Ketika melihat seseorang kesulitan membawa barang, orang tua mungkin berkata kepada anak, “Lihat, kasihan orang itu.” Niatnya mengajak anak peduli. Namun, bila kalimat itu disertai “kamu harus bersyukur, jangan banyak mengeluh” atau digunakan untuk membandingkan nasib, anak bisa menangkap pesan bahwa perasaan sendiri harus dibungkam karena ada orang lain yang lebih susah.
Empati bukan perlombaan siapa yang paling menderita. Anak dapat belajar memahami kebutuhan orang lain tanpa meremehkan perasaannya sendiri. Mengajarkan kepedulian juga bukan berarti meminta anak selalu menolong, memberi barang, atau mendekati orang yang tidak dikenal. Empati dimulai dari memperhatikan, mencoba memahami, menghormati, dan memilih tindakan yang aman.
Bedakan rasa iba, empati, dan perbandingan
Rasa iba biasanya muncul ketika melihat orang mengalami kesulitan. Empati melangkah lebih jauh dengan mencoba memahami bagaimana situasi itu mungkin dirasakan oleh orang tersebut. Anak dapat diajak berpikir, “Menurutmu, apa yang mungkin dibutuhkan orang itu?” tanpa menganggap kita tahu seluruh pengalaman orang lain hanya dari penampilannya.
Perbandingan muncul ketika penderitaan seseorang digunakan untuk menilai perasaan anak. Contohnya, “Temanmu lebih susah, jadi kamu tidak boleh sedih.” Pesan ini membuat kesedihan seperti harus dipertandingkan. Padahal, anak tetap boleh kecewa karena nilai ujiannya turun sambil belajar menyadari bahwa orang lain juga memiliki tantangan berbeda. Dua kenyataan itu dapat hadir bersamaan.
Mulai dengan pertanyaan yang menghargai orang lain
Jika melihat seseorang yang membutuhkan bantuan, orang tua dapat bertanya, “Apa yang kamu perhatikan?” atau “Menurutmu, apa yang mungkin sedang ia butuhkan?” Beri ruang bagi anak untuk menjawab dan mengakui bahwa informasi kita terbatas. Hindari menebak kondisi ekonomi, kesehatan, atau kehidupan pribadi seseorang dari penampilannya.
Setelah itu, diskusikan tindakan yang aman dan pantas. “Kita bisa memberi tempat duduk jika ia menginginkannya,” atau “Kita dapat bertanya kepada petugas apakah ada bantuan yang dibutuhkan.” Anak tidak harus langsung melakukan sesuatu. Ia dapat belajar bahwa menghormati pilihan orang lain juga bagian dari empati, termasuk menerima bila tawaran bantuan ditolak.
Gunakan tiga langkah sederhana saat mengajarkan empati
Amati tanpa memberi label. Sebutkan hal yang terlihat: “Orang itu tampak kesulitan membawa dua tas.” Hindari mengarang alasan atau menyebutnya lemah, miskin, atau tidak mampu. Pengamatan yang netral membantu anak memisahkan fakta dari dugaan.
Bayangkan kebutuhan, bukan mengasumsikan perasaan. Tanyakan “Apa yang mungkin membantunya?” bukan “Pasti dia sangat sedih, kan?” Anak belajar bahwa kita dapat mencoba memahami orang lain sambil tetap menghormati bahwa pengalaman batin seseorang tidak selalu bisa ditebak.
Pilih respons yang menghormati. Anak dapat menawarkan bantuan dengan sopan, memberi ruang, tidak menertawakan, atau meminta bantuan orang dewasa. Jika situasi tidak aman atau melibatkan orang asing, anak tidak perlu mendekat sendirian. Ia dapat memberi tahu orang dewasa tepercaya.
Empati juga berlaku ketika anak sendiri sedang kesulitan
Jangan menggunakan kesusahan orang lain untuk mengecilkan masalah anak. Jika anak mengeluh karena kehilangan pensil, orang tua boleh berkata, “Kamu kecewa karena pensil kesukaanmu hilang. Kita cari bersama. Setelah itu kita bisa memikirkan cara menyimpan barang dengan lebih aman.” Tidak perlu menambahkan bahwa ada anak yang tidak punya alat tulis sehingga ia seharusnya tidak boleh sedih.
Ketika anak belajar bahwa perasaannya didengar, ia memiliki contoh bagaimana mendengar orang lain. Orang tua dapat mencontohkan empati dengan meminta maaf, menghargai batas, dan tidak mengejek orang yang berbeda. UNICEF mendorong komunikasi yang penuh perhatian, mendengarkan, dan menghindari bahasa yang merendahkan dalam panduan komunikasi orang tua-anak.
