“Menurut Ibu, aku ikut lomba menggambar atau robotik?” Anak bertanya karena ingin mempertimbangkan pilihan. Orang tua yang sedang sibuk mungkin menjawab, “Terserah kamu.” Dalam keadaan tertentu, jawaban itu memberi kebebasan. Namun, jika anak sedang bingung dan berharap didengar, ia bisa menangkap pesan lain: pendapatnya tidak penting atau orang tua tidak mau membantu.
Masalahnya bukan pada kata “terserah” itu sendiri. Anak perlu berlatih mengambil keputusan, dan orang tua tidak harus menentukan semua hal. Yang perlu diperhatikan adalah konteks pertanyaan. Apakah anak sudah memiliki informasi dan hanya ingin memilih sendiri? Atau ia sedang mencari sudut pandang, dukungan, dan bantuan menyusun pertimbangan?
Mandiri bukan berarti dibiarkan mengambil keputusan sendirian
Kemandirian tumbuh bertahap. Anak kecil dapat memilih dua jenis buah atau pakaian yang sesuai cuaca. Anak yang lebih besar bisa mempertimbangkan kegiatan ekstrakurikuler, waktu belajar, atau cara menggunakan uang saku. Dalam proses itu, orang tua dapat menyesuaikan jumlah bantuan. Memberi ruang bukan berarti menghilang; pendampingan juga bukan berarti mengambil alih semua keputusan.
Ketika anak meminta pendapat, mulailah dengan mencari tahu apa yang sudah ia pikirkan. “Kamu tertarik pada dua kegiatan itu. Apa yang paling kamu sukai dari masing-masing?” Pertanyaan ini membantu anak mengutarakan alasan sebelum orang tua memberi pandangan. Bila anak hanya ingin berbagi, orang tua bisa mendengar tanpa langsung menyusun solusi.
Empat respons sesuai kebutuhan anak
Jika anak sudah siap memilih: “Kamu sudah mempertimbangkan keduanya. Ibu percaya kamu bisa memilih. Kalau perlu, kita cek lagi jadwalnya.”
Jika anak meminta sudut pandang: “Menurut Ayah, kegiatan pertama lebih cocok dengan jadwalmu sekarang. Tapi Ayah ingin tahu, mana yang paling ingin kamu coba?”
Jika pilihan memiliki risiko atau batas keluarga: “Kamu boleh punya pendapat. Untuk keputusan ini, kita perlu mempertimbangkan keamanan, biaya, dan jadwal keluarga bersama.”
Jika anak belum tahu apa yang diinginkan: “Tidak apa-apa kalau belum yakin. Kita cari informasi dulu, lalu kamu bisa memikirkannya.”
Respons tersebut tetap memberi ruang pada anak, tetapi tidak memutus percakapan. UNICEF menyarankan orang tua mendengarkan secara aktif, menggunakan bahasa yang jelas, dan menunjukkan bahwa ide anak penting. Lihat panduan komunikasi efektif UNICEF.
Kapan “terserah kamu” dapat membantu?
Jawaban singkat itu bisa tepat jika anak sudah memiliki informasi, keputusan berisiko rendah, dan memang ingin memilih sendiri. Misalnya, anak bertanya apakah akan memakai buku catatan biru atau hijau. Orang tua dapat berkata, “Kamu boleh pilih yang kamu suka.” Dengan begitu, anak berlatih menentukan preferensi tanpa membutuhkan penjelasan panjang.
Namun, hindari memakai “terserah” ketika anak sedang meminta dukungan untuk hal yang penting baginya. Jika ia bertanya tentang konflik dengan teman, rasa takut mengikuti lomba, atau perubahan sekolah, jawaban itu bisa terasa seperti menutup pintu. Dengarkan dulu: “Kamu ingin Ibu membantu memikirkan pilihan, ya?” Kalimat sederhana ini membantu memastikan jenis dukungan yang dibutuhkan.
Jangan mengubah semua pertanyaan menjadi ujian
Orang tua kadang menjawab dengan rentetan pertanyaan: “Kamu pikir apa? Kenapa tanya Ibu? Kamu sendiri maunya apa?” Pertanyaan reflektif dapat membantu, tetapi bila datang terlalu cepat atau bernada menguji, anak mungkin merasa sedang diperiksa. Mulailah dengan satu pertanyaan yang terbuka, lalu beri waktu. Anak tidak harus menghasilkan alasan yang sempurna untuk setiap pilihan.
Jika anak meminta pendapat tentang sesuatu yang orang tua belum ketahui, jujur saja. “Ayah belum tahu cukup banyak tentang kegiatan itu. Kita bisa cari informasi dari guru atau pelatih.” Ketidaktahuan tidak membuat orang tua kehilangan peran. Justru anak melihat cara mencari informasi dan menunda keputusan sampai pertimbangannya lebih lengkap.
Usia mengubah jenis pendampingan
Anak usia 5–7 tahun biasanya membutuhkan pilihan terbatas dan konkret. Anak 8–10 tahun dapat diajak membandingkan dua hal sederhana, seperti waktu latihan dan pekerjaan rumah. Anak usia 11–12 tahun bisa dilibatkan dalam pertimbangan yang lebih kompleks, termasuk prioritas dan konsekuensi. Tetap perhatikan kesiapan masing-masing anak; angka usia bukan ukuran tunggal kemampuan mengambil keputusan.
