Seorang ayah mendampingi anak melihat hasil karya sekolahnya di meja belajar tanpa membandingkan dengan karya anak lain.
Perhatian pada proses dan kemajuan pribadi membuat anak lebih mudah memahami apa yang sudah dikuasai dan apa yang perlu dilatih.
Tumbuh Kembang Anak

Dampak Membandingkan Anak dengan Temannya: Kalimat yang Sebaiknya Tidak Diucapkan

Membandingkan anak dengan teman sekelas mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi sering kali justru mengalihkan perhatian dari kebutuhan dan kemajuan anak sendiri. Pelajari alternatif percakapan yang lebih adil dan membantu.

“Coba lihat temanmu, dia sudah bisa membaca lancar.” “Kakakmu dulu tidak perlu disuruh belajar.” “Temanmu nilainya lebih tinggi, kenapa kamu tidak?” Orang tua mungkin mengucapkan kalimat seperti ini karena ingin anak terpacu. Ada kekhawatiran bahwa jika tidak dibandingkan, anak tidak akan berusaha. Namun, perbandingan sering membuat perhatian berpindah dari keterampilan yang perlu dilatih ke pertanyaan yang lebih menyakitkan: mengapa dirinya tidak seperti orang lain?

Setiap anak berkembang dengan pengalaman, kesempatan, minat, kondisi kesehatan, dan dukungan yang tidak selalu sama. Teman yang lancar membaca mungkin lebih sering membaca bersama keluarga atau memiliki kemampuan bahasa yang berkembang dengan ritme berbeda. Anak yang kesulitan matematika mungkin memahami konsep lebih baik ketika memakai benda konkret. Perbandingan yang tidak mempertimbangkan konteks berisiko menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.

Mengapa perbandingan tidak selalu memotivasi?

Perbandingan dapat memberi informasi bahwa ada keterampilan yang ingin dicapai, tetapi cara menyampaikannya menentukan apakah anak merasa dibantu atau direndahkan. Jika yang sering terdengar adalah “temanmu lebih baik”, anak bisa merasa bahwa penerimaan orang tua bergantung pada kemampuannya mengungguli orang lain. Sebagian anak mungkin merespons dengan berusaha lebih keras, tetapi sebagian lain dapat menjadi malu, defensif, menghindari tugas, atau kehilangan minat. Tidak ada satu reaksi yang pasti untuk semua anak.

Perbandingan juga dapat mengaburkan pertanyaan yang sebenarnya perlu dijawab. Anak yang nilai matematikanya rendah bukan otomatis kurang rajin. Ia mungkin belum memahami pecahan, kesulitan membaca soal cerita, cemas saat ujian, kurang tidur, atau membutuhkan penjelasan dengan cara berbeda. Membandingkan nilainya dengan teman tidak menjelaskan hambatan mana yang perlu diatasi.

Lima pola kalimat yang sebaiknya diubah

“Temanmu bisa, masa kamu tidak?”

Kalimat ini menjadikan kemampuan teman sebagai tolok ukur harga diri. Ganti dengan, “Bagian mana yang masih membingungkan? Kita cari cara latihan yang lebih cocok.”

“Kakakmu dulu lebih mudah diatur.”

Setiap anak punya temperamen dan kebutuhan berbeda. Coba, “Aturan rumah tetap sama, tetapi Ayah ingin tahu bantuan apa yang membuatmu lebih mudah mengikutinya.”

“Lihat anak tetangga sudah juara.”

Prestasi orang lain tidak menjelaskan proses anak sendiri. Ganti dengan, “Kamu ingin mengembangkan kemampuan apa? Kita bisa mencari langkah latihan yang masuk akal.”

“Kalau kamu tidak seperti dia, kamu akan tertinggal.”

Ancaman semacam ini dapat membuat masa depan terasa seperti perlombaan tanpa akhir. Katakan, “Keterampilan ini akan berguna. Kita mulai dari bagian yang bisa kamu pelajari sekarang.”

“Mengapa adik lebih cepat selesai daripada kamu?”

Kecepatan bukan satu-satunya ukuran belajar. Ganti dengan, “Kita lihat apakah kamu memahami tugasnya dan apakah ada bagian yang perlu dibantu.”

Bandingkan kemajuan anak dengan titik awalnya sendiri

Jika orang tua ingin mengetahui perkembangan, lihat perubahan dalam diri anak dari waktu ke waktu. Misalnya, beberapa minggu lalu anak baru mampu membaca satu paragraf dengan banyak jeda; sekarang ia dapat membaca dua paragraf dan menceritakan isinya. Kemajuan itu layak diperhatikan meskipun teman sekelasnya sudah membaca buku yang lebih panjang. Tujuannya bukan membuat anak puas tanpa belajar, melainkan membantu ia melihat bahwa latihan dapat menghasilkan perkembangan.

Gunakan catatan sederhana yang relevan: tugas yang bisa dikerjakan tanpa bantuan, strategi yang sudah dicoba, atau situasi sosial yang kini lebih mudah dihadapi. Hindari mengubah semua aktivitas menjadi penilaian. Anak tetap membutuhkan waktu bermain, istirahat, dan melakukan sesuatu karena menyukainya, bukan karena harus membuktikan kemajuan.

