Seorang anak bercerita bahwa temannya tidak mengajaknya bermain. Orang tua yang mendengar mungkin spontan berkata, “Tidak usah dipikirkan, besok juga punya teman baru.” Kalimat itu bermaksud menghibur, tetapi anak belum tentu merasa dipahami. Ia mungkin masih ingin menjelaskan apa yang terjadi, mengapa kejadian itu membuatnya sedih, atau apa yang sebenarnya ia harapkan dari orang tuanya.
Di sinilah anak belajar tentang empati bukan hanya dari nasihat, melainkan dari cara orang dewasa memperlakukannya. Ketika orang tua bersedia mendengar sampai selesai, mengakui perasaan, dan tetap menghormati perbedaan pandangan, anak memperoleh contoh nyata tentang bagaimana memperlakukan orang lain. Mengajarkan empati kepada anak karena itu tidak selalu dimulai dengan meminta anak berbagi mainan atau menolong teman. Kebiasaan sederhana di rumah—memberi ruang bagi cerita dan mendengarkan tanpa merendahkan—juga merupakan bagian penting dari teladan tersebut.
Contoh situasi di atas adalah ilustrasi, bukan kisah keluarga tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, percakapan mungkin berlangsung lebih singkat, kadang terputus karena pekerjaan rumah, dan tidak selalu berakhir dengan kesepakatan. Yang dapat dilatih adalah sikap untuk kembali mendengarkan dan berusaha memahami.
Empati terlihat dari cara kita memperlakukan perasaan orang lain
Empati adalah kemampuan mencoba memahami pengalaman atau perasaan orang lain tanpa menganggap pengalaman itu harus sama dengan pengalaman kita. Anak yang berempati tidak harus selalu setuju dengan temannya. Ia belajar memperhatikan bahwa orang lain bisa mempunyai kebutuhan, pikiran, dan batas yang berbeda.
Orang tua dapat menjelaskan empati melalui contoh yang dekat. “Adik kecewa karena bangunannya roboh. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan supaya ia merasa dibantu?” Pertanyaan itu mengajak anak memikirkan keadaan orang lain. Namun, contoh paling kuat justru muncul ketika orang tua melakukan hal serupa kepadanya: tidak menertawakan tangisnya, tidak buru-buru menyimpulkan, dan tidak memaksa ia segera memaafkan seseorang.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan semua perilaku. Orang tua tetap dapat mengatakan bahwa memukul, menghina, atau merusak barang tidak boleh dilakukan. Bedakan emosi dari tindakan: rasa marah dapat dipahami, sementara tindakan menyakiti tetap perlu dihentikan. Anak belajar bahwa menghormati perasaan orang lain dapat berjalan bersama batas yang jelas.
Empat teladan kecil yang bisa dilihat anak setiap hari
1. Biarkan orang lain menyelesaikan kalimatnya
Ketika anak mulai bercerita, tahan keinginan menyelesaikan kalimatnya atau menebak akhir cerita. Beri jeda beberapa detik. Bila ia berhenti, orang tua dapat menunggu atau bertanya, “Kamu masih ingin cerita?” Kebiasaan yang sama dapat ditunjukkan saat berbicara dengan pasangan, kakek-nenek, saudara, atau orang yang sedang membantu keluarga.
Anak juga perlu melihat bahwa giliran bicara berlaku bagi semua orang. Orang tua dapat berkata, “Sebentar, Ayah ingin mendengar Ibu menyelesaikan ceritanya dulu. Setelah itu kita dengarkan kamu.” Ini bukan berarti suara anak tidak penting. Ini menunjukkan bahwa percakapan membutuhkan ruang bagi setiap orang.
2. Cerminkan isi cerita sebelum menawarkan pendapat
Sesekali ulangi inti yang didengar dengan kata-kata sendiri. “Jadi, kamu kesal karena sudah menunggu lama, tetapi giliranmu belum datang.” Anak dapat membenarkan atau mengoreksi. Cara ini membuat orang tua tidak hanya menunggu kesempatan untuk memberi nasihat, tetapi sungguh-sungguh memeriksa apakah ia memahami maksud anak.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lembaga kesehatan masyarakat Amerika Serikat, menjelaskan bahwa mendengarkan aktif pada anak kecil dapat dilakukan dengan memberikan perhatian penuh, mengulang inti ucapan, dan mencerminkan perasaan yang tampak. Rekomendasi untuk balita dan anak prasekolah ini bukan rumus yang harus diterapkan secara kaku pada semua usia. Prinsip dasarnya—memastikan pemahaman sebelum merespons—dapat disesuaikan dengan anak yang lebih besar melalui panduan CDC tentang komunikasi dan mendengarkan aktif.