Jika keputusan berhubungan dengan kesehatan, keamanan, uang dalam jumlah besar, atau komitmen keluarga, orang tua tetap memegang tanggung jawab akhir sesuai perannya. Jelaskan alasan tanpa mengecilkan pendapat anak. “Ibu mengerti kamu ingin pergi sendiri. Untuk perjalanan ini, kita perlu orang dewasa mendampingi karena rutenya ramai.”
Bangun kebiasaan berdiskusi, bukan sekadar memberi jawaban
Luangkan waktu untuk membicarakan pilihan sehari-hari ketika tidak sedang terburu-buru. Ajak anak menyusun jadwal akhir pekan, memilih buku untuk dibaca, atau menentukan urutan tugas. Tanyakan apakah ia ingin didengar, diberi saran, atau dibantu mengambil keputusan. Kebiasaan ini membuat anak memahami bahwa meminta pendapat bukan kelemahan, dan menerima saran bukan berarti kehilangan hak memilih.
Orang tua dapat memperdalam pendekatan melalui mendengarkan anak tanpa langsung memberi nasihat, menghargai pendapat sesuai usia, dan membangun keberanian anak untuk bercerita.
Memberi pilihan juga berarti bersedia hadir
Anak akan belajar mengambil keputusan melalui kesempatan yang aman, informasi yang cukup, dan ruang untuk mengevaluasi hasil. Orang tua tidak harus selalu menjawab dengan benar. Namun, ketika anak datang meminta pendapat, respons yang paling berguna sering kali bukan “terserah kamu”, melainkan kesediaan untuk mendengar, membantu mempertimbangkan, lalu menghormati keputusan yang memang dapat dibuat anak.
Tanyakan dukungan seperti apa yang sedang dicari anak
Kalimat “Terserah kamu” kadang muncul karena orang tua tidak tahu apakah anak menginginkan saran atau hanya ingin didengarkan. Daripada menebak, tanyakan, “Kamu ingin Ayah memberi pendapat, membantu membandingkan pilihan, atau mendengarkan dulu?” Pertanyaan ini mengajarkan anak mengenali kebutuhan komunikasinya sendiri. Ia juga membantu orang tua tidak terburu-buru mengambil alih.
Jika orang tua memberi pendapat, beri alasan tanpa mengubahnya menjadi perintah. “Ibu memilih opsi ini karena jadwalnya lebih sesuai. Tapi kalau kamu punya alasan lain, ceritakan.” Setelah berdiskusi, jelaskan bagian keputusan yang menjadi tanggung jawab anak dan bagian yang tetap menjadi tanggung jawab orang tua. Kejelasan ini penting terutama untuk keputusan yang berkaitan dengan keselamatan, anggaran, atau komitmen keluarga.
Pisahkan keputusan kecil, keputusan bersama, dan keputusan orang dewasa
Tidak semua pilihan harus diperlakukan sama. Anak dapat memilih warna buku catatan sendiri. Pilihan ekstrakurikuler mungkin membutuhkan diskusi tentang minat, jadwal, biaya, dan komitmen keluarga. Keputusan tentang keselamatan, perawatan kesehatan, atau aturan dasar rumah tetap menjadi tanggung jawab orang dewasa, meskipun anak layak didengar. Menjelaskan kategori ini membantu anak memahami mengapa sebagian keputusan dapat ia buat sendiri dan sebagian perlu dibicarakan bersama.
Jika orang tua akhirnya harus menentukan keputusan, jelaskan bagian pendapat anak yang sudah dipertimbangkan. “Ibu tahu kamu ingin berangkat bersama teman. Untuk saat ini, Ibu tetap menjemput karena rutenya belum aman. Kita bisa meninjau lagi setelah ada rencana perjalanan yang jelas.” Anak mungkin kecewa, tetapi ia melihat bahwa pendapatnya didengar dan keputusan orang tua memiliki alasan yang dapat dibicarakan.
Jika anak meminta pendapat, tetapi orang tua belum punya jawaban
Orang tua tidak harus selalu memiliki solusi. Katakan, “Ibu belum tahu cukup banyak untuk memberi saran. Kita cari informasi bersama.” Jika anak sedang membicarakan pilihan sekolah atau kegiatan, orang tua dapat membantu mengumpulkan pertanyaan yang perlu dijawab sebelum menentukan keputusan. Cara ini lebih mendukung daripada menjawab “terserah” hanya karena merasa tidak siap.
Setelah diskusi, beri anak waktu untuk berpikir. Jangan menuntut keputusan langsung hanya karena percakapan sudah dilakukan. Anak dapat kembali dengan pertanyaan baru atau berubah pikiran setelah mendapat informasi tambahan. Sikap terbuka orang tua membantu anak melihat bahwa mengambil keputusan adalah proses menimbang, bukan menebak jawaban yang akan disukai orang dewasa.









