang, dan perhatian pada kebutuhan individualnya. Yang dibutuhkan anak bukan ayah yang selalu memiliki jawaban sempurna, melainkan ayah yang mau belajar bersama dan tetap menghormati dirinya.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.