Bagaimana menggunakan contoh anak lain dengan sehat?

Contoh dari teman atau saudara tidak selalu harus dihindari. Kita dapat membicarakan perilaku atau strategi tanpa menilai pribadi anak. Misalnya, “Kamu lihat bagaimana Rani membagi tugas kelompok? Ada cara yang bisa kita pelajari dari situ.” Jangan menyimpulkan bahwa Rani lebih baik atau anak sendiri lebih buruk. Tekankan bahwa seseorang dapat menjadi sumber inspirasi tanpa menjadi ukuran nilai diri.

Pastikan anak juga memahami bahwa ia tidak harus meniru semua hal. Ia boleh punya minat, kekuatan, dan ritme sendiri. Jika teman mengikuti banyak les, bukan berarti keluarga perlu menambah jadwal anak. Pertimbangkan kebutuhan, kemampuan, waktu istirahat, dan minat anak. Target perkembangan sebaiknya realistis dan dapat dibicarakan bersama.

Ketika orang tua telanjur sering membandingkan

Akui kebiasaan itu tanpa membela diri. “Ayah sering membandingkan nilaimu dengan teman. Ayah kira itu akan membuatmu semangat, tetapi mungkin membuatmu merasa tidak dihargai. Ayah akan mencoba membahas proses belajarmu sendiri.” Setelah itu, tunjukkan perubahan dalam percakapan sehari-hari. Jangan menuntut anak langsung percaya bahwa kebiasaan itu akan berubah.

UNICEF Indonesia menganjurkan orang tua mendengarkan pandangan anak secara aktif dan tidak menghakimi, terutama saat membangun komunikasi dengan anak yang lebih besar. Baca kiat komunikasi UNICEF Indonesia. Untuk memberi umpan balik yang lebih berguna, orang tua juga dapat membaca penjelasan APA tentang pujian atas proses dan strategi, bukan label kecerdasan, melalui panduan American Psychological Association.

Gunakan perbandingan untuk memahami, bukan menghakimi

Ada kalanya orang tua perlu melihat standar umum, misalnya saat memantau keterampilan membaca, pertumbuhan, atau kesiapan sekolah. Data pembanding dapat membantu menentukan apakah perlu penilaian lebih lanjut, tetapi tidak boleh digunakan untuk mempermalukan anak. Jika ada kekhawatiran perkembangan, diskusikan dengan guru, dokter, atau tenaga profesional yang relevan. Satu perbedaan tidak otomatis berarti ada masalah.

Kalimat yang lebih membantu biasanya berangkat dari pengamatan: “Ibu melihat kamu sudah berani mencoba soal yang dulu kamu hindari. Bagian mana yang masih ingin kamu latih?” Dengan cara ini, anak mendapat pesan bahwa orang tua memperhatikan usahanya dan tetap punya harapan. Ia tidak harus menjadi anak lain untuk dihargai; ia perlu dukungan untuk tumbuh sebagai dirinya sendiri.

Perbandingan yang berguna berbeda dari perbandingan yang merendahkan

Dalam belajar, anak kadang memang perlu melihat contoh hasil atau standar keterampilan. Guru dapat menunjukkan contoh tulisan yang jelas atau cara menyelesaikan soal. Yang membedakan adalah tujuan dan bahasa. Contoh digunakan untuk menerangkan kriteria, bukan untuk mengatakan bahwa seorang anak lebih bernilai daripada anak lain. Orang tua bisa berkata, “Dari contoh ini, kita bisa melihat paragraf yang punya kalimat utama. Mari kita coba memakai cara tersebut pada tulisanmu.”

Ketika anak mengungkapkan rasa iri, jangan buru-buru menasihati agar ia tidak iri. Rasa iri dapat menjadi petunjuk tentang sesuatu yang ia inginkan—misalnya kesempatan tampil, perhatian, atau keterampilan baru. Tanyakan, “Apa yang membuatmu ingin seperti dia?” Setelah itu, bantu membedakan hal yang bisa dipelajari dari hal yang tidak harus dimiliki semua orang. Anak boleh mengagumi teman sekaligus tetap menghargai kekuatan dirinya sendiri.

Orang tua juga dapat memberi contoh dengan tidak membandingkan diri sendiri di depan anak secara terus-menerus. Jika orang tua berkata, “Ibu tidak sehebat orang tua lain,” anak belajar bahwa nilai diri mudah diukur dari pencapaian orang lain. Tunjukkan cara yang lebih sehat: mengakui hal yang ingin diperbaiki tanpa merendahkan diri. Anak melihat bahwa setiap orang dapat belajar tanpa harus menjadi salinan orang lain.

Untuk memahami konteks yang lebih luas, orang tua dapat melanjutkan dengan menghargai keunikan anak tanpa membandingkannya dengan orang lain, mengurangi kebiasaan membandingkan anak dalam hubungan kakak-adik dan membaca rapor anak tanpa membandingkan dengan teman.

Artikel terkait

Bacaan lain yang mungkin membantu.