3. Akui perasaan tanpa mengambil alih cerita
Kalimat seperti “Kedengarannya kamu kecewa” atau “Sepertinya tadi kamu merasa tidak dianggap” bisa menjadi awal yang baik. Tambahkan ruang untuk dikoreksi: “Apakah Ayah menangkapnya dengan tepat?” Jangan mengatakan “Kamu pasti iri” atau “Kamu sebenarnya marah” seolah orang tua mengetahui isi hati anak dengan pasti.
UNICEF Indonesia dalam 11 kiat berkomunikasi dengan remaja menjelaskan pentingnya mendengarkan secara aktif, tidak menghakimi, dan tetap menghormati pandangan anak meskipun berbeda dari pandangan orang tua. Prinsip tersebut sangat berguna saat anak mulai mempunyai pendapat sendiri.
4. Tunjukkan bahwa orang dewasa juga bisa meminta maaf
Jika orang tua menyela, salah memahami, atau menertawakan cerita anak, akui kesalahan secara spesifik. “Tadi Ibu memotong pembicaraanmu. Maaf, coba lanjutkan.” Hindari permintaan maaf yang diikuti pembelaan panjang seperti, “Ibu begitu karena kamu dari tadi berputar-putar.” Anak belajar bahwa memperbaiki hubungan lebih penting daripada mempertahankan gengsi.
Contoh tersebut tidak membuat orang tua kehilangan wibawa. Justru anak melihat bahwa menghormati orang lain berlaku bagi orang dewasa, bukan hanya tuntutan bagi anak. Orang tua tetap boleh menetapkan aturan, tetapi tidak perlu berpura-pura selalu benar.
Empati tidak sama dengan selalu mengalah
Ada kemungkinan anak bercerita sambil menuduh temannya, menolak berbagi, atau meminta orang tua segera menghukum saudaranya. Tugas orang tua bukan menerima seluruh kesimpulan secara otomatis. Dengarkan lebih dahulu, lalu bantu memisahkan hal yang diketahui, hal yang dirasakan, dan dugaan tentang niat orang lain.
- Hal yang diketahui: “Kakak mengambil pensil dari meja.”
- Perasaan anak: “Kamu kesal karena belum selesai memakainya.”
- Hal yang belum diketahui: “Kita belum tahu apakah Kakak tahu pensil itu sedang kamu gunakan.”
Setelah itu, orang tua bisa membantu anak menyampaikan keberatan tanpa menyerang. “Aku masih memakai pensil itu. Tolong kembalikan setelah selesai.” Empati membantu memahami pihak lain, bukan menghapus hak anak untuk berkata tidak atau melindungi barang dan tubuhnya.
Jika orang tua ingin mempraktikkan cara menerima perasaan anak tanpa membenarkan tindakan yang keliru, pembahasan dapat dilanjutkan melalui panduan mendengarkan perasaan anak tanpa menghakimi.
Sesuaikan teladan dengan usia dan cara komunikasi anak
Anak yang masih kecil mungkin belum sanggup menjelaskan perasaan secara rinci. Orang tua dapat menggunakan kalimat singkat, menunjuk ekspresi, atau menawarkan pilihan sederhana: “Kamu sedih atau kesal?” Beri kesempatan anak menjawab dengan kata, gerakan, gambar, atau cara komunikasi lain yang biasa ia gunakan.
Pada usia sekolah, anak mulai bisa diajak membahas sudut pandang beberapa orang. Misalnya, “Menurutmu, apa yang mungkin dirasakan temanmu ketika mainannya dipinjam tanpa izin?” Hindari menjadikan pertanyaan sebagai ujian moral. Lebih baik ajak anak membayangkan beberapa kemungkinan, lalu bandingkan dengan informasi yang benar-benar diketahui.