Jangan jadikan kebaikan sebagai alat mempermalukan
Ucapan seperti “Kamu tidak kasihan?” atau “Anak baik pasti mau berbagi” dapat membuat anak merasa harus memenuhi keinginan orang lain agar dianggap baik. Anak perlu memahami bahwa ia boleh memiliki batas. Ia tidak harus meminjamkan barang pribadi yang sedang dipakai, menyentuh orang lain, atau memberi uang kepada orang yang meminta. Orang tua dapat mengajarkan kepedulian sekaligus menjaga keamanan dan hak anak.
Jika anak menolak membantu, cari tahu alasannya sebelum memberi label egois. Mungkin ia belum mengerti situasi, sedang kewalahan, atau takut. Orang tua dapat menjelaskan apa yang bisa dilakukan dan memberi contoh tanpa memaksanya melakukan sesuatu yang tidak aman. Empati tumbuh melalui percakapan dan teladan berulang, bukan rasa bersalah sesaat.
Latih empati melalui cerita dan kehidupan rumah
Setelah membaca cerita, tanyakan mengapa tokoh merasa kecewa atau bagaimana keputusan tokoh memengaruhi orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, ajak anak memperhatikan saudara yang membutuhkan ruang, teman yang belum mendapat giliran, atau petugas yang sedang bekerja. Jangan mengubah setiap kegiatan menjadi pelajaran moral. Percakapan singkat yang alami sering lebih mudah diterima.
Untuk melanjutkan topik, baca cara mengajarkan empati pada anak, pelajari empati melalui teladan orang tua yang mau mendengarkan, dan cara mengenalkan toleransi kepada anak.
Peduli tanpa merendahkan, memahami tanpa membandingkan
Kalimat “kasihan orang itu” tidak selalu keliru. Namun, empati akan lebih bermakna bila orang tua mengajak anak melihat kebutuhan orang lain dengan hormat, bukan menggunakan kesulitan orang tersebut untuk menekan perasaan anak sendiri. Anak dapat belajar peduli kepada orang lain sekaligus tetap mengenali dan menghargai perasaannya.
Empati tidak mengharuskan anak mengorbankan batas dirinya
Anak dapat diajak memahami kebutuhan orang lain tanpa harus selalu menyetujui permintaan mereka. Ia boleh tidak meminjamkan barang yang sedang dipakai, tidak mau dipeluk, atau meminta ruang ketika merasa tidak nyaman. Orang tua dapat menjelaskan cara menolak dengan hormat: “Aku belum bisa meminjamkan sekarang, karena masih kupakai.” Menghargai batas pribadi dan memperhatikan orang lain bukan dua hal yang saling bertentangan.
Jika anak melihat seseorang dalam kesulitan, ajak ia mempertimbangkan pilihan bantuan yang sesuai. Kadang membantu berarti menawarkan tempat duduk; kadang berarti memberi tahu petugas; dan kadang pilihan paling hormat adalah tidak mengganggu orang tersebut. Dengan demikian, empati berkembang sebagai keterampilan memahami dan merespons, bukan kewajiban untuk selalu melakukan sesuatu agar dianggap baik.
Jadikan empati sebagai kebiasaan dalam interaksi sehari-hari
Empati dapat dilatih melalui kejadian sederhana di rumah. Ketika saudara sedang bercerita, ajak anak menunggu giliran. Saat seseorang tidak sengaja menjatuhkan barang, tanyakan apakah ia membutuhkan bantuan. Setelah menonton cerita, bahas alasan tokoh mengambil keputusan dan siapa yang terdampak. Aktivitas seperti ini mengajarkan anak memperhatikan sudut pandang berbeda tanpa harus membandingkan siapa yang lebih beruntung atau lebih menderita.
Orang tua juga perlu menunjukkan empati kepada anak. Jika ia kecewa karena tidak dipilih dalam tim, dengarkan lebih dulu sebelum menasihati agar tidak iri. Setelah itu, bantu ia memahami bahwa teman juga memiliki pilihan dan kebutuhan. Teladan seperti ini membuat empati menjadi keterampilan yang dipraktikkan, bukan sekadar kata yang diucapkan ketika orang tua ingin anak berperilaku baik.
Gunakan cerita untuk melihat lebih dari satu sudut pandang
Ketika membaca cerita atau menonton tayangan, ajak anak memperhatikan apa yang diketahui setiap tokoh. Dua orang dapat mengalami peristiwa yang sama tetapi merasakannya secara berbeda. Tanyakan, “Apa yang mungkin dipikirkan tokoh ini?” lalu “Informasi apa yang belum kita ketahui?” Anak belajar bahwa empati membutuhkan rasa ingin tahu, bukan terburu-buru menilai siapa yang benar atau salah.
Jika anak memberi jawaban yang kurang tepat, jangan mengejek. Tambahkan sudut pandang lain: “Mungkin tokoh itu sedang takut, tetapi kita perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya.” Keterampilan ini dapat membantu anak menghadapi konflik pertemanan, memahami perbedaan, dan menghindari gosip. Empati berkembang melalui latihan mendengar dan mempertimbangkan, bukan hanya melalui perintah untuk merasa kasihan.