Remaja mungkin tidak selalu ingin berbicara saat orang tua menghendaki. Hormati kebutuhan privasinya sambil tetap menyediakan waktu dan jalur untuk meminta bantuan. Kadang percakapan lebih mudah terjadi ketika berjalan, berkendara bersama, atau melakukan pekerjaan ringan daripada duduk berhadapan. Responsif tidak berarti menuntut anak menceritakan semuanya.
Latihan keluarga: satu percakapan tanpa buru-buru memberi solusi
Pilih satu kesempatan sehari ketika anak bercerita tentang hal yang ia anggap penting. Orang tua dapat mencoba urutan sederhana berikut, tetapi tidak perlu menjadikannya naskah yang harus dihafalkan:
- Letakkan pekerjaan atau gawai sebentar bila memungkinkan.
- Dengarkan sampai anak menyelesaikan bagian yang ingin ia sampaikan.
- Ulangi inti cerita untuk memastikan pemahaman.
- Tanyakan apakah ia ingin didengarkan, ditemani, atau dibantu mencari jalan keluar.
- Jika perlu, bicarakan batas dan tindakan setelah anak merasa didengar.
Interaksi responsif yang berlangsung bolak-balik antara anak dan orang dewasa dikenal dalam materi Harvard Center on the Developing Child sebagai serve and return, yaitu anak memberi isyarat atau respons dan orang dewasa menanggapinya dengan perhatian. Penjelasan Harvard terutama membahas interaksi awal anak dan pengasuh serta kaitannya dengan perkembangan. Ini bukan jaminan bahwa satu percakapan akan menghasilkan perubahan tertentu, tetapi memberi gambaran mengapa respons yang peka dan berulang penting dalam hubungan sehari-hari. Baca penjelasan Harvard tentang interaksi serve and return.
Ketika anak belum menunjukkan empati seperti yang diharapkan
Jangan langsung memberi label egois atau tidak punya empati hanya karena anak tidak segera menghibur temannya. Ia mungkin belum mengerti apa yang terjadi, sedang kewalahan, merasa ikut terancam, atau belum tahu tindakan yang dapat dilakukan. Orang tua dapat membantu dengan contoh konkret, bukan mempermalukan anak di depan orang lain.
Jika anak menyakiti seseorang, utamakan keselamatan dan hentikan tindakan tersebut. Setelah situasi tenang, ajak ia memahami dampak perbuatannya dan menentukan cara memperbaiki keadaan. Permintaan maaf dapat menjadi bagian dari perbaikan, tetapi jangan memaksa ucapan kosong tanpa membantu anak memahami apa yang perlu diperbaiki.
Apabila kesulitan komunikasi atau perilaku sosial berlangsung lama dan mengganggu kehidupan anak di rumah maupun sekolah, orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional yang relevan. Pengamatan dari banyak situasi lebih bermanfaat daripada menyimpulkan karakter anak dari satu kejadian.
Empati tumbuh dari hubungan yang saling menghormati
Anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu mempunyai jawaban sempurna. Ia membutuhkan pengalaman bahwa ceritanya diperhatikan, perasaannya tidak ditertawakan, dan kesalahan dapat dibicarakan tanpa penghinaan. Dari pengalaman seperti itu, orang tua dapat menunjukkan bahwa mendengarkan adalah tindakan menghormati orang lain.
Mulailah dari hal yang realistis: jangan memotong cerita, periksa apakah kita sudah memahami, akui bila salah menangkap, dan tetap berikan batas pada perilaku yang menyakiti. Ketika anak melihat pola ini berulang dalam hubungan keluarga, ia memiliki contoh nyata untuk belajar mendengarkan orang lain dengan lebih peka. Empati bukan hasil dari satu ceramah, melainkan keterampilan yang diasah melalui banyak interaksi kecil.
Orang tua juga dapat mengembangkan kebiasaan tersebut melalui panduan mendengarkan anak agar berani bercerita dan bacaan tentang peran ayah ketika mendengarkan cerita anak. Kedua topik ini melengkapi latihan empati dari sisi kebiasaan komunikasi keluarga.









